Assalamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh…                                                                            

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أمّا بعد:

Dalam berwudhu, di samping kita harus memperhatiakn rukun-rukun wudhu dan sunnah-sunnahnya, kita juga harus mengetahui perkara-perkara yang makruh dan perkara-perkara yang membatalkan wudhu. Hal ini dilakukan supaya wudhu kita benar-benar sempurna dan ju7ga sesuai dengan contoh Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam.

Berikut ini beberapa perkara yang dimakruhkan dalam berwudhu, yang dirangkum dari kitab Syarah Arkanil Islam:

Yang pertama:Meninggalkan salah satu atau banyak sunnah wudhu’, karena hal ini dapat menggugurkan amal dan menghilangkan pahalanya.

Yang kedua:Berwudhu’ di tempat najis, karena dikhawatirkan akan terkena najis.

Yang ketiga:Berlebih-lebihan menggunakan air, bahkan berlebih-lebihan dalam segala hal pun dilarang.

Tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan air untuk berwudhu ini merupakan perintah Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rohimahulloh:

تَوَضَّأْبِمُدٍّ

“Berwudhu’lah dengan satu mud air.”

Satu mud air itukira-kirasatu gelas air.

Yang keempat:Mencuci, membasuh, dan mengusap lebih dari tiga kali.

Karena Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam berwudhu tiga kali-tiga kali, seraya bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasai, dan lainnya rohimahumulloh:

هَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ، وَتَعَدَّى، وَظَلَمَ

“Inilah wudhu’ku, maka barangsiapa yang melebihinya berarti dia telah berbuat kesalahan, melampaui batas, dan zholim.”

Yang kelima adalah Menampar muka atau wajah ketika membasuhnya.

Hal ini adalah perbuatan tidak beradab dan perbuatan meniru-niru orang yang menampar pipi ketika menyesali karib-kerabatnya yang meninggal dunia.

Perkara lainnya yang juga tidak kalah penting untuk kita perhatikan adalah terkait pembatal-pembatalwudhu’, berikut ini beberapa pembatal wudhu:

Yang pertama: Ada sesuatu yang keluar dari dua jalan yaitu qubul dan dubur, baik sedikit ataupun banyak.

Seperti kencing, kotoran, madzi,wadi, kentut baik yang bersuara dan berbau ataupun tidak. Dua hal yang terakhir yaitu dua jenis kentut ini disebut dengan hadats sebagaimana yang termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori Rohimahulloh:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Alloh tidak akan menerima sholat salah seorang di antara kalian apabila dia berhadats hingga berwudhu.”

Yang kedua: Tidur nyenyak yang membuat pantat seseorang terangkat dari atas permukaan tanah atau lantai.

Berkaitan dengan hal ini, Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dan Abu Dawud Rohimahulloh:

العَيْنُوِكاَءُالسَّهِفَمَنْنَامَفَلْيَتَوَضَّأْ

“Mata adalah pengikat dubur, maka siapa yang tidur hendaklah berwudhu’”

Yang ketiga Memegang kemaluan dengan tangan secara langsung dan tanpa penghalang.

Berkaitan dengan hal ini, Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud Rohimahulloh:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang memegang kemaluannya, maka hendaklah berwudhu’”

Yang keempat:Hilang akal dan perasaan, seperti gila, pingsan, mabuk atau terkena pengaruh obat bius baik sedikit maupun banyak. Dan apakah pantatnya masih memungkinkan menempel di tanah atau lantai ataukah tidak. Karena hilang akal atau perasaan merupakan sebab tidur yang membuat seorang muslim tidak mengetahui apa yang terjadi terhadap dirinya, apakah sudah batal wudhu’nya ataukah belum. Dan para ulama telah mewajibkan wudhu’ bagi orang yang hilang akalnya.

Yang kelima: Menyentuh atau memegang wanita dengan syahwat. Karena adanya dalil batalnya wudhu’ disebabkan menyentuh kemaluan dan hal ini adalah hal yang dapat membangkitkan syahwat. Pendapat ini diperkuat oleh perkataan ‘Abd Allah bin ‘Umar Rodiallohu ‘anhu:

“Ciuman dan rabaan seorang suami terhadap istrinya dengan tangannya termasuk awal jima’ yaitu termasuk rayuan. Maka barangsiapa yang mencium atau meraba istrinya hendaklah berwudhu’”

Yang keenam:Murtad dari Islam, yaitu dengan mengerjakan hal-hal yang menyebabkan keluar dari Islam baik dengan ucapan, i’tiqad ataupun keraguan.

Siapa yang melakukannya, maka batal wudhu’nya dan juga amalan-amalan lainnya. Dan jika dia masuk Islam kembali, maka tidak sah shalatnya sebelum dia berwudhu’.

Berkaitan dengan hal ini, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat al-Maidah ayat lima:

Yang artinya, “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman, maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.”

Yang ketujuh adalah Memakan daging unta.

Hal ini berdasarkan pertanyaan salah seorang sahabat kepada Rasulullah Sholloulohu ‘alaihi wa sallam:

“Apakah saya harus berwudhu’ jika saya memakan daging kambing? Beliau menjawab:

إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَوَضَّأْ

“Apabila engkau berwudhu’ silahkan saja, tidakpun tidak apa-apa”, kemudian bertanya lagi:

“Bagaimana kalau saya makan daging unta, apakah harus berwudhu’? Beliau menjawab kembali:

نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ

“Ya, apabila engkau memakan daging unta maka berwudhu’lah.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim Rohimahulloh dari jalur Jabirbin Samuroh.

Berkaitan dengan hal ini, al-Imām al-Nawawi asy-Syafi’i berkata:

“Madzhab ini adalah madzhab yang paling kuat dalilnya, meskipun berbeda dengan jumhur. Jumhur ulama seperti shahabat, tabi’in dan orang-orang sesudahnya termasuk para Khulafa’ Rasyidin, mereka berpendapat bahwa memakan daging unta tidak mewajibkan wudhu’ dengan alasan bahwa hadits tersebut di atas sudah dihapus hukumnya.”

Wallhu A’lam

Ust. Umar Muhsin

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: