Peneliti Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an atau LPMQ, Ahmad Jaeni menegaskan perlu adanya sertifikasi guru Al-Quran. Hal ini diungkapkannya usai menemukan masih banyak dari mahasiswa Universitas Islam Negeri yang kemampuan baca tulis Al-Quran nya dibawah standar.

Temuan terungkap dari hasil penelitian tentang Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Mahasiswa UIN di Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada 14 UIN yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dengan metode ex post facto.

Setiap kampus dipilih 50 responden dengan komposisi 25 mewakili prodi umum, dan 25 mewakili prodi agama. Pengumpulan data dilakukan pada September 2019, dengan menggunakan empat instrumen yang secara teknis dilakukan secara simultan, yaitu: tes kemampuan, kuosioner, wawancara, dan dokumentasi.

Menurut Ahmad, hampir 30 persen dari responden memiliki indeks kemampuan baca tulis Al-Qur’an di bawah 2 dari skala 1 sampai 5. Hal ini diungkapkan Ahmad Jaeni dalam siaran pers yang diterima media kamis kemarin.

Menurutnya, setidaknya ada dua faktor utama penyebab mereka berkemampuan baca tulis Al-Qur’an rendah. Pertama, pembelajaran Al-Qur’an tidak tuntas. Kedua, gurunya tidak kompeten. Faktor kompetensi guru menjadi sorotan Jaeni dalam seminar ini. Sebab, sebaik apapun metode yang digunakan, keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an sangat tergantung pada kompetensi guru. (kiblat.net/admin)

%d blogger menyukai ini: