Penduduk Muslim di Myanmar telah meminta izin untuk membuka kembali delapan masjid yang ada di kota Mandalay yang ditutup enam tahun lalu. Permintaan tersebut dilayangkan didorong oleh upaya perbaikan baru-baru ini dari Jenderal Senior Min Aung Hlaing dengan agama-agama non-Budha di negara tersebut.

Sebelumnya, penduduk Muslim di kota tersebut mengirim surat ke Kantor Penasihat Negara, Kantor Panglima dan Departemen Kebudayaan dan Agama. Menurut sekretaris Dewan Urusan Agama Islam, Wunna Maung Shwe, dalam surat tersebut mereka meminta dibukanya kembali enam rumah ibadah umat Islam di kota-kota Meiktila dan Yamethin.

Maung Shwe, mengatakan bahwa Muslim di Meiktila dan Yamethin menyambut baik upaya Panglima untuk berkomunikasi dengan non-Buddha, tetapi ia tidak tahu niatnya.

Sementara itu, juru bicara Departemen Kebudayaan dan Agama Myanmar, U San Win mengatakan mereka belum menerima surat tersebut. Ketua Dewan Islam Mandalay, U Maung Maung, mengatakan ia bertanya kepada Jenderal Min Aung Hlaing tentang pembukaan kembali masjid-masjid lain ketika ia mengunjungi Masjid pada Juni lalu. Kunjungan saat itu dilakukan dalam rangka memberikan sumbangan beras, minyak goreng, kacang polong dan uang.

Masjid-masjid di kota Meiktila dan Yamethin ditutup di tengah terjadinya kekerasan komunal yang intens di Mandalay pada 2014 lalu. Namun, ketegangan telah mereda. Jenderal Min Aung Hlaing pun mulai mengunjungi tempat-tempat suci Hindu, Muslim, Kristen, dan non-Budha lainnya bulan lalu. Hal tersebut disebut sebagai upaya untuk menumbuhkan persatuan di antara berbagai agama di negara itu. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: