Dalam Artikel Siroh Nabawiyah kali ini, insyaAlloh kita akan melanjutkan artikel lalu yakni menganai peristiwa-peristiwa penting sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi seorang Nabi dan Rosul pada bagian ke-2.

Setelah Nabi -saw- menikahi Khodijah binti khuwailid, Pada saat beliau berusia tiga puluh lima tahun, kabilah Quraisy membangun Ka’bah kembali karena kondisinya sebelum itu, hanyalah berupa tumpukan-tumpukan batu hingga setinggi badan manusia, yaitu setinggi sembilan hasta di masa Nabi Ismail dan tidak memiliki atap. Karenanya, harta terpendam yang ada didalamnya berhasil dicuri oleh segerombolan para pencuri kala itu. Disamping itu, karena merupakan peninggalan sejarah, ka’bah juga sering diserang oleh pasukan berkuda sehingga merapuhkan bangunannya dan merontokkan sendi-sendinya.

Selain, lima tahun sebelum beliau diutus menjadi seorang Nabi dan Rosul, Mekkah dilanda banjir besar dan airnya meluap mencapai pelataran al-Baitul Haram, sehingga mengakibatkan bangunan ka’bah hampir runtuh. Oleh sebab itu Orang-orang Quraisy terpaksa merenovasi bangunannya untuk menjaga reputasi mereka dikalangan bangsa arab dan bersepakat untuk tidak membangunnya dari sembarang sumber dana selain dari sumber usaha yang baik. Mereka tidak mau memakai dana dari hasil pelacuran, transaksi ribawi dan hasil pemerasan terhadap orang-orang ataupun dana-dana haram lainnya.

Kemudian setelah dana-dana yang bersumber dari hasil yang baik terkumpul, Mereka pun merasa segan untuk merobohkan bangunan suci ka’bah, karena khawatir tertimpa azab dan bencana disebabkan mereka menghancurkan Baitulloh. Sampai akhirnya dimulailah oleh al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi, baru kemudian diikuti oleh yang lainnya setelah mereka melihat tidak terjadi apa-apa terhadapnya.

Selanjutnya Mereka terus melakukan perobohan hingga sampai ke pondasi pertama yang dulu diletakkan oleh Nabi Ibrahim . Setelah itu mereka memulai perenovasian Ka’bah, dimana pertama-pertama mereka membagi bagian bangunan ka’bah yang akan dikerjakan menjadi beberapa bagian, yaitu masing-masing kabilah mendapat satu bagian dan mengumpulkan sejumlah batu sesuai dengan jatah masing-masing kabilah, lalu dimulailah perenovasiannya. Sementara itu yang menjadi pimpinan proyeknya adalah seorang arsitek asal Romawi yang bernama Baqum. Setelah itu, tatkala perenovasian Ka’bah tersebut sampai ke Hajar Aswad, mereka pun bertikai, tentang siapa yang paling berhak untuk meletakkannya ke tempat semula. Bahkan dikisahkan bahwa pertikaian tersebut berlangsung selama empat atau lima malam, dan bukan hanya itu pertikaian pun semakin meruncing sehingga hampir terjadi peperangan yang sangat dahsyat di tanah al-Haram .

Namun dalam masa sulit itu, hadirlah Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi menengahi dan menawarkan penyelesaian pertikaian diantara mereka lewat perundingan damai. Adapun caranya, yaitu siapa yang paling dahulu memasuki pintu masjid diantara mereka maka dialah yang berhak meletakkannya. Sontak saja solusi ini dapat diterima oleh semua kabilah dan atas kehendak Allah Ta’ala, Rasulullah lah yang menjadi orang pertama memasuki baitul Haram. Kemudian Tatkala mereka melihat NAbi yang pertama memasuki masjid, beliau pun disambut dengan teriakan: “inilah al-Amiin! Kami rela! Inilah Muhammad!“.

Nabi pun kaget mendengar hal tersebut, namun ketika beliau mendekati mereka dan diberitahu tentang hal tersebut, beliau meminta sehelai selendang dan meletakkan al-Hajar al-Aswad ditengahnya, lalu pemimpin-pemimpin kabilah yang bertikai tersebut diminta agar masing-masing memegang ujung selendang dan memerintahkan mereka untuk mengangkatnya tinggi-tinggi, selanjutnya ketika batu itu telah dekat ke tempatnya, beliau mengambilnya dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan solusi yang tepat dan jitu yang diridhai oleh semua pihak dari orang yang dipercaya oleh semua pihak pula.

Sesungguhnya telah terhimpun pada diri Nabi sejak dari perkembangannya kelebihan-kelebihan terbaik yang ada pada lapisan masyarakat kala itu. Beliau adalah tipe manusia utama dari sisi kejernihan berpikir dan ketajaman pandangan. Beliau memiliki porsi kecerdikan yang lebih, orisinilitas pemikiran dan ketepatan sarana serta misi. Beliau biasa diam berlama-lama untuk renungan yang panjang, pemusatan pikiran serta pencapaian kebenaran. Dengan akalnya yang brilian dan fithrahnya yang suci beliau memonitor lembaran kehidupan, urusan manusia dan kondisi banyak kelompok dan kabilah. Karenanya, beliau acuh terhadap segala bentuk khurafat dan menjauhinya dengan sejauh-sejauhnya. Selain itu Beliau juga berinteraksi dengan manusia secara professional dan sangat santun, jika ada hal yang baik, beliau ikut berpartisipasi didalamnya dan jika tidak baik, maka beliau lebih memilih untuk mengasingkan diri.

Bukan hanya itu, Beliau juga tidak pernah minum khamar, tidak pernah makan daging yang dipersembahkan kepada berhala, tidak pernah menghadiri perayaan untuk berhala ataupun pesta-pestanya bahkan dari sejak pertumbuhannya beliau sudah menghindari dari sesembahan yang bathil. Lebih dari itu, beliau malah amat membencinya dan tidak dapat menahan dirinya bila mendengar sumpah serapah dengan nama laata dan ‘uzza.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa berkat takdir ilahi lah beliau dapat terjaga dari hal tersebut. Ketika hawa nafsu menggebu-gebu untuk mengintai sebagian kenikmatan duniawi dan rela mengikuti sebagian tradisi tak terpuji, ketika itulah ‘inaayah rabbaniyyah menghalangi sang calon Nabi dari hal-hal tersebut.

Ibnu al-Atsir rohimahulloh meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda: “aku hanya dua kali pernah berkeinginan untuk melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Ahli Jahiliyyah, namun semua itu dihalangi oleh Allah sehingga aku tidak melakukannya, kemudian aku berkeinginan lagi untuk melakukannya hingga Dia Ta’ala memuliakanku dengan risalahNya.

(yang pertama) Suatu malam aku pernah berkata kepada seorang anak yang menggembala kambing bersamaku di puncak Mekkah, ‘maukah kamu mengawasi kambingku sementara aku akan memasuki Mekkah dan bergadang ria seperti yang dilakukan oleh para pemuda tersebut?‘. Kemudian Dia menjawab: ‘ya, aku mau! ‘. Lantas aku pergi keluar hingga saat berada di sisi rumah yang posisinya paling pertama dari Mekkah, aku mendengar suara alunan musik (tabuhan rebana), lalu aku bertanya, ‘ apa gerangan ini?’, mereka menjawab: ‘prosesi pernikahan si fulan dengan si fulanah! ‘. Kemudian aku duduk-duduk untuk mendengarkan, namun Allah melarangku untuk

mendengarkannya dan membuatku tertidur. Saat itu tidurku amat lelap, sehingga hampir saja aku tidak terbangun bila saja terik panas matahari tidak menyadarkanku. Akhirnya, aku kembali menemui temanku yang langsung bertanya kepadaku tentang apa yang aku alami dan akupun memberitahukannya. Kemudian (yang kedua kalinya), aku berkata pada suatu malam yang lain seperti itu juga. Kemudian aku memasuki Mekkah namun aku mengalami hal yang sama seperti malam sebelumnya. Lantas aku bertekad, untuk tidak akan lagi berkeinginan jelek sedikitpun”.

Kemudian, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah , bahwa dia berkata: “ketika Ka’bah direnovasi, Nabi dan ‘Abbas (paman beliau) bekerja mengangkut bebatuan, lalu ‘Abbas berkata kepada Nabi: ‘tarik kainmu hingga sebatas lututmu agar kamu tidak terluka oleh

bebatuan,’ namun setiap beliau mencoba untuk mengangkat kainnya diatas lutut, beliau selalu tersungkur ke tanah, hingga akhirnya posisi beliau terlentang sedangkan kedua mata beliau mengarah ke langit dan pingsan. Dan tidak berapa lama kemudian, beliau baru tersadar, sembari berkata: ‘mana kainku! mana kainku!‘. Lalu beliau mengikat kembali kain tersebut dengan kencang. Dan dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa, ‘ setelah itu, tidak pernah lagi ‘aurat beliau kelihatan‘.

Di kalangan kaumnya, Nabi juga memiliki keistimewaan dalam tabi’at yang baik, akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji. Beliau merupakan orang yang paling utama dari sisi muruu-ah (penjagaan kesucian dan kehormatan diri), paling baik akhlaknya, paling agung dalam bertetangga, paling besar tingkat kelemah lembutannya, paling jujur bicaranya, paling lembut wataknya, paling suci jiwanya, paling dermawan dalam kebajikan, paling baik dalam beramal, paling menepati janji serta paling amanah, sehingga beliau dijuluki oleh kaumnya dengan sebutan al-Amiin (orang yang sangat terpercaya). Hal itu semua lantaran bertemunya kepribadian yang shalih kepada Robbnya dan pekerti yang disenangi masyarakatnya.

Maka dari itu pantaslah dikatakan terhadap beliau sebagaimana yang dikatakan oleh Ummul Mukminin, Khadijah ; “(Nabi adalah) orang yang memikul beban si lemah, memberi nafkah terhadap si papa (orang yang tidak memiliki apa-apa), gemar menjamu tamu dan selalu menolong dalam upaya penegakan segala bentuk kebenaran.’

Demikianlah, pribadi yang baik, akhlaq terpuji dan sifat menawan yang telah melekat pada diri beliau, walaupun beliau belum diangkat menjadi seorang Nabi dan Rosul. Mudah-mudahan kita selalu bisa meniru beliau dalam berbagai lini kehidupan beliau. Amin. Kemudian pada artikel berikutnya, insyaAlloh kita akan mulai membahas kehidupan Nabi , ketika dan setelah beliau diutus menjadi Nabi dan Rosul, maka dari itu nantikan kisah beliau selanjutnya. Wallohu a’lam.

%d blogger menyukai ini: