Konflik brutal Suriah memasuki tahun ke-10 pada hari Ahad kemarin. Rezim Presiden Bashar al-Assad masih tetap bertahan dan membombardir semua wilayah dengan bantuan Iran dan Suriah. Ketika warga Suriah turun ke jalan pada 15 Maret 2011, mereka nyaris tidak membayangkan protes damai anti-pemerintah mereka akan berubah menjadi perang panjang yang melibatkan berbagai pihak. Mulai dari pejuang oposisi sekuler, jihadis, dan pasukan luar turut ambil bagian dalam perang 10 tahun tersebut.

Setidaknya 500 ribu orang sudah meninggal, termasuk lebih dari 116 ribu warga sipil. Konflik telah menggusur lebih dari 11 juta orang. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Hala Ibrahim, seorang aktivis hak asasi yang sekarang tinggal di kota Dana, di provinsi Idlib. Wanita itu mengaku meninggalkan universitas dan rumahnya dibom. Dia telah kehilangan segalanya.

Berasal dari kota utara Aleppo, Ibrahim pergi pada akhir 2016 setelah rezim merebut kembali daerah yang dikuasai pejuang oposisi dan dia mencari perlindungan di Idlib. Berkat dukungan militer Rusia, Iran dan kelompok milisi Syi’ah Libanon Hizbulah, Assad telah merebut kembali kendali atas lebih dari 70 persen negara yang dilanda perang.

Gencatan senjata yang rapuh diberlakukan di barat laut awal bulan ini, dan para pejabat Turki dan Rusia telah sepakat untuk memulai patroli bersama di Idlib.

Pasukan Suriah dan pesawat tempur Rusia telah membombardir wilayah itu sejak Desember, menewaskan hampir 500 warga sipil, sebagaimana pantauan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyebutkannya. Sementara hampir sejuta orang telah meninggalkan idlib.

Seorang warga bernama Siham dan tujuh anaknya telah tinggal selama dua bulan terakhir di sebuah kamp untuk pengungsian Idlib di dekat Bardaqli, tidak jauh dari perbatasan Turki. Banyak dari mereka yang tidak dapat menemukan tempat di kamp telah tidur di ladang atau mencari perlindungan di sekolah, masjid dan bangunan yang belum selesai. (voa-islam.com/admin)

%d blogger menyukai ini: