Di antara kesalahan adab dan perilaku yang sangat menyebar di masyarakat kita adalah makan dan minum dengan tangan kiri. Bahkan, kesalahan ini tidak hanya dipraktikkan oleh orang tua, tetapi juga telah menimpa kaula muda. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka terhadap masalah ini. Di samping itu, banyak iklan minuman dan makanan yang ada di media baik cetak maupun elektronik yang menampilkan orang yang makan dan minum dengan tangan kiri. Bahkan, iklan-iklan ini terpampang bebas di jalan-jalan dalam baliho yang besar. Wallohu al-Musta’an.

Lalu, bagaimana pandangan Islam terkait makan dan minum dengan tangan kiri?

 

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 45/294 disebutkan bahwa makan dan minum dengan tangan kiri tanpa udzur, maka dalam masalah ini, para ulama memiliki dua pendapat:

Pertama, hukumnya makruh. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah.

صَرَّحَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِأَنَّهُ يُكْرَهُ الأْكْل وَالشُّرْبُ بِالشِّمَال بِلاَ ضَرُورَةٍ

“Syafi’iyyah dan Hanabilah menegaskan bahwa makruh hukumnya makan dan minum dengan tangan kiri ketika tidak dalam keadaan darurat.” Diantara ulama masa kini yang menguatkan pendapat ini adalah Syaikh Sholih Alu Asy Syaikh dan Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhahumallah. Mereka memaknai dalil-dalil larangan makan dan minum sebagai larangan yang sifatnya bimbingan yang tidak sampai haram, namun makruh lit tanzih. Hal ini ditunjukkan dalam sabda Nabi bersabda:

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُل بِيَمِينِكَ، وَكُل مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Bukhori)

Kedua, hukumnya haram. Ini adalah pendapat para ulama muhaqiqqin seperi Ibnu Hajar Al- Asqolani, Ibnul Qayyim, Ibnu ‘Abdil Barr, Imam ash-Shan’ani, Imam asy-Syaukani, dan juga para ulama besar zaman ini seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Mereka berdalil dengan hadis Ibnu Umar :

إذا أَكَلَ أحدُكُم فليأكلْ بيمينِهِ. وإذا شرِبَ فليشربْ بيمينِهِ. فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بشمالِهِ ويشربُ بشمالِهِ

“jika seseorang dari kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)

Dalam hadis ini terdapat dua poin: perintah makan dengan tangan kanan dan larangan makan dengan tangan kiri.

Pendapat kedua adalah pendapat yang rajih, yang sesuai dengan dalil-dalil yang tegas memerintahkan makan dengan tangan kanan ditambah lagi dalil-dalil yang tegas.

Adapun makan dan minum dengan tangan kiri ketika ada udzur, maka hukumnya boleh. Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin mengatakan, “Makan dan minum dengan tangan kiri ketika ada udzur hukumnya tidak mengapa, adapun jika tanpa udzur maka haram.”

Dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah (6/119) juga disebutkan, “Jika ada udzur yang menghalangi seseorang untuk makan atau minum dengan tangan kanan, semisal karena sakit atau luka atau semisalnya maka tidak makruh menggunakan tangan kanan.”

 

Sebagian orang ada yang beralasan “Bukankah sebagian ulama hanya memakruhkan, tidak mengharamkan?”

Berkaitan dengan hal ini, Syeikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata, “Sebagian ulama memang berpendapat makruh. Namun, wahai saudaraku, saya nasehatkan Anda dan yang lainnya, ketika Nabi bersabda, ‘janganlah Anda mengatakan ‘bukankah sebagian ulama berpendapat begini dan begitu?‘. Para ulama berfatwa sesuai pemahaman mereka. Terkadang mereka mengetahui dalilnya, namun salah dalam memahaminya. Dan terkadang mereka tidak mengetahui dalilnya, dan terkadang dalil dalam suatu masalah itu khofiy (samar).

Bukankah para sahabat Nabi pernah tidak mengetahui hadis tentang tha’un? Ketika Umar bin Khathab berangkat menuju Syam, ada yang mengabari beliau bahwa di Syam sedang ada tha’un (wabah penyakit). Lalu beliau berdiri dan bermusyawarah dengan para sahabat. Lalu datang juga kaum Muhajirin dan Anshar yang turut berdiskusi dalam ruangan. Mereka semua ketika itu tidak tahu tenatng hadis tha’un! Namun walhamdulillah, Allah memberi taufiq kepada mereka untuk kembali dan tidak melanjutkan perjalanan. Yaitu melalui Abdurrahman bin Auf yang meriwayatkan hadis tersebut, yang awalnya ia tidak hadir di rombongan. Namun kemudian ia datang dan menyampaikan hadis tersebut. Semua sahabat ketika itu tidak tahu hadisnya, dan padahal ketika itu jumlah mereka terbatas (sedikit).

Maka bagaimana lagi ketika umat sudah tersebar dan ulama juga sudah tersebar? Maka tidak semestinya kita menentang sabda Rosululloh dengan perkataan ‘apa dalam masalah ini ada khilaf?‘ atau ‘bukankah sebagian ulama berpendapat begini dan begitu?‘. Jika Rosululloh bersabda kepada kita:

لا يأكل أحدكم بشماله، ولا يشرب بشماله؛ فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله

“Janganlah kalian makan dan minum dengan tangan kiri karena setan makan dan minum dengan tangan kiri”

Maka selesailah urusannya. Jika seorang mukmin disuruh memilih, apakah Anda lebih suka dengan tuntunan Rosululloh ataukah lebih suka dengan jalannya setan? Apa jawabnya? Tentu akan menjawab, “Saya lebih suka dengan tuntunan Rosululloh .”

Selain itu, andaikan seseorang menguatkan pendapat makruhnya ini, maka yang makruh itu hendaknya dijauhi. Ketika para ulama mengatakan hukumnya makruh, maka mereka menginginkan orang-orang menjauhi hal tersebut, bukan malah melakukannya apalagi menjadikannya kebiasaan. Bukankah Rosululloh bersabda:

“Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas. Diantaranya ada yang syubhat, yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhi yang syubhat, ia telah menjaga kehormatan dan agamanya. Barangsiapa mendekati yang syubhat, sebagaimana pengembala di perbatasan. Hampir-hampir saja ia melewatinya” (HR. Bukhori Muslim)

 

Jadi, jelaslah bahwa makan dan minum dengan tangan kiri adalah perkara yang terlarang yang harus kita jauhi. Mari kita ajarkan kepada anak-anak kita untuk membiasakan makan dan minum dengan tangan, dan melarang keras mereka untuk makan dan minum dengan tangan kiri. Semoga Alloh senatiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Wallohu A’lam.

Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: