Rasulullah memasuki kota Madinah pada bulan Rabi’ul Awal dan menetap di sana. Lalu kaum Anshar yang merupakan penduduk asli kota Madinah berbondong-bondong masuk Islam sehingga tidak tersisa satu rumah pun melainkan penghuninya telah memeluk Islam. Kecuali beberapa kabilah seperti Khatmah, Waqif, Wail dan Umayyah, mereka adalah kabilah dari suku Aus. Mereka tetap bersikeras di atas kemusyrikan. Setelah membangu Masjid dan mempersaudarakan kaum muhajirin dan Anshor, langkah beliau berikutnya adalah menetapkan point-point perjanjian damai terhadap seluruh penduduk madinah. Dimana penduduk madinah terdiri dari tiga macam, kaum muslimin, kaum yahudi dan orang-orang Madinah yang masih menyembah berhala.

Sebelum penetapan perjanjian damai tersebut, Rosululloh menyampaikan beberapa khutbahnya. Khutbah pertama yang disampaikan oleh Rasulullah di Madinah-menurut riwayat dari Abu Salamah bin Abdurrahman -adalah beliau berdiri di hadapan mereka lalu mengucapkan hamdalah dan memuji Allah Ta’ala kemudian berkata, “Amma ba’du, wahai sekalian manusia, persiapkanlah bekal untuk dirimu kelak. Demi Allah ketahuilah bahwa masing-masing kalian akan dikejutkan dengan kematian hingga ia meninggalkan kambing-kambingnya tanpa penggembala. Kemudian Allah akan berbicara kepadanya tanpa melalui penerjemah dan tanpa penghalang, “Bukankah rasul-Ku telah datang kepadamu dan menyampaikannya kepadamu? Bukankah Aku telah mencurahkan harta kepadamu dan Aku lebihkan bagimu? Lalu apa yang telah engkau lakukan untuk bekal dirimu?” Ia menoleh ke kanan dan ke kiri namun ia tidak melihat apapun. Lalu ia melihat ke depan namun yang terlihat olehnya hanyalah Neraka jahannam. Maka barangsiapa dapat menjaga wajahnya dari api Neraka meskipun dengan sebiji kurma hendaklah ia lakukan. Bagi yang tidak punya maka cukup dengan perkataan yang baik.

Karena setiap kebaikan akan dilipatganda-kan pahalanya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat.” As-Salaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Sementara itu Dalam kesempatan berikutnya Rasulullah berkhutbah, yang isinya “Segala puji hanyalah milik Allah semata, saya memujiNya, memohon pertolongan kepadaNya dan berlindung kepadaNya dari keburukan diri kami dan dari kejelekan amal kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah niscaya tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya niscaya tidak ada satu pun yang dapat memberinya hidayah. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagiNya. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sungguh beruntunglah orang yang Allah hiasi hatinya dengan Kitabullah dan memasukkannya ke dalam Islam setelah kekafirannya serta lebih memilih Kitabullah daripada perkataan-perkataan manusia. Karena sesungguhnya Kitabullah adalah sebaik-baik dan seindah-indah perkataan. Cintailah apa yang dicintai Allah dan cintailah Allah dengan sepe-nuh hati kalian, janganlah kalian bosan membaca Kalamullah dan dzikrullah. Dan janganlah sampai hati kalian mengeras, karena Allah akan memilih dan mengistimewakan dari setiap apa yang telah dicipta-kanNya. Allah telah menamakannya sebagai amal yang terpilih dan terbaik {Yaitu Allah telah menamakan dzikir dan tilawah Al-Qur’an sebagai amal-amal pilihan yang terbaik, dalilnya firman Allah:

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (Al-Qashash: 68)}

Dan mengistimewakan sebagian hambaNya {Yaitu Allah menamai sebagian hambaNya dengan Mushthafa (hamba pilihan)}. Cintailah perkataan yang baik dan cintai juga perkara halal dan haram yang telah ditetapkan bagi kalian. Sembahlah Allah semata janganlah berbuat syirik kepada-Nya. Bertakwalah dengan sebenar-benar takwa. Jujurlah karena Allah dalam bertutur kata. Dan hendaklah kalian saling mencintai karena Allah. sesungguhnya Allah pasti marah bila perjanjianNya dilanggar.” Was salamu ‘alaikum.

Pembaca yang budiman, selain itu Rasulullah juga menulis sebuah piagam buat kaum Muhajirin dan Anshar berisi perjanjian damai dengan kaum Yahudi di Madinah, Rasulullah membiarkan mereka tetap memeluk agama mereka dan tidak mengusik harta benda mereka.

Rasulullah menetapkan beberapa persyaratan kepada mereka, beliau menulis sebagai berikut, Bismillahirrahmanirrahim, Ini adalah kitab yang ditulis oleh Muhammad Nabiyullah buat kaum mukminin, muslimin dari kalangan Quraisy dan Yatsrib, orang-orang yang mengikuti dan menyertai mereka serta berjuang bersama mereka. Bahwa mereka adalah umat yang satu. Kaum Muhajirin Quraisy tetap sebagaimana status mereka dahulu (Yakni status sebelum masuk Islam), saling bantu-membantu dalam membayar diyat di antara mereka serta menebus saudara mereka yang tertawan dengan cara yang ma’ruf dan adil terhadap kaum mukminin.

Kemudian beliau Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam menyebutkan satu persatu nama kabilah di Madinah, dan menyerukahn hal yang sama, yaitu “mereka sebagaimana status me-reka dahulu saling bantu membantu dalam membayar diyat sebagaimana dahulu, setiap kelompok menebus saudara mereka yang tertawan dengan cara yang ma’ruf dan adil terhadap kaum mukminin”.

Lalu beliau Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam  melanjutkan sabdanya mengenai kaum muslimin, “Sesungguhnya kaum mukminin tidak membiarkan saudaranya terlilit utang dan tanggungan yang berat dengan memberikan secara ma’ruf bantuan kepadanya dalam membayar tebusan ataupun diyat. Dan tidak mengikat perjanjian dan transaksi apapun terhadap budak saudaranya sesama mukmin tanpa sepengetahuannya. Sesungguhnya kaum mukminin mencegah saudaranya yang berbuat jahat atau hendak berbuat zhalim, dosa, pelanggaran dan kerusakan di tengah mereka. Mereka semua saling bahu-membahu dalam mengatasinya. Meskipun pelakunya adalah anak salah seorang dari mereka. Seorang mukmin tidak boleh membunuh saudaranya sesama mukmin karena tuntutan qishash orang kafir dan tidak boleh menolong orang kafir atas kaum mukminin. Sesungguhnya perlindungan Allah itu berlaku untuk semua lapisan kaum mukminin. Allah melindungi orang yang dilindungi seorang mukmin walaupun derajatnya rendah. Sesungguhnya kaum mukminin saling melindungi satu sama lainnya terhadap orang lain.

Kemudian mengenai orang yahudi dan orang yang diluar agama islam, beliau Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Dan bahwasanya siapa saja yang mengikuti kami dari kalangan Yahudi maka ia berhak mendapat pembelaan dan patut dilindungi, tidak akan dizhalimi, tidak akan dibiarkan jika ada orang yang memerangi mereka. Dan sesungguhnya perdamaian yang dilakukan oleh setiap kaum mukminin itu sama statusnya. Seorang mukmin tidak boleh mengadakan perdamaian dengan orang kafir di medan pertempuran fi sabilillah kecuali dengan persyaratan yang adil dan sama rata.

Setiap pejuang yang turut berperang bersama kaum muslimin harus saling bahu membahu sesama mereka. Sesungguhnya setiap kaum mukminin harus menuntut balas atas darah saudaranya yang ditumpahkan fi sabilillah. Sesungguhnya kaum mukminin muttaqin berada di atas petunjuk yang terbaik dan paling lurus. Dan sesungguhnya seorang musyrik tidak berhak melindungi harta dan jiwa kaum Quraisy. Dan tidak dapat menghalangi kaum mukminin terhadapnya. Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin tanpa hak maka dia harus menanggung hukumannya (qishash) kecuali dimaafkan oleh wali yang terbunuh(maka ia harus membayar diyat). Dan seluruh kaum mukminin harus menuntutnya dan tidak halal bagi mereka kecuali mengajukan tuntutan.

Bukan hanya itu, Rosululloh juga memperingatkan para pelaku bid’ah, dengan sabdanya, “Dan sesungguhnya tidak halal bagi setiap mukmin yang menyetujui perjanjian ini dan beriman kepada Allah dan rasulNya serta hari Akhirat untuk membantu atau melindungi pelaku bid’ah. Dan barangsiapa menolong atau melindunginya maka atasnya laknat Allah dan kemurkaanNya pada hari Kiamat. Tidak akan diterima tebusan atau ganti apapun darinya pada Hari Kiamat nanti. Dan apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan RasulNya.”

Kemudian khusus bagi kaum Yahudi, Rosululloh bersabda, “Sesungguhnya kaum Yahudi harus selalu memberikan bantuan materi kepada kaum mukminin untuk berperang. Sesungguhnya Yahudi Bani ‘Auf adalah umat yang satu bersama kaum mukminin, kaum Yahudi bebas menjalankan agama mereka dan kaum muslimin juga bebas menjalankan agama mereka, demikian pula dalam urusan budak dan pribadi mereka. Kecuali orang-orang yang berbuat zhalim atau berbuat dosa maka sesungguhnya ia hanyalah membinasakan diri dan hartanya sendiri. Demikian pula perjanjian ini berlaku juga buat: Yahudi Bani Najjar. Yahudi Banil Harits. Yahudi Bani Saa’idah. Yahudi Bani Jusyam. Yahudi Banil Aus. Yahudi Bani Tsa’labah. Kecuali orang-orang yang berbuat zhalim atau berbuat dosa maka sesungguhnya ia hanyalah membinasakan diri dan hartanya sendiri. Dan sesungguhnya suku Jafnah adalah salah satu suku dari kabilah Tsa’labah sama statusnya seperti mereka. Demikian pula Bani Asy-Syuthaibah statusnya sama seperti Yahudi Bani ‘Auf. Sesungguhnya kebaikan dan kesetiaan itu harus menjadi penghalang berbuat dosa. Dan sesungguhnya budak-budak Bani Tsa’labah sama statusnya dengan tuannya. Dan bithanah (orang-orang dekat) Yahudi sama statusnya dengan mereka.

Kemudian diakhir piagam tersebut, Rosululloh menegaskan dengan sabdanya, “Tidak ada seorang pun yang terlepas dari perjanjian ini kecuali dengan seizin Nabi kemudian terus mempertegas piagaam atau perjanjian ini kepada kaum Yahudi hingga sabda beliau “Dan sesungguhnya perjanjian ini tidaklah melindungi orang-orang zhalim atau jahat. Setiap orang bebas keluar masuk Madinah kecuali orang-orang yang zhalim dan jahat. Sesungguhnya Allah melindungi orang-orang yang berbuat baik dan bertakwa.” Wallohu a’lam

%d blogger menyukai ini: