Sahabat hijrah yang dirahmati Allah , hidup di dunia ini jika kita boleh umpamakan seperti ladang untuk menanam bagi para petani, sementara hari memanen hasil ladang adalah hari dimana amal kita dihitung dan ditimbang di yaumul mizan.

Nah sahabat, apa jadinya jika petani berleha-leha dan tidak bekerja keras di musim tanam?. apa jadinya setelah musim hujan petani tidak segera menabur benih?.  Mungkin dia tidak akan pernah bisa memperoleh hasil dari ladangnya, gigit jari melihat petani-petani yang lain asyik memanen hasil panen mereka. Petani malas tersebut tidak mungkin bisa menghasilkan uang dari penjualan hasil panen, bahkan lebih parah lagi tidak bisa memberi makan keluarganya dari ladang sendiri.

Begitulah diri kita kelak di akhirat. Sahabat, boleh jadi di dunia ini kita tidak memiliki beban apa pun selain hidup untuk kesenangan dan hura-hura. Kita masa bodoh dengan semua aturan agama, sementara remaja yang lain sibuk mengukur amal dan bermajlis di halaqoh ilmu.

Sudah bisa dipastikan, jika begini caranya, kita akan gigit jari di hari penghitungan amal kelak. padahal sahabat, tak ada penyesalan yang paling menyedihkan selain penyesalan di akhirat.

Oleh karena itulah sahabat hijrah, penting bagi kita untuk bermuhasabah, sehingga kita tidak melupakan hari akhirat.

Lalu apa sih yang dimaksud dengan muhasabah?. Muhasabah adalah melihat pada amalan yang telah dilakukan oleh jiwa, lalu mengoreksi kesalahan yang dilakukan dan menggantinya dengan amalan shalih.

Sahabat, Kita yakin bahwa kita semua penuh kekurangan, entah masih terus menerus dalam bermaksiat, kurang dalam ketaatan, bahkan kadang menyepelekan kewajiban. baca quran jarang, shalat berjamaah telat terus, atau bahkan tidak shalat berjamaah sama sekali, lebih memilih shalat di rumah. dan kelalaian lainnya.

Berkenaan dengan muhasabah. Allah berfirman di dalam quran surat al-Hasyr ayat 18 dan 19.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok yakni akhirat, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Inilah yang menjadi dalil agar kita bisa mengoreksi diri atau bermuhasabah. Jika tergelincir dalam kesalahan, maka dikoreksi dan segera bertaubat lalu berpaling dari segala perantara yang dapat mengantarkan pada maksiat. Kalau kita melihat ada kekurangan dalam amalan yang wajib, maka berusahalah untuk memenuhinya dengan sempurna dan meminta tolong pada Allah untuk dimudahkan dalam ibadah.

Sahabat hijrah, lalu apa yang harus kita lakukan supaya kita dimudahkan dalam beribadah selain dengan bermuhasabah?.

Rasulullah telah mengajarkan doa supaya kita dimudahkan dalam beramal shaleh. Suatu ketika Rasulullah berkata kepada Muadz bin Jabal . “Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu karena Allah.”

“Aku akan memberikanmu nasihat, wahai Mu’adz, Janganlah engkau tinggalkan saat di penghujung shalat bacaan doa.

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Yang artinya.

“Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu.

Hadits riwayat Abu dawud, dan an-Nasa’i.

Nah sahabat hijrah, Hanya dengan pertolongan Allah-lah, kita bisa mudah melakukan ibadah dan menjauhi maksiat.

Dan supaya kita semakin termotivasi dalam bermuhasabah, saya akan memberikan sahabat sekalian beberapa point tentang pentingnya bermuhasabah.

Yang pertama, Muhasabah di dunia bisa Meringankan hisab pada hari kiamat.

Umar bin Al-Khattab pernah mengatakan. “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, itu akan memudahkan hisab kalian kelak. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak. Ingatlah keadaan yang genting pada hari kiamat.

Kemudian Umar bin Khatab membaca quran surat Haqqah ayat 18.

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

Pada hari itu kamu dihadapkan kepada Rabbmu,  tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Allah.”

Bahkan sahabat, Fudhail bin Iyad mengatakan bahwa orang yang lalai dalam mengoreksi dirinya adalah orang munafik, sebaliknya, orang yang selalu menghisab diriya adalah ciri orang yang beriman.

Selanjutnya yang kedua, muhasabah bisa menjadi sebab istiqomahnya kita di jalan petunjuk.

Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Baidhawi dalam tafsirnya bahwa seseorang bisa terus berada dalam petunjuk jika rajin mengoreksi amalan-amalan yang telah ia lakukan.

Selanjutnya yang ketiga, muhasabah bisa Mengobati hati yang sakit

Karena hati yang sakit tidaklah mungkin hilang dan sembuh melainkan dengan muhasabah diri.

Keempat, muhasabah Selalu menganggap diri penuh kekurangan dan tidak tertipu dengan amal yang telah dilakukan.

Yang kelima, muhasabah membuat diri tidak takabur dan sombong.

Cobalah lihat apa yang dicontohkan oleh Muhammad bin Wasi’ ketika ia berkata.

لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ

Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku.”

Keenam, dengan bermuhasabah  seseorang akan memanfaatkan waktu dengan baik.

Sahabat hijrah, siapa pun membutuhkan muhasabah, baik orang yang jahil atau orang yang berilmu semua perlu untuk muhasabah amal. sebelum beramal kita harus bermuhasabah, begitu juga setelah beramal, kita harus bermuhasabah.

Kenapa kita membutuhkan muhasabah sebelum dan setelah beramal. Karena tentunya kita tidak ingin amal kita seperti yang Allah sebutkan di dalam quran surat al-Ghasyiyah ayat 3 dan 4.

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4)

Bekerja keras lagi kepayahan, malah memasuki api yang sangat panas .

Banyak orang yang menyangka sudah beramal banyak dan lelah karena amal, malah pada hari kiamat masuk neraka karena salah dalam niat atau karena yang lainnya. Makanya, muhasabah itu penting untuk melihat baik dan buruknya amal yang akan kita lakukan, amal yang sedang kita lakukan serta amal yang sudah kita lakukan.

Semoga dengan muhasabah kita bisa meningkatkan iman dan amal kita, sehingga kita tidak gigit jari di yaumul hisab karena kita sudah menanam amal di dunia, tentunya dengan amal yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah .

Wassalamu alaikum warohmatullahi wabarokatuh

%d blogger menyukai ini: