Artikel sebelumnya http://fajribandung.com/memanfaatkan-waktu-1/

Apabila manusia sangat perhatian sekali terhadap hartanya, sangat menjaga dan memanfaatkannya, dan dia mengetahui bahwa harta itu akan datang dan pergi, maka dia harus memperhatikan waktu dan memanfaatkan seluruhnya pada apa yang akan bermanfaat baginya dalam agama dan dunianya, karena apa yang akan kembali kepadanya dari kebaikan dan kebahagiaan akan lebih besar, terutama jika dia ketahui bahwa apa yang telah pergi darinya tidak akan kembali.

Orang-orang saleh terdahulu selalu sangat memperhatikan waktunya; karena mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui akan nilainya, mereka menjaga dengan sebenarnya agar tidak melewati satu hari atau satu saat dari zaman walaupun sangat pendek, tanpa menambah padanya ilmu yang bermanfaat, amal saleh, melawan hawa nafsu atau memberikan manfaat terhadap orang lain, Al-Hasan berkata: saya telah mendapati beberapa orang yang sangat menjaga waktunya melebihi penjagaan kalian terhadap uang dirham dan dinar yang kalian miliki.

Di antara kewajiban-kewajiban seorang Muslim terhadap waktunya adalah menyusunnya agenda yang akan dikerjakan, baik yang berkaitan dengan agama ataupun keduniawiaan, sehingga sebagiannya tidak mengalahkan sebagian yang lain, dan tidak pula yang tidak penting mengalahkan yang penting.

Salah seorang saleh berkata: waktu seorang hamba ada empat dan tidak ada yang kelima darinya: nikmat, cobaan, ta’at dan maksiat. Untuk Allah atas anda, pada setiap waktu darinya anda harus menyisihkan untuk ibadah yang dilakukan dengan hak sebagai hukum Rububiyyah: ketika ia mempergunakan waktunya untuk keta’atan, maka ia harus meyakini bahwa itu adalah karunia dari Allah yang telah memberinya hidayah dan memberinya kemudahan melaksanakan ketaatan, ketika ia menadapat kenikmatan maka jalannya adalah bersyukur, barang siapa yang mempergunakan waktu untuk kemaksiatan maka jalannya adalah bertaubat dan meminta ampunan, dan barang siapa yang menadpat cobaan maka jalannya adalah keridhoan dan kesabaran.

Waktu luang adalah kenikmatan yang dilalaikan oleh kebanyakan orang, sehingga kita melihat mereka dalam keadaan tidak menunaikan rasa syukurnya dan tidak pula menghargai dengan sebenarnya. Dari Ibnu Abbas: bahwa Nabi solollohualaohi wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang” [HR. Bukhori]

Berkata salah seorang saleh: Kosongnya waktu dari pekerjaan merupakan kenikmatan yang sangat besar, sehingga apabila seorang hamba mengkufuri nikmat ini dengan membuka dirinya kepada pintu hawa nafsu dan terjerumus dalam syahwat maka Allah akan balikkan kenikmatan hatinya, serta mengambil apa yang dia dapati dari kebersihan hati.

Seorang yang berakal harus menyibukkan waktu luangnya dengan kebaikan, dan jika tidak maka nikmat luangnya akan berbalik menjadi malapetaka terhadap dirinya.

Agar seseorang dapat menjaga waktunya dengan baik, henadknya ia melakukan beberapa hal berikut:

Pertama Muhasabah diri: ia termasuk perantara terpenting yang dapat membantu seorang Muslim untuk memanfaatkan waktunya dalam keta’atan kepada Allah. Oleh karena itu hisablah diri anda wahai saudaraku yang Muslim dan tanyakanlah kepadanya apa yang telah ia lakukan pada hari yang telah dilaluinya?

Kedua, Mendidik jiwa atas tingginya harapan: barang siapa yang membiasakan dirinya untuk selalu bergantung pada perkara-perkara yang tinggi dan menjauh dari kerendahannya, maka dia akan menjadi yang paling menjaga dalam memanfaatkan waktunya, dan harapan tertinggi seorang muslim adalah berjumpa dengan Alloh di surga-Nya nanti.

Ketiga, berteman dengan mereka yang menjaga waktunya: karena sesungguhnya berteman dan bergaul bersama mereka, serta berusaha mendekati dan mengikutinya akan dapat membantu anda dalam memanfaatkan waktu, juga menguatkan diri dalam memanfaatkan usia untuk keta’atan kepada Allah.

Keempat, mengetahui keadaan salaf bersama waktu: Karena mereka adalah orang-orang terbaik yang memahami keberhargaan waktu dan kepentingan usia, mereka adalah contoh terbaik dalam memanfaatkan setiap menitnya dari umur dan memanfaatkan setiap nafasnya dalam keta’atan kepada Allah.

Kelima, Meragamkan apa yang dipergunakan dari waktu-ke waktu karena jiwa ini menurut tabiatnya adalah cepat bosan dan selalu menghindar dari segala sesuatu yang diulang-ulang. Peragaman pekerjaan akan membantu jiwa dalam memanfaatkan bagian yang sebesar mungkin dari waktu.

Keenam, Memahami bahwa apa yang telah lalu dari waktu tidak akan kembali dan tidak pula bisa diganti: Al-Hasan: Tidak ada suatu haripun yang berlalu dari anak Adam kecuali ia akan berkata: wahai anak Adam, aku adalah hari baru dan akan menjadi saksi atas amalanmu, apabila telah pergi darimu aku tidak akan kembali lagi, maka hidangkanlah sesuai kehendakmu karena kamu akan mendapatkannya dihadapanmu, dan akhirkanlah sesuai kehendakmu karena ia tidak akan kembali kepadamu selamanya.

Ketujuh, Mengingat kematian dan saat menjelang kematiaan: tatkala manusia meninggalkan dunia, menghadap akherat dan berharap jika seandainya dia diberi sedikit saja kesempatan untuk memperbaiki yang telah rusak dan meraih apa yang telah terlewat, akan tetapi betapa tidak mungkinnya hal tersebut, karena masa beramal telah habis dan telah tiba masa perhitungan dan pembalasan. Maka teringatnya seseorang akan ini menjadikannya perhatian terhadap pemanfaatan waktunya dalam keridhoan terhadap Allah Ta’ala.

Kedelapan, Menjauh dari teman yang menyia-nyiakan waktu: sesungguhnya berteman dengan orang-orang malas serta bergaul bersama mereka yang suka membuang-buang waktu merupakan penyia-nyiaan terhadap kemampuan manusia dan waktu..

Kesembilan, Mengingat akan pertanyaan tentang waktu pada hari kiamat: tatkala seseorang berdiri dihadapan Rabb-nya pada hari yang menakutkan tersebut, dia akan ditanya tentang waktu dan umurnya, bagaimana dia habiskan? Untuk apa dia pergunakan? Pada apa dia manfaatkan?

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: