Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas mengapresiasi Kuala Lumpur Summit yang digelar pada 19 hingga 21 Desember 2019. Salah satu agendanya akan membahas nasib etnis minoritas Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China. Selain membahas tentang muslim Uighur, Kuala Lumpur summit juga membahas tentang perang Yaman, gender, kesenjangan ekonomi di kalangan dunia islam dan islamophobia. Hal ini sebagaimana diungkapkan Buya Anwar kepada wartawan hari kamis kemarin.

Menurut Buya Anwar, masalah-masalah tersebut sangat tepat dibahas dalam Organisasi Kerja Sama Islam. Dia mengatakan OKI tampaknya kurang responsif dan lebih banyak menunggu sehingga mendorong Mahatir Mohamad menyelenggarakan Kuala Lumpur Summit.

Perdana Menteri Malaysia tersebut, menurut Buya Anwar, mengambil inisiatif dan langkah-langkah agar dunia bisa mendengar dan memerhatikan suara umat Islam dunia. Dengan begitu, negara-negara barat, Amerika Serikat, dan China bisa memperbaiki sikap dan pandangannya terhadap Islam.

Buya Anwar mengatakan, pandangan Barat, Amerika, dan China tersebut sangat merugikan umat Islam. Ia berharap Kuala Lumpur Summit akan bisa menemukan cara dan langkah penyelesaian terhadap masalah dan tantangan yang dihadapi dunia Islam, termasuk mengatasi Islamofobia. (khazanah.republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: