UIN Yogya meluluskan Abdul Aziz, penulis disertasi berjudul “Konsep Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital” yang sempat menuai kontroversi beberapa waktu lalu. Abdul Aziz dinyatakan lulus usai menjalani ujian doktoral pada 28 Agustus lalu dengan predikat sangat memuaskan.
Pihak UIN menyatakan, meski temanya kontroversial, secara akademik Abdul Aziz telah menjalani program doktoralnya dengan baik. UIN Sunan Kalijaga menghargai proses itu dan mengaku memberikan penilaian secara obyektif.
Menanggapi hal itu, Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI, Wido Supraha mengkritisi disetujuinya disertasi dengan judul kontroversial tersebut oleh Rektor, promotor, dan Dosen Pembimbing di UIN Yogya.
Menurutnya, jika sidang terbuka telah diselenggarakan untuk menginformasikan kelulusan resmi, maka tentunya seluruh proses menuju kelulusan mulai dari pemilihan judul, bimbingan dengan dosen pembimbing, sidang komisi, sidang tertutup sudah dilalui. Dan berarti para pihak yang namanya menandatangani dokumen tersebut telah menyetujuinya.
Menurut Wido hal Ini menunjukkan bahwa dunia akademik kampus Islam sendiri ternyata tidak menjadikan pandangan hidup Islam sebagai referensi proses. Semuanya dianggap netral ala Barat, padahal tidak ada yang netral, semua sisi kehidupan manusia selalu terikat dengan nilai. Sementara yang mengaku netral sebenarnya mereka mengikuti nilai-nilai barat. Hal ini sebagaimana diungkapkan Wido kepada media selasa kemarin.
Ia juga heran jika sosok Muhammad Syahrur yang liberal dijadikan rujukan dalam disertasi ini. Sosok seliberal Syahrur yang dengan tegas membolehkan seks bebas, dianggap lebih mulia dari para ulama yang telah bersepakat bahwa zina adalah haram.
Wido pun menyebut kejadian ini menarik, pasalnya didertasi ini keluar seirama dengan usaha sebagian anggota Komisi VIII DPR-RI untuk meloloskan RUU P-KS sebagai undang-undang menjelang akhir jabatan mereka di bulan ini.

%d blogger menyukai ini: