Ungkapan fanatisme anti-Muslim dari pekerja India di luar negeri, menjadi salah satu alasan mereka dipecat dari pekerjaan. Pasalnya, kebijakan dan langkah yang diambil perusahaan atau pemerintah setempat dinilai tak sesuai dengan pemikiran anti-Muslim dari pekerja India itu.

Mengutip Straits Times, Selasa kemarin, Ravi Hooda, salah satu pekerja India di bidang real estate di Kanada harus rela dipindahkan dari posisinya bekerja karena penolakannya atas kebijakan Muslim. Utamanya, ketika dia menentang keputusan Wali Kota Brampton, untuk mengizinkan kembali operasional masjid, termasuk mengumandangkan adzan.

Dalam pernyataanya, Hooda malah mempertanyakan keputusan wali kota tersebut melalui cuitannya. Dengan sanksi yang didapat, Hooda seharusnya bersyukur. Sebab, kritik menyinggung Muslim serupa di Uni Emirat Arab dan Kuwait, malah berujung pemecatan pada 10 pekerja India.

Menanggapi hal itu, Duta Besar India untuk Uni emirat langsung memperingatkan warganya melarang aksi cacian dan perilaku serupa.

Sementara di India, pemerintahan, bahkan politikus senior kerap kali mencicitkan hal-hal yang bersifat kebencian atau diskriminatif. Kefanatikan anti-Muslim itu semakin melonjak ketika ada berbagai pertemuan jamaah Tabligh yang menyebabkan hotspot Covid-19. Alhasil, banyak komentar warga india di media sosial yang menyalahkan Muslim terkait hal itu.

Atas berbagai tindakan islamofobia itu, beberapa orang Muslim India telah menuntut agar segala tindakan atau konten di media sosial yang memicu islamofobia dicabut. Meskipun, belum ada laporan lebih lanjut. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: