Minoritas paling teraniaya di dunia, Muslim Rohingya, memiliki kekhawatiran tentang masa depan mereka di pemukiman pengungsi terbesar di dunia di Bangladesh, karena banyak dari mereka menderita akibat kurangnya pendidikan dan bimbingan.

Setelah melarikan diri dari perbatasan Myanmar ke Bangladesh tenggara sejak Agustus 2017, lebih dari 700 ribu Muslim Rohingya menghabiskan tahun pertama untuk bertahan hidup, membangun tempat berlindung dan menyesuaikan diri untuk kehidupan pengungsi. Tapi dalam 18 bulan kemudian, mereka mengalami ketidakpastian untuk masa depan.

Di bawah peraturan pemerintah Bangladesh, hanya anak-anak berusia hingga 14 tahun yang dapat menghadiri pusat belajar untuk belajar bahasa Inggris, Burma, matematika dan keterampilan hidup. Sementara agen-agen bantuan mempekerjakan orang dewasa untuk bekerja di puluhan kamp yang membentuk pemukiman pengungsi. Sehingga banyak remaja yang bingung untuk mengisi hari-hari mereka di pengungsian. Hal ini sebagaimana diungkapkan media pada hari jumat kemarin.

Berbagai lembaga bantuan telah menyatakan keprihatinan bahwa hal ini membuat remaja sangat rentan terhadap perdagangan manusia, pelecehan dan eksploitasi. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah laporan organisasi Kelompok Koordinasi Antar-Sektor. ( Arrahmah/admin)

%d blogger menyukai ini: