Raja Yordania Abdullah 2 mengatakan hubungan antara negaranya dan Israel telah terhenti selama dua tahun. Hal ini sebagaimana diungkapkan Raja Abdulloh dalam sebuah wawancara dengan televisi Prancis, senin kemarin.

Pada kesempatan itu, dia kembali menyinggung tentang janji kampanye Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang hendak mencaplok wilayah Tepi Barat jika terpilih kembali dalam pemilu. Raja Abdullah menegaskan hanya solusi dua negara yang dapat menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Sebagian besar negara Eropa, kata dia, juga berpikiran demikian.

Pada November tahun lalu Menteri Luar Negeri Yordania Aiman Safadi mengatakan hubungan antara negaranya dan Israel sedang berada pada titik terendah sepanjang masa. Yordania, kata dia, tidak sepenuhnya menuai keuntungan dari perdamaian dengan Israel.  Ia juga menambahkan bahwa Israel membatasi ekspor Yordania ke Tepi Barat.

Dia pun mengisyaratkan bahwa Israel tidak menghormati pengaturan mengenai situs-situs Kristen dan Islam di Yerussalem. Di bawah perjanjian damai, Israel mengakui Raja Yordania Abdullah sebagai penjaga situs-situs tersebut. Safadi kemudian mengkritik berlanjutnya kendali militer Israel atas Tepi Barat dan langkah-langkah sepihak, termasuk pembangunan permukiman, yang mengakibatkan negara Palestina sulit terbentuk.

https://internasional.republika.co.id

%d blogger menyukai ini: