Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia atau MIUMI Aceh,  Muhammad Yusran Hadi menjelaskan, mengucapkan salam dengan salam Islam bagi seorang pejabat Muslim bukan berarti tidak bersikap toleransi beragama atau kebinekaan. Justru itulah sikap toleransi agama dan kebinekaan. Hal ini diungkapkan Muhammad yusran hadi di Banda Aceh dalam siaran persnya diterima media jumat kemarin.

Anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara ini menjelaskan, toleransi agama tidak boleh dipahami dengan harus berbaur dan mengikuti ritual dan keyakinan agama lain.

Yang benar, jelas Yusran, toleransi agama adalah menghargai dan menghormati kebebasan dalam beragama dan menjalankan agamanya masing-masing. Toleransi beragama juga bermakna menerima perbedaan dalam beragama dan menjalankan agama sesuai dengan agamanya masing-masing.

Yusran pun berharap kepada umat Islam khususnya para pejabat Muslim agar mematuhi para ulama, khususnya imbauan MUI Jawa Timur dalam masalah salam lintas agama.

Setiap Muslim, lanjutnya, wajib patuh kepada ulama sesuai dengan perintah Al-Qur’an dan As-Sunnah selama tidak melanggar syariat. Bila terjadi perselisihan dalam suatu persoalan, maka diperintahkan untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana ditegaskan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an.

Yusran juga mengatakan, mengucapkan salam dengan salam semua agama itu tidak diperintahkan dan tidak pula dilakukan oleh Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Begitu pula tidak dilakukan oleh para Sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in.

Yusran juga mengatakan, mengucapkan salam dengan ucapan salam agama lain sama saja saja mengamalkan ajaran agama tersebut.  Ia mengatakan, Islam melarang umatnya mengamalkan ibadah agama lain atau melakukan perbuatan yang menyerupai ibadah agama lain. (hidayatullah.com/admin)

%d blogger menyukai ini: