Majelis Ulama Indonesia menyampaikan para dai bebas memilih ikut program standardisasi dai atau tidak. MUI menegaskan bahwa program standarisasi dai bukan keharusan. Tapi pemerintah nanti akan membuat kebijakan memilih dai-dai yang bersertifikat untuk dakwah di masjid-masjid pemerintahan.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, Masduki Baidlowi mengatakan, secara teknis mesti dibedakan antara dai bersertifikat dengan sertifikasi dai. Sebab banyak orang salah paham tentang program standardisasi dai dengan mengiranya sebagai program sertifikasi dai.

Ia menjelaskan, bahwa sertifikasi sama seperti seorang guru yang membutuhkan sertifikat. Hal ini diungkap Masduki kepada Republika di kantor MUI Pusat, Senin kemarin.

Ia menyampaikan, para dai boleh ikut program standardisasi dai untuk mendapatkan sertifikat, tapi tidak ikut program juga tidak menjadi masalah.  Ia menegaskan, tidak ada pembatasan bagi dai yang belum memiliki sertifikat. Karena program standardisasi dai adalah pilihan dan bukan keharusan.

Tapi, Masduki mengingatkan, pemerintah nanti akan membuat kebijakan. Supaya dai-dai yang menyampaikan dakwah di masjid-masjid pemerintah adalah mereka yang sudah ikut program standardisasi dai. Karena narasi yang dibangun oleh dai bersertifikat itu narasi yang menggambarkan Islam sebagai agama yang tasamuh atau agama yang menghargai perbedaan. (khazanah.republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: