India dilanda gelombang unjuk rasa setelah pemerintahan nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi mengesahkan Undang-Undang tersebut yang dianggap diskriminatif kepada Muslim. Padahal, sebanyak 14 persen populasi India merupakan Muslim.

Korban tidak hanya jatuh dari pihak yang mengikuti demonstrasi. Tercatat ada lima korban yang menjadi sasaran salah tembak, dimana kelimanya tidak terlibat dalam demonstrasi.  Semua keluarga dari orang yang meninggal mengatakan mereka ditembak oleh polisi saat terjadi demonstasi. Namun polisi mengklaim, mereka hanya mengeluarkan gas air mata dan melepaskan tembakan hanya untuk mengendalikan massa, bukan untuk membunuh.

Mengenai korban meninggal dalam unjuk rasa tersebut, polisi menduga penembakan dilakukan oleh peserta aksi demo yang membawa senjata. Terkait dugaan ini, polisi masih menyelidikinya.

Namun ketidakpercayaan dan kemarahan Muslim di daerah di mana pembunuhan itu terjadi semakin mendalam terhadap aparat keamanan. Hingga kemudian bentrokan terjadi di sekitar Losari Gate usai shalat Jumat pada 20 Desember lalu. Menurut warga setempat, polisi telah dengan sengaja merusak CCTV sebelum bentrokan itu terjadi.

Polisi menindak demonstrasi yang telah menyebar di India. Di Meerut, negara bagian Uttar Pradesh terdapat kekerasan terburuk. Setidaknya 19 dari 25 kematian terjadi di sana. Uttar Pradesh merupakan wilayah terpadat di India dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta orang. Menurut seorang pendeta Hindu, di wilayah tersebut memang memiliki sejarah bentrokan Hindu-Muslim yang parah. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: