Pasukan Israel telah melukai 30 wartawan selama protes perbatasan di Gaza. PBB menyatakan, tindakan ini menentang hukum internasional.

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet mengatakan bahwa Tiga puluh wartawan yang meliput protes terluka oleh tentara Israel.

Sejak dimulainya protes pada Maret 2018, total empat wartawan Anadolu Agency terluka, dua di Gaza dan dua di Tepi Barat yang diduduki. Pada periode yang sama, dua jurnalis lain yang bekerja untuk organisasi media lainnya di Gaza terbunuh.

Michele mengatakan pelanggaran berlanjut sejak Resolusi diberlakukan pada 22 Maret tahun ini. Resolusi itu memastikan pertanggungjawaban dan keadilan bagi semua pelanggaran hukum internasional di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerussalem timur.

Pelanggaran serius terhadap hukum hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter internasional terus berlanjut di wilayah Palestina yang diduduki pada periode ini. Ia mengatakan termasuk dalam konteks protes sipil skala besar di Gaza.

Aksi kepulangan akbar, sebagai bentuk protes berkelanjutan di Gaza, dimulai pada 30 Maret 2018. Ratusan ribu demonstran Palestina berkumpul di zona penyangga yang memisahkan Gaza dari Israel, menyerukan pelonggaran blokade Israel atas wilayah tersebut dan pengakuan atas hak para pengungsi Palestina di wilayah yang diduduki Israel.

Israel telah menanggapi demonstrasi dengan kekuatan mematikan. Michele mengatakan Israel menggunakan gas air mata, peluru berlapis karet, meriam air dan perangkat suara, serta secara teratur menembakkan amunisi hidup, terhadap para demonstran. (kiblat.net/admin)

%d blogger menyukai ini: