Perdana Menteri Palestina Mohammed Shtayyeh  bertemu dengan delegasi Kongres Amerika Serikat di kantornya di Ramallah. Dalam pertemuan itu, Shtayyeh meminta anggota Kongres menekan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menghentikan tindakan sepihak yang merugikan terhadap Palestina.

Menurut Stayeb, Trump telah salah arah dan tak lagi menjadi perantara perdamaian yang jujur. Hal ini sebagaimana diungkapkan  Shtayyeh saat berbicara kepada anggota parlemen pada Rabu kemarin sebagaimana dikutip kantor berita palestina.

Pada kesempatan itu, Shtayyeh pun mengutarakan kemarahan dan kekecewaannya terhadap Israel. Dia mengatakan, Palestina telah menandatangani banyak perjanjian dengan Israel. Namun Tel Aviv tak pernah mematuhinya.

Menurut Shtayyeh, di internal Israel memang ada pembicaraan. Namun pembicaraan bukan antara mereka yang menginginkan perdamaian dan kelanjutan pendudukan. Mereka yang terlibat dalam pembicaraan adalah mereka yang ingin mempertahankan status quo dan mereka yang ingin merebut lebih banyak tanah Palestina. Dengan demikian peluang Palestina untuk menjadi negara merdeka pupus.

Palestina diketahui telah mundur dari perundingan damai dengan Israel yang dimediasi Amerika. Langkah itu diambil setelah Washington mengakui Yerussalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017. Sejak saat itu, Palestina tak lagi melihat Amerika sebagai mediator perdamaian yang netral dan dapat diandalkan.

Sebab Washington bias dan sangat mengakomodasi kepentingan politik Israel. Amerika sempat berupaya menekan Palestina agar bersedia kembali ke meja perundingan. Salah satu cara yang ditempuh Amerika adalah menghentikan dana bantuan rutin untuk Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina. Penghentian dana oleh Amerika  seketika membuat badan bantuan PBB untuk pengungsi Palestina mengalami krisis finansial. (international.admin)

 

%d blogger menyukai ini: