Pascaserangan tentara Israel selama dua hari berturut-turut ke Gaza, sejumlah rumah sakit di jalur Gaza tempat evakuasi para korban mengalami krisis obat-obatan. Krisis ini terjadi lantaran minimnya akses jalur terbuka yang diblokade Israel sejak 2006.

Aktivis dan relawan asal Indonesia yang bertugas di jalur Gaza, Abdillah Onim, menyampaikan, meski seluruh warga yang menjadi korban keganasan tentara Israel telah ditangani di sejumlah rumah sakit sekitar, namun ketersediaan obat-obatan masih sangat mendesak. Hal ini sebagaimana diungkapkan Onim saat dihubungi media senin kemarin.

Keseluruhan rumah sakit ini krisis obat-obatan mendesak seperti cairan infus, cairan pembius, hingga kantong-kantong darah bagi kebutuhan medis mendesak. Minimnya obat-obatan itu tak jarang membuat para dokter melakukan tindakan medis darurat tanpa menggunakan obat bius kepada pasien.

Menurutnya, serangan terhadap warga Gaza oleh Israel bermula dari aksi demonstrasi terkait perjanjian Balfour, Jumat kemarin. Perjanjian Balfour merupakan sebuah pernyataan publik yang dikeluarkan oleh pemerintah Britania saat Perang Dunia I yang mengumumkan dukungan dan klaim pendirian tanah air bagi orang Yahudi di Palestina.

Demonstrasi yang awalnya berlangsung damai menjadi rusuh setelah tentara Israel menembakkan peluru mematikan ke arah demonstran. Tak hanya itu, tentara Israel juga menyapu para demonstran dengan senjata tajam. Melihat masifnya korban-korban yang berjatuhan, para pejuang Palestina membalas serangan tentara Israel dengan menembakkan roket yang tak lama kemudian dibalas bombardir oleh Israel. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: