Kehidupan di kamp pengungsi Rohingya di India semakin sulit. Di tengah wabah virus corona baru Covid-19, mereka harus hidup dalam keterbatasan logistik dan layanan kesehatan. Selama sepekan terakhir, Din Mohammad, yang tinggal bersama istri dan lima anaknya di kamp pengungsi Rohingya di Madanpur Khadar, New Delhi, menerapkan jarak sosial dengan para pengungsi lainnya. Dia pun berusaha menjaga gubuknya yang terbuat dari kayu dan lembaran plastik tetap bersih.

Namun Mohammad menyadari, pembatasan sosial sulit diterapkan karena kepadatan kamp. Di sisi lain, para penghuni masih kekurangan fasilitas dasar seperti toilet dan air bersih. Artinya, mereka masih harus berbagi satu sama lain.

Kondisi serupa dialami para pengungsi Rohingya di distrik Nuh di Haryana. Kamp di sana dihuni hampir 400 keluarga. Bagi mereka sabun adalah barang mewah. Sementara, membeli masker wajah dan cairan pencuci tangan tampaknya masih mustahil bagi para pengungsi.

Seorang pengungsi bernama Jaffar Ullah mengaku menghabiskan sabun terakhirnya pada Sabtu pekan lalu. Dia tak memiliki apapun untuk mencuci tangannya guna mencegah corona.

Pekerja kota setempat menyemprotkan disinfektan di daerah perumahan terdekat. Namun, area kamp pengungsi tak disinggahi. Ullah mengungkapkan selama beberapa terakhir, ada beberapa pengungsi yang mengalami demam dan Jumlah mereka pun terus meningkat. Jaffar mengaku tidak tahu apakah demam tersebut terkait virus corona atau tidak, tapi orang-orang khawatir dan takut. Mereka tak dapat pergi ke rumah sakit karena departemen rawat jalan ditutup akibat lockdown.

Perdana Menteri India Narendra Modi memang telah menerapkan lockdown. Namun, kekacauan segera terjadi tak lama setelah langkah itu diambil. Ribuan warga berbondong-bondong menyerbu pasar dan supermarket untuk membeli logistik serta kebutuhan lainnya.

Kordinator pengungsi mengatakan bahwa organisasi pengungsi UNHCR abai terhadap kebutuhan para pengungsi. Sementara Kantor UNHCR di New Delhi membantah menunda responsnya terhadap kondisi pengungsi Rohingya. UNHCR mengklaim telah memantau situasi dengan teliti dan berkoordinasi dengan organisasi nirlaba lokal.

Terdapat hampir 40 ribu pengungsi Rohingya di seluruh India. Mereka tinggal di berbagai kamp dengan fasilitas dasar seadanya. Di tengah pandemi Covid-19, mereka khawatir bencana kemanusiaan telah mengintai. (repuvlika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: