Ratusan pemrotes turun ke jalan di India setelah Majelis Rendah Parlemen meloloskan Rancangan Undang-Undang kontroversial, Senin kemarin. Rancangan undang-undang tersebut akan memberikan kewarganegaraan kepada minoritas agama imigran dari tiga negara tetangga India, kecuali yang beragama Islam.

Oposisi pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi di dalam parlemen dan pengunjuk rasa di beberapa kota di India mengatakan, rancangan undang-undang  itu mendiskriminasi Muslim dan melanggar konstitusi sekuler India. Para pengunjuk rasa turun dan memblokir jalan-jalan di Assam, membakar ban, dan mengecat dinding dengan slogan-slogan menentang Rancangan undang-undang yang baru diloloskan itu. Assam adalah salah satu negara bagian timur laut terpencil India yang sebelumnya menentang Rancangan undang-undang itu.

Kelompok-kelompok pelajar menyerukan penutupan dari pagi hingga sore hari di empat distrik di negara bagian itu. Toko-toko, bisnis, lembaga pendidikan, dan keuangan juga tutup dan transportasi umum tidak digunakan.

organisasi mahasiswa All Assam Student’s Union (Ol assam staden yunien) Samujjal Bhattacharya mengatakan bahwa mereka  akan melawan dan menentang Rancangan undang-undang tersebut. Bhattacharya menggarisbawahi perlawanan terhadap migran ini muncul karena kekhawatiran. Mereka mempertimbangkan puluhan ribu pemukim dari negara tetangga Bangladesh akan mendapatkan kewarganegaraan.

Di negara bagian Gujarat dan kota timur Kolkata, ratusan orang melakukan protes dan berbaris menentang hukum yang diusulkan oleh Partai Bharatiya Janata. Lebih dari seribu ilmuwan dan cendekiawan India juga menyerukan penarikan segera Rancangan undang-undang tersebut.

Partai-partai oposisi menentang usulan undang-undang yang akan menciptakan jalur hukum untuk memberikan kewarganegaraan India atas dasar agama.

%d blogger menyukai ini: