Allah Ta’ala berfirman:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kapada kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus dosa-dosa kecil kalian dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia.” (QS. an-Nisa [4]: 31)

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa tatkala Allah  melarang dalam ayat ini, dosa-dosa yang merupakan dosa-dosa besar. Maka, Allah menjanjikan memberikan pengguguran dosa-dosa kecil sebagai imbalan menghindari dosa-dosa besar tersebut. Ini menunjukkan bahwa di dalam dosa, ada dosa besar dan kecil. Inilah yang dipegang teguh oleh sekelompok ahli tafsir dan ulama fikih, dan bahwasanya sekedar menyentuh dan melihat yang haram akan diampuni secara mutlak dengan cara menjauhi dosa-dosa besar, berdasarkan janji yang benar dan Firman-Nya yang Haq, dan bukan berdasarkan bahwa itu wajib atas-Nya.

Serupa dengan makna ini, sesuatu yang telah dijelaskan tentang diterimanya taubat, yaitu dalam firman Allah :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan karena kejahilan.” (QS. an-Nisa [4]: 17)

Maka, Allah mengampuni dosa-dosa kecil dengan cara menjauhi dosa-dosa besar. Akan tetapi dengan syarat menggabungkan hal lain kepada meninggalkan dosa-dosa besar tersebut yaitu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang Allah tetapkan.

Dosa-dosa besar dalam bahasa Arab disebut dengan istilah (الكَبَائِرُ) yang artinya adalah perbuatan yang sangat amat buruk dari dosa-dosa yang dilarang secara syar’i karena besarnya masalah tersebut. Seperti membunuh, berzina, melarikan diri saat perang berkecamuk, dan lain sebagainya.

Para ulama menyebutkan definisi tentang dosa besar sangat beraneka ragam. Dari ragam definisi yang disampaikan para ulama akan saling melengkapi satu sama lain akan hakikat dosa besar dalam pendangan syariat Islam. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan pandangan-pandangan ulama tersebut dalam kitabnya Fathul Bari.

Imam ar-Rafi’i berkata dalam kitab asy-Syarhul Kabir, “Dosa-dosa besar ialah sesuatu yang mengharuskan dikenakan hukum had.” Pendapat lain mengatakan, “Dosa besar ialah sesuatu yang menghadapkan ancaman kepada pelakunya dengan berdasar nash al-Qur’an atau as-Sunnah.”

Imam al-Mawardi dalam kitab al-Hawi berkata, “Sesuatu yang mengharuskan dikenakan hukum had, atau terkena oleh ancaman.”

Imam al-Baghawi dalam kitab at-Tahdzib berkata, “Setiap perbuatan maksiat yang mengharuskan dikenai hukum had, maka itu adalah dosa besar.” Pendapat lain mengatakan, “Sesuatu yang menghadapkan ancaman kepada pelakunya dengan berdasar nash al-Qur’an atau as-Sunnah.”

Imam Ibnu Abdissalam berkata, “Saya tidak mendapatkan batasan pasti bagi definisi dosa besar. Yang lebih utama adalah membatasinya dengan sesuatu yang mengindikasikan sikap meremehkan dari orang yang melakukannya, sebagaimaria sikap orang pada dosa yang paling kecil yang telah ditetapkan hasilnya.” Beliau juga menjelaskan, “Sebagian ulama membatasinya dengan: Setiap dosa yang dikorelasikan dengan ancaman atau laknat.”

Imam Ibnu ash-Shalah berkata, “Dosa-dosa besar memiliki sejumlah tanda-tanda. Pertama, mengharuskan ditimpakannya hukum had. Kedua, adanya ancaman terhadapnya dengan azab neraka dan semacamnya di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Ketiga, pelakunya disifati dengan kefasikan. Keempat, adanya laknat terhadap perbuatan tersebut atau orang yang melakukannya.

Imam Hasan al-Bashri berkata, “Setiap dosa yang dinisbahkan oleh Allah kepada neraka, maka itu adalah dosa’besar.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar kemudian berkata, “Definisi yang paling bagus adalah ucapan al-Qurthubi di dalam al-Mufhim, “Setiap dosa yang dinyatakan oleh nash al-Qur’an, atau as-Sunnah, atau ijma’, bahwa ia dosa besar (dengan ungkapan كَبِيْرٌ) atau dosa besar (dengan ungkapan عَظِيْمٌ ) atau diberitakan mendapatkan azab yang dahsyat, atau dikaitkan dengan hukuman hudud, atau diingkari dengan keras. Maka ia adalah dosa besar.”

Dengan demikian, maka suatu keharusan bagi setiap muslim untuk mengetahui perbuatan apa saja yang mendapat ancaman, laknat, atau vonis fasik dari al-Qur’an atau hadits-hadits. Karena itu mengindikasikan dosa besar yang harus dijauhi.

Secara umum, baik dosa besar maupun dosa kecil diperintahkan untuk dijauhi sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Hanya saja, menjauhi dosa-dosa besar ebih ditekankan lagi dalam Islam. Hal ini disebabkan, besarnya ancaman dan hukuman yang diakibatkan dosa-dosa besar.

Rasulallah dengan sangat tegas memerintahkan kita untuk menjauhi dosa besar yang benar-benar akan mencelakakan dan menghancurkan.

رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ». قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ».

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulallah bersabda, “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar yang menghancurkan.” Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulallah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang benar, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan perang, dan menuduh berzina terhadap wanita yang suci.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Di dalam hadits ini Raulallah memerintahkan secara tegas untuk menjauhi dosa-dosa yang menghancurkan, yaitu dosa-dosa besar. Apa yang disebutkan oleh Rasulallah bukanlah sebagai pembatasan jumlah dosa-dosa besar. Akan tetapi, masih banyak lagi dosa-dosa yang masuk sebagai kriteria dosa basar. Mengetahui dosa-dosa besar dan ancaman dahsyat yang disebabkannya diharapkan bisa mendobrak iman kita untuk semakin bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan menjauhi dosa-dosa yang diharamkan-Nya.

Ust. Hawari

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: