Bersikap Lemah-lembut Kepada Anak Yatim.

Menyantuni anak yatim merupakan sebaik-baik amal ibadah yang di dalamnya seseorang akan mendapatkan keutamaan dan pahala besar di sisi Alloh. Di antara keutamaannya, bahwa orang yang menyantuni anak yatim di dunia, maka kelak ia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu anhu dia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

(( أَنَا وَكَافلُ اليَتِيمِ في الجَنَّةِ هَكَذا )) وَأَشارَ بالسَّبَّابَةِ وَالوُسْطَى، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا.

‘Aku dan orang yang menanggung anak yatim kedudukannya di surga seperti ini’, kemudian beliau Shallallahu alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta agak merenggangkan keduanya.” (HR al-Bukhari)

Berwasiat Kepada Kaum Wanita

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk mengikuti perintah-perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan di antara perintah yang sangat beliau tegaskan dan sering beliau sebut-sebut ialah tentang hak wanita. Adapun di antara hak wanita, yaitu berlemah lembut terhadap mereka, mudah memaafkan mereka, dan bersabar terhadap kebengkokan mereka.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda:

(( اسْتَوْصُوا بالنِّساءِ خَيْراً؛ فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلعٍ، وَإنَّ أعْوَجَ مَا في الضِّلَعِ أعْلاهُ، فَإنْ ذَهَبتَ تُقيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإنْ تَرَكْتَهُ، لَمْ يَزَلْ أعْوجَ، فَاسْتَوصُوا بالنِّساءِ ))

“Kalian diwasiati untuk berbuat baik kepada para wanita. Sesungguhnya para wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berupaya meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, dan jika engkau membiarkannya maka ia akan tetap saja bengkok. Oleh karena itu, berbuat baiklah kepada wanita.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hak Suami Yang Wajib Dipenuhi Oleh Isteri

Sesungguhnya Islam telah mengatur hak dan kewajiban dalam berumah tangga, salah satunya tentang hak suami yang wajib dipenuhi oleh istrinya. Dan di antara hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri, yaitu istri wajib taat kepada suaminya selama suaminya tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat. Karena buah dari ketaatan adalah ridho suami, dan dimasukkan ke dalam Surga.

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, ia berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(( أيُّمَا امْرَأةٍ مَاتَتْ، وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الجَنَّةَ ))

“Siapapun wanita yang meninggal dunia dan suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga.” (HR. At-Tirmidzi, dan berkata: Hadits Hasan)

Memberikan Nafkah Kepada Keluarga

Memberi nafkah kepada keluarga hukumnya adalah wajib bagi setiap ayah atau suami, sedangkan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya adalah sunnah. Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan sunnah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(( دِينَارٌ أنْفَقْتَهُ في سَبيلِ اللهِ، وَدِيْنَارٌ أنْفَقْتَهُ في رَقَبَةٍ، وَدِينارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ، أعْظَمُهَا أجْراً الَّذِي أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ ))

“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau shadaqahkan kepada seorang miskin dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim)

Kewajiban Menyuruh Anak-anak untuk Shalat

Perhatian terhadap shalat harus menjadi prioritas utama bagi orang tua kepada anaknya. Karena Shalat merupakan tiang agama, jika seseorang melalaikannya niscaya agama ini tidak bisa tegak pada dirinya. Untuk itulah, hendaknya orang tua memberikan contoh kepada anaknya dengan senantiasa shalat di awal waktu dengan berjama’ah di masjid, mengajaknya serta menanyakan kepada anaknya apakah dia telah menunaikan shalatnya ataukah belum.

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya berkata, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( مُرُوا أوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أبْنَاءُ سَبْعِ سِنينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المضَاجِعِ ))

“Perintahlah anak-anakmu agar menunaikan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika enggan menunaikannya ketika mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan antara mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Dawud. Hadits Hasan)

Hak Tetangga Dan Berwasiat Dengannya

Islam menekankan bagi pemeluknya untuk menunaikan hak-hak para tetangga. Islam memerintahkan untuk senantiasa berbuat baik terhadap tetangganya dan tidak menyakiti mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Karena orang yang tidak berbuat baik kepada tetangganya, bahkan tetangganya merasa terganggu dengan perbuatan ataupun perkataannya yang keji, maka orang seperti ini berhak untuk masuk neraka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

(( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بالله وَاليَومِ الآخرِ، فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ باللهِ وَاليَومِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَسْكُتْ ))

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka janganlah ia mengganggu tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Berbakti Kepada Kedua Orangtua

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah saja atau hablun minallah, namun juga mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia atau hablun minannas. Dan hablun minannas yang pertama dan paling utama bagi setiap muslim adalah berbakti kepada orang tua.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ قَالَ: (( الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا ))، قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: (( بِرُّ الوَالِدَيْنِ ))، قُلْتُ: ثُمَّ أيٌّ؟ قَالَ: (( الجِهَادُ في سبيلِ الله ))

“Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua’. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhori dan Muslim)

 

%d blogger menyukai ini: