Barang siapa yang mengikuti kabar tentang umat manusia dan memperhatikan keadaan mereka, dia akan mengetahui bagaimana mereka menghabiskan waktu, bagaimana mereka menghabiskan umur, sehingga dia akan mengetahui bahwa kebanyakan dari mereka menyia-nyiakan waktunya, mereka terhindar dari kenikmatan dapat memanfaatkan umur dan menggunakan waktu, oleh karena itu kita melihat mereka menafkahkan waktunya dan menghabiskan umurnya dengan aktifitas yang tidak mendatangkan manfaat baginya.

Sesungguhnya seseorang ada yang merasa heran dari kesenangan mereka dengan berjalannya hari serta berbahagia dengan berlalunya ia, mereka lupa bahwa setiap menit bahkan setiap saat yang telah berlalu dari umurnya akan mendekatkan dirinya kepada kubur dan akherat, serta menjauhkannya dari dunia.

Apabila waktu adalah kehidupan dan dia adalah umur yang sebenarnya bagi manusia, dan bahwa penjagaannya merupakan pokok setiap kebaikan, penyia-nyiaannya merupakan pokok setiap kejelekan, maka ia mengharuskan suatu renungan yang menjelaskan tentang berharganya waktu dalam kehidupan seorang Muslim, apa yang diwajibkan bagi seorang Muslim terhadap waktunya, apa saja penyebab-penyebab yang dapat membantu untuk menjaga waktu, dan dengan apa seorang Muslim dapat memanfaatkan waktunya.

Apbila manusia mengetahui keberhargaan sesuatu dan kepentingannya, niscaya dia akan menjaga dan menghindar dari menyia-nyiakan serta kehilangannya, dan ini merupakan suatu yang lazim. Oleh karena itu apabila seorang Muslim mengetahui akan keberhargaaan serta kepentingan waktunya, maka dia akan lebih berhati-hati dalam menjaga dan memanfaatkannya pada apa-apa yang mendekatkan dirinya kepada Allah.

Inilah Imam Ibnul Qoyyim yang menjelaskan akan hakekat ini dengan perkataannya: waktu manusia adalah umur dia pada hakekatnya, ia adalah unsur kehidupan yang kekal dalam kenikmatan yang abadi, dan unsur kehidupannya yang sempit dalam adzab yang pedih, ia akan berlalu secepat berlalunya awan, barang siapa yang waktunya untuk Allah dan pada Allah, maka itulah kehidupan dan umurnya, dan yang selain itu tidak akan dihisab dari kehidupannya… apabila dia habiskan waktunya dalam kelalaian, kesia-siaan dan angan-angan yang batil, yang mana suatu terbaik yang dia habiskan adalah tidur dan kekosongan, maka kematian bagi orang ini akan lebih baik dari kehidupannya.

Ibnul Jauzi berkata: setiap manusia berkewajiban untuk mengetahui kemuliaan zaman dan nilai waktunya, sehingga tidak ada yang hilang darinya sedikitpun selain dari taqarrub, dia akan mengedepankan padanya apa yang terbaik dari perkataan dan perbuatan, hendaklah niatnya tegak berada pada kebaikan tanpa henti dengan apa yang tidak melemahkan badan dari beramal.

Al-Qur’an dan Sunnah sangat perhatian waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang bermacam-macam, Allah telah bersumpah dengannya pada awal beberapa surah dalam beberapa juz yang berbeda, seperti: demi malam, demi siang, demi waktu fajar, demi waktu dhuha, demi masa. Alloh berfirman dalam surat al-Lail ayat 1-2:

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang

Dalam surat al-Fajr ayat 1-2, pun Alloh berfirman:

Demi fajar dan malam yang sepuluh

Alloh berfirman dalam surat ad-Duha 1-2:

Demi waktu duha dan demi malam ketika gelap gulita.

Alloh pun berfirman dalam surat al-Ashr ayat 1-2

Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian

Sudah diketahui bahwasanya apabila Allah bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka ia menunjukkan kepentingan dan keagungannya, dan juga untuk menarik perhatian kepadanya serta menyadari akan besarnya manfaat yang ada padanya.

Sunnah datang untuk lebih menekankan tentang pentingnya waktu serta berharganya zaman, dan telah diulang-ulang bahwa manusia akan bertanggung jawab atasnya pada hari kiamat. Dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah r bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ.

“Tidak akan bergerak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya pada apa dia habiskan, tentang masa mudanya pada apa dia luangkan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan untuk apa dia pergunakan, dan tentang ilmunya apa yang dia amalkan padanya” [HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani].

 

Nabi-pun mengabarkan bahwa waktu merupakan salah satu dari nikmat-nikmat Allah terhadap makhluk-Nya, seorang hamba diharuskan untuk mensyukuri nikmat yang dia dapat, dan jika tidak maka ia akan ditarik dan hilang darinya. Mensyukuri nikmat waktu dilakukan dengan menggunakannya pada keta’atan dan memanfaatkannya pada amal-amal saleh, bersabda Rasulullah solollohu’alaihi wasallam:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang” [HR. Bukhori]

Link selanjutnya http://fajribandung.com/memanfaatkan-waktu-2/

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: