Selain Bilal bin Rabah yang mendapat siksaan pedih dari kafir Quraisy karena keislamannya, ‘Ammar bin Yasir maula Bani Makhzum dan keluarganya , juga mengalami hal serupa bahkan lebih buruk lagi. Ammar, ayahnya (Yasir) dan ibunya (Sumayyah) yang masuk Islam tak luput dari penganiayaan kaum musyrikin Quraisy.

Sampai pada suatu hari mereka diseret keluar menuju al-Abthah (suatu tempat di Mekkah) oleh kaum Musyrikin yang dipimpin oleh Abu Jahal. Saat itu suhu udara sangat panas dan menyengat. Maka dalam kondisi seperti itulah mereka menyiksa keluarga Yasir. Kemudain Ketika mereka sedang menjalani siksaan, Nabi melintas di hadapan mereka sembari bersabda: “Bersabarlah wahai Ali Yasir (keluarga besar Yasir)! Sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga“.

Dan benarlah apa yang disabdakan oleh Rosululloh , Yasir, ayah Ammar, gugur sebagai syuhada pertama dalam islam ketika siksaan tersebut menimpa tubuh lemahnya bertubi-tubi. Sedangkan ibunya, Sumayyah ditusuk oleh Abu Jahal dari arah qubulnya dengan tombak dan meninggal dunia seketika. Dia pulalah syahidah (wanita yang mati syahid) pertama dalam Islam. Setelah itu, kaum Musyrikin tersebut meningkatkan frekuensi siksaan mereka terhadap ‘Ammar, anak dari Yasir dan Sumayyah, terkadang dengan menjemurnya ditengah terik panas matahari yang membara, terkadang dengan meletakkan batu besar yang memerah (saking panasnya) diatas dadanya dan terkadang dengan menenggelamkannya alias membenamkan mukanya ke dalam air.

Hingga suatu ketika, ditengah siksaan yang begitu dahsyat menimpa dirinya, kaum Musyrikin Quraisy pun berkata kepada Ammar bin Yasir,  “kami tidak akan terus menyiksamu hingga engkau mencaci Muhammad atau mengatakan sesuatu yang baik terhadap al-Laata dan al-‘Uzza (sesembahan orang-orang musyrik Quraisy selain Alloh). Maka, dia pun secara terpaksa menyetujui hal itu dikarenakan siksaan yang terus menyayat tubuhnya. Setelah itu dia mendatangi Nabi sambil menangis dan meminta ma’af atas kejadian tersebut kepada beliau . Ketika itu, turunlah ayat:

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)…“. (Q.S.16/an-Nahl: 106).

Selain apa yang dialami Ammar bin Yasir dan keluarganya , Abu Fakihah – nama aslinya Aflah – seorang maula Bani ‘Abdi ad-Daar juga mengalami siksaan hanya karena ia mentauhidkan Alloh . Mukanya dijerembabkan oleh kaum Musyrikin ke tanah yang melepuh oleh terik matahari, kemudian diletakkan diatas punggungnya sebuah batu besar hingga dia tak dapat bergerak lagi. Dia dibiarkan dalam keadaan demikian hingga hilang ingatannya. Kemudian pernah pula suatu ketika, kaum musyrikin Quraisy mengikat kakinya dengan tali, lalu menyeretnya dan melemparkannya ke tanah yang melepuh oleh terik matahari seperti yang dilakukan terhadapnya sebelumnya, kemudian mereka mencekiknya hingga mereka mengira dia telah mati. Saat itu, Abu Bakar Ash-Shidiq  melewatinya lalu membeli dan memerdekakannya karena Allah .

Kemudian, sahabat lainnya, Khabbab bin al-Aratt , maula Ummi Anmaar binti Siba’ al-Khuza’iyyah. Ia juga  disiksa oleh kaum Musyrikin dengan aneka siksaan, rambutnya mereka jambak dengan keras sekali, lehernya mereka hajar dengan kasar lalu dilemparkan ke dalam api yang membara. Kemudian dalam kondisi demikian jasadnya mereka tarik sehingga api itu terpadamkan oleh lemak yang meleleh dari punggungnya.

Bukan hanya itu, mereka juga melakukan hal yang sama terhadap para Muslimah. Seperti seorang Muslimah Dari kalangan budak, terdapat riwayat Zunairah, an-Nahdiyyah dan Ummu ‘Ubais. Tatkala mereka masuk Islam, kaum Musyrikinpun melakukan penyiksaan terhadap mereka sama seperti yang telah dilakukan terhadap para shahabat Nabi sebelumnya. Selain itu, Seorang budak muslimah Bani Muammal  mereka adalah dari suku Bani ‘Adiy  juga dipukul oleh ‘Umar bin al-Khaththab, yang kala itu ia masih Musyrik. Bahkan wanita muslimah tersebut terus dipukul tanpa belas kasihan hingga Umar berkata, “sesungguhnya yang membuatku membiarkanmu (tidak memukulmu) hanyalah karena kebosanan“. Selanjutnya, Semua budak-budak wanita muslimah tersebut dibeli oleh Abu Bakar kemudian dimerdekakannya sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap Bilal dan ‘Amir bin Fuhairah .

Tidak cukup sampai disitu, Kaum Musyrikin juga pernah membungkus sebagian shahabat dalam buntalan yang terbuat dari kulit onta dan sapi, kemudian dilempar ke tanah yang sudah terbakar dan melepuh oleh panasnya terik matahari. Sedangkan sebagian yang lain, pernah dipakaikan baju besi lantas dilemparkan ke atas batu besar yang memanas. Demikianlah Deretan para korban yang disiksa karena membela dienullah demikian panjang dan amat histeris. Siapa saja yang mereka ketahui telah memeluk Islam maka tak ayal akan dihadang gerakannya dan disakiti.

Adapun Rasulullah (kala itu) tidaklah mengalami siksaan yang sedemikian. Beliau adalah seorang ksatria, terhormat dan sosok yang langka. Baik kawan maupun lawan sama-sama segan dan mengagungkannya. Setiap orang yang berjumpa dengannya, pasti akan menyambutnya dengan rasa hormat dan pengagungan. Tidak seorangpun yang berani melakukan perbuatan tak senonoh dan hina terhadap beliau selain manusia-manusia kerdil dan picik. Disamping itu, beliau juga mendapatkan perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, yang merupakan tokoh terpandang di Mekkah. Dia memang terpandang nasabnya dan disegani orang. Oleh karena itu, amatlah sulit bagi seseorang untuk melecehkan orang yang sudah berada dalam perlindungannya. Kondisi ini tentu amat mencemaskan kaum Quraisy dan membuat mereka terjepit sehingga tidak dapat berbuat banyak untuk mencegah dakwah islam langsung dari Rosululloh . Hal ini pun, memaksa mereka untuk memikirkan jalan keluarnya tanpa harus berurusan dengan wilayah larangan yang bila tersentuh tentu akibatnya tidak diharapkan.

Akhirnya, mereka mendapatkan ide penyelesaiannya, yaitu dengan memilih jalan berunding dengan sang penanggung jawab terbesar, Abu Thalib. Akan tetapi tentunya dengan lebih banyak melakukan pendekatan secara hikmah dan ekstra serius, disisipi dengan trik menantang dan ultimatum terselubung sampai dia mau tunduk dan mendengarkan apa yang mereka katakan.

Terkait hal tersebut, Ibnu Ishaq berkata, “sekelompok tokoh bangsawan kaum Musyrikin Quraisy menghadap Abu Thalib, lalu berkata kepadanya: ‘wahai Abu Thalib! Sesungguhnya keponakanmu telah mencaci tuhan-tuhan kita, mencela agama kita, membuyarkan impian kita dan menganggap sesat nenek-nenek moyang kita. Karenanya, engkau hanya punya dua alternatif: mencegahnya atau membiarkan kami dan dia menyelesaikan urusan ini. Sesungguhnya kondisimu adalah sama seperti kami, tidak sependapat dengannya, oleh karena itu kami berharap dapat mengandalkanmu dalam melunakkan hatimu (untuk menyerahkan Rosululloh kepada mereka)’. Abu Thalib pun berkata kepada mereka dengan tutur kata yang lembut dan membalasnya dengan cara yang halus dan baik. Setelah itu mereka pun akhirnya undur diri. Sementara itu, Rasulullah tetap melakukan aktivitas seperti biasanya, mensyiarkan dienullah dan mengajak kaumnya untuk masuk ke dalam rahmat-Nya.

Akan tetapi, orang-orang Musyrik Quraisy tidak sabar ketika melihat beliau terus melakukan aktivitasnya tersebut, yaitu berdakwah kepada Allah bahkan hal itu semakin membuat mereka mempersoalkannya dan mencercanya. Lantaran itu pula, mereka kemudian memutuskan untuk menghadap Abu Thalib sekali lagi namun dengan cara yang lebih kasar dan keras daripada sebelumnya. Apakah yang akan dikatakan dan diancamkan oleh orang-orang musyrik Quraisy kepada Abu Tholib? Dan bagaimanakah sikap Abu Tholib tentang ancaman itu? Kita akan simak kelanjutannya dalam rubric Siroh Nabawiyah pada edisi berikutnya InsyaAlloh. Wallohu a’lam.

%d blogger menyukai ini: