Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat menjelaskan jika fatwa haram menggunakan kata neraka, setan, dan iblis untuk nama produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik dan pakaian dilakukan untuk menjaga akidah masyarakat. MUI beralasan, penggunaan kata-kata tersebut akan mengikis kewaspadaan umat terhadap norma agama.

Ketua Umum MUI Sumbar Rizal Gazahar menjelaskan, penggunaan nama-nama itu artinya sama dengan memperolok neraka dan lain hal sebagainya. Dia mengatakan, hal-hal itu ketika disebut seharusnya menimbulkan kecemasan atau mawas diri bagi para penganut agama.

Jika dibiarkan yang terjadi malah sebaliknya. Secara bertahap itu akan menghilangkan rasa takut terhadap neraka.

Dia mengatakan, terbiasanya masyarakat dengan cara-cara seperti itu bakal mengikis dan secara perlahan akan menghilangkan rasa ketakutan terhadap neraka dal lain hal sebagainya itu. Dengan demikian, lanjut dia, ada aspek-aspek serta nilai-nilai akidah tauhid yang dirusak oleh hal-hal tersebut.

Ia mengimbau pelaku bisnis untuk mencari nama-nama yang baik, yang tidak menimbulkan sikap jijik dan hilangnya rasa ketauhidan.

Dia mengungkapkan, fatwa itu sebenarnya muncul berangkat dari laporan masyarakat yang meminta tanggapan MUI Sumbar atas banyaknya nama-nama produk yang menggunakan kata neraka, setan dan sebagainya. Dia mengatakan, fatwa tersebut juga dikeluarkan setelah ada diskusi bersama dengan MUI kabupaten dan kota di Sumbar.

Penggunaan kata-kata nyeleneh untuk nama produk kuliner menjadi tren tersendiri di Sumbar dalam setahun terakhir. Produk yang menggunakan kata ‘neraka’, ‘setan’, dan iblis biasanya untuk menggambarkan tingkat kepedasan ekstrim. Namun penggunaan nama itu menuai sorotan. Salah satunya dari Pemerintah Kota Padang.(kazhanah/admin)

 

%d blogger menyukai ini: