Artikel sebelumnya http://fajribandung.com/mmm-ketika-membantu-sesama-dipoles-dengan-sentuhan-orang-kafir-1/

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menasehatkan, agar sekecil apapun sedekah yang kita berikan, dilatar belakangi karena ketakutan kita kepada hukuman Allah,

فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمُ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Kalian harus merasa takut kepada neraka, meskipun dengan separoh kurma. Jika kalian tidak memiliki kurma, gunakan kalimat yang baik. (HR. Bukhari 1413, Muslim 1016 dan yang lainnya).
Dan ayat maupun hadis yang berbicara masalah ini sangat banyak.

Islam juga mengajarkan kepada kita, agar ketika kita memberi sesuatu kepada orang lain, kita tidak mengharapkan imbalan yang lebih besar. Allah mengingatkan,

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (imbalan) yang lebih banyak. (QS. Al-Mudatsir: 6).
Ibnu menafsirkan ayat ini,

لا تعط عطية تلتمس بها أفضل منها

’Janganlah kamu memberi sesuatu untuk mengharapkan yang lebih baik dari itu.’ (Tafsir al-Qurthubi, 19/67).

Seperti itulah islam, mengajarkan kepada umatnya, membangun semangat anti pamrih dalam amal yang bersifat sosial. Apalagi mengharapkan imbalan dari kebaikan yang telah diberikan.

Ini menunjukkan bahwa transaksi MMM tidak sejalan dengan prinsip yang diajarkan dalam islam, yang tidak selayaknya dilestarikan.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Pengusaha muslim.com)

 

Fatwa dari ormas lainnya

Hukum MMM adalah haram secara syar’i, berdasarkan dua alasan utama;

Pertama, penggunaan istilah “bantuan” atau “komunitas sosial” adalah suatu penipuan atau kebohongan, karena tidak sesuai dengan faktanya. Yang disebut “bantuan” adalah memberi harta (uang, dll) kepada pihak lain tanpa meminta kompensasi/reward. Misalnya, memberi bantuan uang kepada korban bencana alam, atau membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban kekejaman Yahudi di Gaza, dan sebagainya. Dalam pemberian bantuan ini, jelas pihak pemberi tidak mendapat reward atau kompensasi finansial apapun. Itulah makna “bantuan” yang sesungguhnya, yang dalam terminologi hukum Islam diistilahkan dengan “shadaqah” atau “hibah”. Maka dari itu, klaim MMM sebagai komunitas sosial atau berprinsip saling “membantu” adalah kebohongan yang nyata. Sebab MMM jelas kegiatan bisnis atau investasi yang berorientasi keuntungan, bukan kegiatan sosial, karena anggotanya dijanjikan mendapat kompensasi berupa reward sebesar 30 persen.

Islam dengan tegas telah mengharamkan segala bentuk penipuan atau kebohongan. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW suatu saat melewati seonggok makanan yang dijual di pasar. Lalu Rasulullah SAW memasukkan tangannya ke dalam onggokan makanan itu hingga jari beliau menyentuh makanan yang basah. Rasulullah SAW bertanya,”Apa ini wahai penjual makanan?” Penjual makanan menjawab,”Itu kena hujan wahai Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW berkata,”Mengapa tak kamu letakkan yang basah itu di atas supaya dapat dilihat orang-orang? Barangsiapa yang menipu maka ia bukan golongan kami.” (HR Muslim)

Kedua, apa yang disebut reward sebesar 30 persen sesungguhnya adalah riba yang sudah jelas keharamannya dalam Islam dan merupakan dosa besar (al kabaa`ir). Na’uzhu billahi min dzalik. Karena uang yang ditransfer oleh anggota MMM kepada anggota lain hakikatnya bukanlah “bantuan”, melainkan dihukumi sebagai “pinjaman” (qardh) kepada anggota lainnya, yang suatu saat akan dikembalikan ditambah dengan ribanya sebesar 30 persen.

Islam telah mengharamkan pemberian pinjaman yang menghasilkan adanya tambahan atau manfaat. Dalilnya hadis dari Anas ra, dia berkata,”Seorang lelaki dari kami bertanya dia pernah memberi pinjaman (qardh) kepada saudaranya, lalu saudaranya memberi hadiah kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda,’Jika salah seorang kamu memberikan pinjaman lalu dia diberi hadiah, atau dinaikkan di atas kendaraan, janganlah dia menaiki kendaraan itu dan jangan pula menerima hadiah itu, kecuali itu sudah pernah terjadi sebelumnya antara dia [pemberi pinjaman] dan dia [peminjam].” (HR Ibnu Majah). Wallahu a’lam. (Ust. Shiddiq al Jawi)

Sumber: MediaUmat edisi 1435 H

Hukum Money Game”

Money game menggunakan sistem piramid mirip MLM, tapi tanpa jual beli produk seperti lazimnya MLM. Kalau ada penjualan produk, itu hanya kamuflase. Kamuflase ini bermacam-macam, misalnya bisnis laptop, pulsa, emas, berlian, alat pertanian, benda seni interior (art interior), alat kesehatan, trading forex, dan sebagainya. Menjelang tahun 2000 terbongkar beberapa perusahaan money game, seperti New Era 21, BMA, Solusi Centre, PT BUS (Republika, 25/7/1999; Adil, No.42 21-27 Juli 1999). Fakta-fakta mutakhir money game tahun 2012 ini misalnya Koperasi Langit Biru yang berkedok bagi hasil bisnis daging sapi dan Speedline yang berkedok trading forex (perdagangan valuta asing).

Money game hukumnya haram dan merupakan dosa besar, karena dua alasan utama; Pertama, karena money game adalah penipuan atau kecurangan (al ghisy). Perusahaan money game mengklaim mereka melakukan bisnis riil (jual beli produk), padahal faktanya tidak. Ini termasuk kategori penipuan/kecurangan (al ghisy) yang diharamkan Islam, berdasarkan riwayat Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW suatu saat melewati seonggok makanan yang dijual di pasar. Lalu Rasulullah SAW memasukkan tangannya ke dalam onggokan makanan itu hingga jari beliau menyentuh makanan yang basah. Rasulullah SAW bertanya,”Apa ini wahai penjual makanan?” Penjual makanan menjawab,”Itu kena hujan wahai Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW berkata,”Mengapa tak kamu letakkan yang basah itu di atas supaya dapat dilihat orang-orang? Barangsiapa berbuat curang maka ia bukan golongan kami.” (HR Muslim).

Kedua, karena perusahaan money game melakukan transaksi ribawi. Ketika perusahaan money game meminta member menanamkan uangnya ke perusahaan, sebenarnya perusahaan itu hanyalah meminjam uang membernya, bukan memutar uang itu dalam bisnis riil. Perusahaan itu lalu mengembalikan uang itu disertai tambahan yang disebut bonus atau komisi. Jelas ini adalah riba yang diharamkan Islam. Allah SWT berfirman (artinya),”Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al Baqarah [2] : 275). Wallahu a’lam.  (Ustadz Shiddiq Al jawi)

 

Jawaban dari konsultasi syariah.com.

Untuk menentukan hukum halal atau haram sesuatu yang baru dalam bidang muamalat tentu harus melihat perkembangan transaksi tersebut, bisa saja yang asalnya boleh menjadi haram ketika transaksi tersebut sistemnya berubah kepada transaksi yang haram, misalnya ada unsur penipuan, penggelapan, riba, dll.

Firman Allah Swt dalam surat al-Maidah ayat 2:
”Hendaklah kamu tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras dalam hukuman-Nya.
Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan:

Asal dalam mu’amalat adalah halal dan boleh kecuali kalau ada dalil yang mengharamkan atau melarang.
Membaca dari paparan tersebut, kami tidak bisa langsung mengatakan halal atau haram, karena hal tersebut harus dilihat dari sistem yang dijalankan. Kami hanya dapat memberikan beberapa jawaban alternatif, antara lain:

  1. Kalau posisinya sudah diperjanjikan dari awal bahwa si A kalau membantu B, C, D atau yang lainnya, akan mendapatkan uanganya kembali + 30% reward tersebut pada bulan berikutnya, sama saja si A memberikan utang kepada MMM, dan MMM menggunakan uang utang tersebut untuk membantu B,C,D, dan E walaupun transaksinya A langsung yang mentransfer dananya. Kemudian MMM berkewajiban mengembalikan uang (baca:utang) kepada si A dengan mencari dari orang lain yang bersedia membantu si A sebesar bantuan + 30% seabagai reward. Nah, transaksi ini sama saja dengan transaksi utang piutang yang bayarannya ada penambahan (reward ataupun bunga). Hal ini termasuk riba, dalam muamalat disebut riba nasiah, pinjaman uang dengan tambahan uang yang ditentukan dari nilai nominal pinjaman atau jumlah tertentu untuk waktu tertentu, dan apabila waktunya tiba sedangkan ia belum bisa membayarnya maka si kreditor harus membayar kembali jumlah tambahan yang ditentukan di muka tadi untuk waktu tertentu lagi, dan begitulah seterusnya.
    Belum lagi permasalahan, darimana MMM mendapatkan dana 30% untuk reward kepada si A, apakah reward tersebut diambil dari dana orang lain yang bersedia membantu si A tersebut ataukah murni dari komunitas MMM tersebut.
  2. Kalau posisinya, tidak diperjanjikan dari awal, MMM hanya sebagai lembaga penyalur atau pendata orang-orang yang memerlukan pertolongan, kemudian mencari siapa saja yang mau menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan tersebut (contoh si A) tanpa ada imbel-imbel di belakangnya, kemudian pada suatu saat si A yang menolong orang tersebut memerlukan bantuan lagi baik sebesar bantuannya yang telah lalu, atau lebih atau kurang. Selanjutnya MMM akan mencarikan lagi oang lain yang mau membantu si A tanpa imbel-imbel. Kemudian atas inisiatif MMM memberikan reward sebesar 30% atau lainnya kepada seseorang atas bantuannya tersebut dan dana tersebut diperoleh dari transaksi yang halal, maka hal ini menurut kami dapat dibenarkan dan halal.

 

Pendapat PCI (pimpinan cabang Indonesia) NU di Mesir :

Pada umumnya, para member tidak tahu dan tidak mau tahu dari mana dana profit berasal. Ketika seorang member MMM berhasil mencari member baru yang mendaftar di bawah akunnya (downline), maka ia juga akan mendapat bonus referral 10 persen di luar profit yang 30 persen.

Dalam upaya merumuskan hukum MMM, mubahitisin sudah menjalani perdebatan sejak membahas deskripsi, sistem kerja server dan realita atas praktik MMM sendiri. Dari diksusi alot yang berlangsung lebih dari enam jam itu, para peserta yang hadir sepakat memutuskan bahwa berpartisipasi dalam MMM dinyatakan haram. Penentuan hukum haram ini memperhatikan praktik MMM yang sejauh ini terdapat banyak penyimpangan menurut perspektif hukum Islam.

Penambahan profit 30% tanpa adanya usaha atas jumlah uang yang dikirimkan saat PH ke member lain menjadi alasan krusial keharamannya. Faktor MMM bukan termasuk lembaga yang bergerak di bidang investasi maupun usaha dan tidak berbadan hukum resmi juga menjadi alasan lain keharamannya.

Selain itu, berdasar pengalaman dari beberapa sumber yang ikut terlibat dalam MMM, ada yang hingga bahtsu ini dilaksanakan belum mendapatkan hak uang (GH dan profit) yang seharusnya menjadi miliknya, utamanya setelah terjadi restart.

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: