Tatkala kaum Quraisy melihat Rasulullah masih terus melakukan aktivitas dakwahnyanya, tahulah mereka bahwa kedatangan mereka kepada Abu Thalib sia-sia karena ia masih tetap tak berkeinginan untukmengucilkan Rasulullah .Bahkan mereka merasa bahwa Abu Thalib telah bulat hatinya untuk memisahkan diri dan memusuhi Kaum Musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, kembali sebagai upaya membujuk Abu Tholib agar mau menyerahkan Rosululloh kepada mereka, mereka membawa ‘Imarah bin al-Walid bin al-Mughirah ke hadapan Abu Tholib, seraya berujar:”wahai Abu Thalib! Sesungguhnya ini ada seorang pemuda yang paling rupawan dan tampan di kalangan kaum Quraisy! Ambillah dia, maka dengan begitu, engkau dapat berbuat sesukamu, mengikatnya atau membebaskannya (membelanya). Jadikanlah

dia sebagai anakmu, maka dia jadi milikmu. Lalu serahkan kepada kami keponakanmu (Rosululloh Muhammad ) yang telah menyelisihi agamamu dan agama nenek-nenek moyangmu itu, menceraiberaikan persatuan kaummu dan membuyarkan impian mereka, untuk kami bunuh. Ini adalah barter diantara kita dan menjadi impas, seorang (ditukar) dengan seorang“.

Menanggapi hal tersebut, Abu Thalib lantas menjawab: “Demi Allah! Sungguh tawaran kalian tersebut sesuatu yang murahan! Apakah kalian ingin memberikan kepadaku anak kalian ini agar aku beri makan untuk kepentingan kalian sementara aku memberikan anakku (Rosululloh Muhammad saw) agar kalian bunuh?. Demi Allah! ini tidak akan pernah terjadi!“. Kemudain Al-Muth’im bin ‘Adiy bin Naufal bin ‘Abdu Manaf ikut berbicara, ia berkata:”Demi Allah, wahai Abu Thalib! Kaummu telah berbuat adil terhadapmu dan berupaya untuk membebaskanmu dari hal yang tidak engkau sukai. Jadi, apa sebabnya engkau tidak mau menerima sesuatupun dari tawaran mereka?“. Abu Tholib kembali menjawab, “Demi Allah! kalian bukannya berbuat adil terhadapku, akan tetapi kalian telah bersepakat menghinakanku dan mengkonfrontasikanku dengan kaum Quraisy. Oleh sebab itu, lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan!“.

Pembaca yang budiman, Ketika kaum Quraisy gagal dalam perundingan tersebut dan tidak berhasil membujuk Abu Thalib untuk mencegah Rasulululah dan mengekang laju dakwahnya kepada Allah, maka mereka pun memutuskan untuk memilih langkah yang sebelumnya mereka hindari dan tidak menyerempetnya, karena khawatir akan akibat yang akan datang karena langkah tersebut, yaitu langkah memusuhi pribadi Rasululullah .

Kaum Quraisy membatalkan sikap pengagungan dan penghormatan yang dulu pernah mereka tampakkan terhadap Rasulullah baik sebelum maupun setelah munculnya dakwah Islamiyyah di lapangan. Memang, sungguh sulit merubah sikap yang terbiasa dengan kebengisan dan kesombongan untuk berlama-lama sabar, maka dari itu, mereka mulai langsung mengulurkan tangan permusuhan terhadap Rasulullah Sebagai buktinya, mereka mulai dengan melakukan berbagai bentuk ejekan, hinaan, pencemaran nama baik dan lain sebagainya.

Dan Tentunya, sudah lumrah bila yang pertama-tama menjadi ujung tombaknya adalah Abu Lahab sebab dia adalah seorang kepala suku Bani Hasyim. Dia tidak pernah memikirkan pertimbangan apapun sebagaimana yang selalu dipertimbangkan oleh tokoh-tokoh Quraisy lainnya. Dia adalah musuh bebuyutan Islam dan para pemeluknya kendati ia salah seorang paman Rosul. Sejak pertama, dia sudah menghadang dakwah Rasulullah sebelum kaum Quraisy berkeinginan melakukan hal itu. Kita telah membahas bagaimana prilaku Abu Lahab terhadap Nabi di majlis Bani Hasyim dan di bukit Shafa. Padahal Sebelum beliau diutus menjadi Rosul, Abu Lahab telah mengawinkan kedua anaknya, ‘Utbah dan ‘Utaibah dengan kedua putri Rasululah Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Namun tatkala beliau diutus menjadi Rasul, dia memerintahkan kedua anaknya tersebut agar menceraikan kedua putri beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan cara yang kasar dan keras, hingga akhirnya terjadilah perceraian itu.

Bukan hanya itu saja kebencian yang Abu Lahab kepada Dakwah Tauhid ini, bahkan Ketika ‘Abdullah, putra kedua Rasulullah saw wafat, Abu Lahab amat gembira dan mendatangi semua kaum Musyrikin untuk memberitakan perihal Muhammad yang sudah menjadi Abtar (orang yang terputus nasabnya dan terputus dari rahmat Alloh). Oleh karena itu, Allah Ta’ala menurunkan ayat ke-3, dari surat al-Kautsar, yang berbunyi,

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar : 3)

Pembaca yang budiman, Sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya, Abu Lahab memang selalu menguntit di belakang Rasulullah saat musim haji dan di pasar-pasar sebagai upaya mendustakannya. Dalam hal ini, Thariq bin ‘Abdullah al-Muhariby meriwayatkan suatu berita yang intinya bahwa yang dilakukan Abu Lahab tidak sekedar mendustakan Rasulullah, akan tetapi lebih dari itu, dia juga memukul beliau dengan batu hingga kedua tumit beliau berdarah. Bukan hanya itu, Isteri Abu Lahab pun, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah saudara perempuan Abu Sufyan, tidak kalah frekuensi permusuhannya terhadap Nabi dibanding sang suami. Dia pernah membawa dedurian dan menebarkannya di jalan yang dilalui oleh Nabi Bahkan pernah pula, di depan pintu rumah beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam pada malam harinya. Dia adalah sosok perempuan yang judes. Lisannya selalu dijulurkan untuk mencaci beliau mengarang berita dusta dan berbagai isu buruk tentang beliau menyulutkan api fitnah serta mengobarkan perang membabibuta terhadap dakwah Nabi Oleh karena itulah, al-Qur’an menyifatinya dengan Hammaalatal Hathab (wanita pembawa kayu bakar). Alloh berfirman,

dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab : 4-5)

Kemudian Ketika dia mendengar ayat al-Qur’an yang turun mengenainya dan suaminya, dia langsung mendatangi Rasulullah yang sedang duduk-duduk bersama Abu Bakar ash-Shiddiq . Dia pun telah membawa segenggam batu ditangannya untuk mencelakakan Rosululloh saw, namun ketika dia berdiri di hadapan keduanya, Allah membutakan pandangannya dari beliau sehingga dia tidak melihat selain Abu Bakar, lantas dia berkata: “wahai Abu Bakar! Mana shahabatmu itu? Aku mendapat berita bahwa dia telah mengejekku (maksudnya dengan diturunkannya surat al-Lahab). Demi Allah! andai aku menemuinya niscaya akan aku tampar mulutnya dengan segenggam batu ini. Demi Allah! Bukankah sesungguhnya aku ini seorang Penyair?. Kemudian dia menguntai bait berikut (artinya):

Si tercela yang kami tentang,

Urusannya yang kami tolak,

Diennya yang kami benci

Kemudian dia berlalu. Setelah kepergiannya, Abu Bakar lantas berkata, “wahai Rasulullah! Bukankah engkau melihatnya dan ia juga dapat melihatmu?“. Beliau menjawab: “Dia tidak dapat melihatku. Sungguh! Allah telah membutakan pandangannya dariku“.

Demikianlah pendengar yang budiman, yang dilakukan oleh Abu Lahab padahal ia adalah paman Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam sekaligus tetangganya, rumahnya menempel dengan rumah beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Namun kedekatan nasabnya, tidak menjadikannya orang yang lembut. Ia Sama seperti tetangga-tetangga beliau yang lain yang selalu mengganggu beliau padahal beliau tengah berada di dalam rumah.

Mengenai hal ini, Ibnu Ishaq berkata: “Mereka yang selalu mengganggu Rasulullah saat beliau berada di rumah tersebut adalah Abu Lahab, al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, ‘Adiy bin Hamra’ ats-Tsaqafy dan Ibnu al-Ashda’ al-Hazaly. Semuanya adalah tetangga-tetangga beliau namun tak seorangpun diantara mereka yang masuk Islam kecuali al-Hakam bin Abi al-‘Ash. Bahkan Salah seorang diantara mereka ada yang melempari beliau dengan isi perut (kotoran) kambing saat beliau tengah melakukan shalat. Yang lain lagi, bila priuk milik beliau yang terbuat dari batu- tengah dipanaskan (untuk memasak), maka mereka masukkan bangkai ke dalamnya. Hal ini, membuat Rasulullah mamasang tabir agar dapat terlindungi dari kejahatan mereka manakala belia tengahmelakukan shalat. Bila usai mereka melakukan kejahatan tersebut, Rasulullah membawa kotoran dan bangkai tersebut keluar dan meletakkannya diatas sebatang ranting, kemudian berdiri di depan pintu rumah beliau lalu bersabda, “wahai Bani ‘Abdi Manaf! Tetangga-tetangga model apa yang seperti ini (jahat) kelakuannya?“. Kemudian kotoran-kotoran tersebut beliau lempar ke jalan.

Pembaca yang budiman, tidak cukup sampai disitu, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith malah melakukan hal yang lebih buruk dan busuk dari itu semua kepada Rosululloh apakah yang dilakukannya? Kita akan simak kelanjutannya pada edisi yang akan datang? Insya Alloh. wallohu a’lam.

 

%d blogger menyukai ini: