Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Fahmi Salim mengkritisi rencana Kementrian Agama yang kabarnya akan menghapus materi perang dari kurikulum Madrasah. Menurut Fahmi, kejayaan Islam yang diperoleh pada zaman keemasan, tentunya tidak bisa dilepaskan dari kekuatan militernya yang melindungi umat Islam.

Fahmi mempertanyakan apakah kejayaan Islam hanya diukur dengan indikator iptek dan ekonomi, tanpa memperhatikan aspek futuhat islamiyah, yakni penaklukan negeri-negeri, sehingga mereka masuk ke dalam naungan cahaya Islam.

Menurutnya, semua bangsa dan peradaban dunia bangga dengan kekuatan militernya dan strategi cegah tangkal terhadap ancaman dari luar. Namun mengapa di negeri ini malah akan menghapus materi sejarah penaklukan Islam. Di mana dan bagaimana bisa masa kejayaan Islam itu dapat dihadirkan secara utuh kepada peserta didik.

Menurut Fahmi, Kemenag bisa menjelaskan tujuan perang jihad dalam ajaran Islam yang sahih bersumber dari Al- Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW dan empat khalifah Islam yang pertama.

Fahmi pun mengutip kisah sahabat Rasulullah yang bernama Saad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Kami dahulu mengajarkan kepada anak-anak kami sejarah peperangan Nabi seperti kami mengajarkan mereka bacaan Qur’an”.

Sebelumnya, Kemenag menyatakan tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Madrasah. Hal itu diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020. (kiblat.net/admin)

%d blogger menyukai ini: