Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Junaidi, menanggapi kebijakan Arab Saudi yang membolehkan pasangan asing yang belum menikah sekamar di hotel.

Menurutnya, dalam konteks ini Saudi terlalu sekuler dalam menerapkan kebijakan. Ia mengaku sangat menyayangkan Saudi saat ini yang dinilainya terlalu sekuler dalam menerapkan kebijakan.

Muhyidin menyebut bahwa bijakan tersebut merupakan bentuk sekularisme, bukan kelonggaran.

Muhyiddin juga heran mengapa kultur seperti itu dibawa ke Saudi. Padahal di Saudi ada Makkah dan Madinah. Karena itu, kebijakan tersebut, di mata Muhyiddin, justru akan mengurangi kesakralan Saudi.

Arab Saudi memperbolehkan perempuan dan pria asing yang tidak menunjukkan adanya ikatan untuk menyewa kamar hotel bersama, setelah kerajaan konservatif tersebut meluncurkan visa turis baru untuk menarik wisatawan. Perempuan, termasuk warga Saudi, juga diizinkan menyewa kamar sendiri, menorobos peraturan sebelumnya.

Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional Arab Saudi menyatakan pemberlakuan ini tak hanya berlaku bagi orang asing, tapi juga warga Saudi termasuk perempuan.

Saudi melebarkan pintunya bagi wisatawan asing dari 49 negara dengan mengembangkan sektor pariwisata. Saudi juga meragamkan ekonominya agar tidak bergantung pada minyak. Wujud dari usaha ini, salah satunya aturan yang tidak mengharuskan memakai jubah panjang hitam tapi mesti berpakaian sopan. Sedangkan alkohol tetap dilarang. (khazanah.admin)

%d blogger menyukai ini: