Tanda mengagungkan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam yang kedua ; melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya.

Telah menjadi suatu ketetapan bahwa orang yang mengagungkan dan menjalin cinta dengan kekasihnya, pasti akan patuh kepada orang yang dicintainya itu. Ia akan berusaha melaksanakan apa yang disukai oleh kekasihnya dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari hal-hal yang dibencinya. Begitupun cinta dan pengagungan seorang mukmin kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam. Hal itu akan memotivasi dirinya untuk komitmen terhadap perintah dan larangannya.

Kisah sikap pengagungan para sahabat terhadap Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam telah terukir dalam berbagai kitab siroh. Berikut ini kami sampaikan kepada para pendengar sikap pengagungan mereka terhadap kekasih setianya, Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam.

 

Sikap yang pertama adalah mereka bersegera menuangkan khomr ke jalan-jalan.

Para sahabat benar-benar mengagungkan kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam dengan sebenar-benar pengagungan. Buktinya adalah tidak hanya menghentikan apa yang menjadi hobi mereka, tetapi lebih dari itu mereka pun bersedia dengan lapang dada dan ridho untuk meninggalkan tradisi-tradisi jahiliyah yang membudaya di kalangan mereka. Tak ada sedikitpun rasa sempit dalam dadanya untuk menerima dan tunduk kepada apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari jalur Anas bin Malik rodiyallohu‘anhu, bahwa ia berkata: “Suatu ketika aku memberi mimun khomr di rumah Abu Tholhah rodiyallohu‘anhu dan khomr mereka waktu itu adalah yang paling rendah mutunya. Lalu Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam memerintahkan seseorang penyeru untuk memberitahukan kepada khalayak, ‘Sesungguhnya khomr telah kuharamankan’. Lalu Abu Tholhah berkata kepadaku, ‘Keluarkanlah kendi itu dan tuangkanlah seluruh isinya!’ Maka kendi itu pun aku keluarkan dan isinya kutuangkan hingga habis mengalir di sepanjang jalan di Madinah.”

 

Sikap yang kedua; mereka segera menjauhi memakan daging keledai.

Salah satu bukti pengagungan para sahabat terhadap Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam, adalah ketika mereka dilarang untuk menikmati hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, spontan mereka pun segera menjauhi dan menghindarinya.

Hal itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari jalur Anas bin Malik rodiyallohu‘anhu bahwa ketika seorang sahabat datang kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam, lalu ia berkata, “Daging keledai telah dimasak.”. Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam tidak berkomentar sedikit pun. Lalu orang itu datang untuk kedua kalinya kepada beliau dan ia pun berkata, “Daging keledai telah dimasak.”. Nabi pun diam, tidak menjawab. Pada kali ketiga, orang itu datang lagi dan berkata, “Daging keledai telah habis dimasak semua.” Maka Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam menyuruh seorang juru penyeru agar mengumumkan kepada segenap umat Islam, “Sesungguhnya Alloh dan Rosul-Nya telah melarang kalian makan daging keledai.”. Maka seketika itu pula periuk-periuk yang berisi masakan daging keledai yang sudah matang dituangkan ke tanah.

 

Sikap yang ketiga adalah segera melepas gelang.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Dwud, dari jalur ‘Abdulloh bin ‘Amr rodiyallohu‘anhu. Ia berkata, “Suatu ketika seorang wanita datang menemui Rosululloh Sholallohu ‘allaihi Wassalam bersama putrinya yang mengenakan sepasang gelang emas di tangannya. Maka Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam bertanya, ‘Apakah engkau mengeluarkan zakat atas perhiasan gelang emas itu?’. Wanita itu menjawab, ‘Tidak!’. Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam pun bersabda, ‘Apakah kamu mau jika kelak pada hari Kiamat kamu mendapatkan gelang dari api lantaran sepasang gelang yang engkau pakai itu?’. Lalu wanita tersebut melepas gelangnya dan menye-rahkannya kepada Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam seraya berkata, ‘Sepasang gelang ini adalah milik Alloh dan Rosul-Nya’.”

 

Sikap yang keempat; segera menepi bila berjalan di jalan umum.

Dikisahkan bahwa sebelum datang perintah dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dan Rosul-Nya Sholallohu ‘alaihi Wassalam kaum muslimin bila hendak menuju masjid selalu berjalan beramai-ramai dan berbaur antara laki-laki dan perempuan. Selain itu juga kaum perempuan sering berjalan hingga ke tengah-tengah jalanan. Maka Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam bersabda kepada para sahabat wanita:

اِسْتَأْخِرْنَ، فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَاتِ الطَّرِيقِ

“Menepilah kalian, sesungguhnya kalian tidak sepantasnya berjalan di tengah-tengah jalan. Maka berjalanlah kalian di tepi-tepi.” (Hadis Riwayat. Abu Dawud)

Sejak saat itu, para muslimah mulai menepi bila berjalan dan nyaris merapat ke tembok, sehingga tidak jarang baju mereka tergores oleh tembok di mana mereka lewat.

Beberapa kisah tadi menunjukkan betapa tinggi tingkat pengagungan para sahabat kepada Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam sehingga tidaklah mengherankan bila datang suatu perintah dan larangan dari beliau, mereka serentak menaatinya tanpa banyak komentar.

Bercermin dari kisah-kisah yang telah disebutkan marilah kita berintrospeksi pada diri kita masing-masing. Sudahkah kita mengagungkan Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam di dalam perintah dan larangan beliau? Mengapa kita sering menolak Sunnah Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam hanya karena tidak sesuai dengan selera kita?

 

Tanda mengagungkan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam yang ketiga adalah membela Nabi Sholallohu ‘alaihi Wassalam dan memelihara agamanya.

Para Sahabat Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam telah memberikan suri teladan terbaik dan contoh terindah dalam membela Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam .Mereka begitu rela dan ridho membela beliau Sholallohu ‘alaihi Wassalam dan agamanya meskipun harus ditebus dengan harta, anak, dan jiwa, baik saat sulit maupun mudah, kaya maupun miskin, senang maupun susah.

Kitab suci al-Qur’an sebagai saksi dan bukti nyata akan hal itu. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam a-Qur’an Surat al-Hasyr ayat kedelapan yang artinya,

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Alloh dan keridhoan-Nya dan mereka menolong Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

Kitab-kitab sejarah sarat dengan kisah-kisah dan berita-berita mereka yang menunjukan puncak kecintaan dan pengagungan.

Di dalam kitab Siroh Ibnu Hisyam, jilid ketiga, halaman ketiga puluh disebutkan bahwa pada waktu perang Uhud, tentara muslim mengalami pukulan hebat. Disamping karena gencarnya serangan dari pasukan pemanah, juga disebabkan adanya berita yang sampai kepada mereka bahwa Rosul telah terbunuh. Akibatnya, sebagian sahabat terpengaruh oleh kabar burung itu.

Tetapi situasi ini segera dapat teratasi dengan tampilnya Anas bin Nadhr rodiyallohu‘anhu yang tanggap terhadap apa yang sedang terjadi. Maka ia pun bertanya kepada para sahabat, “Mengapa kalian duduk-duduk bertopang dagu?”

Mereka menjawab, “Bukankah Rosululloh telah terbunuh?”

Anas bin Nadhr berkata, “Lalu apa yang hendak kalian lakukan dalam mengisi hidup ini setelah beliau wafat? Sekarang bangkitlah dan bersiap-siaplah untuk syahid demi mempertahankan syariat dan Sunnah yang menyebabkan Rosululloh wafat!”

 

Tentang bagaimana kiprah Anas bin Nadhr rodiyallohu‘anhu dalam melindungi agama dan meninggikan kalimat Alloh, Imam Bukhori rohimahulloh mengetengahkan sebuah hadis kepada kita.

Diriwayatkan dari Anas radhiyallohu ‘anhu, ia berkata, “Pamanku Anas bin an-Nadhr tidak ikut serta di dalam perang Badar. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Rosululloh Sholallohu ‘alaihi Wassalam, Aku tidak sempat bergabung dalam peperangan pertama melawan orang-orang musyrik. Sekiranya Alloh memberi kesempatan kepadaku untuk melawan orang-orang musyrik, tentu Alloh Maha Melihat apa yang aku perbuat dalam perang itu.’

Ketika peperangan Uhud berlangsung dan umat Islam nampak cerai berai dalam peperangan itu, ia berkata, ‘Ya Alloh, Aku mohon ampunan kepadamu atas apa yang dilakukan kawan-kawanku.’ Yaitu mereka yang melarikan diri dari peperangan, ‘Aku pun berlepas diri dari perbuatan yang dilakukan orang-orang musyrik.’

Ia lalu bangkit dan berpapasan dengan Sa’ad bin Mu’adz sambil berkata, ‘Wahai Sa’ad, lihatlah, di depanmu ada surga dan alangkah indahnya! Sungguh aku telah mencium bau wanginya dari bawah gunung Uhud.’

Selanjutnya Sa’ad mengomentari apa yang telah dilakukan oleh Anas bin an-Nadhr, ‘Wahai Rosululloh, Aku tidak bisa mencapainya apa yang telah ia lakukan.’

Anas berkata, “Kami dapati dalam tubuhnya lebih dari delapan puluh tusukan pedang dan tombak serta kami dapati ia telah mati. Orang musyriklah yang menghancurkannya sehingga tidak ada seorang pun yang mengenali jenazah beliau selain adik perempuannya, ia mengetahui ciri-cirinya melalui jari-jari tangannya.”

Anas berkata, “Kami berpendapat bahwa ayat, ‘Di antara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang benar-benar mempercayai apa yang telah dijanjikan Allah kepadanya.’ diturunkan berkenaan dengan Anas bin an-Nadhar dan orang yang sepertinya.

 

Semoga materi yang tadi kita bahas akan menambah pengangungan dan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi Wassalam.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: