Ribuan orang terlihat berbaris di jalan-jalan di Ibu Kota Paris, Prancis pada Ahad kemarin. Mereka melakukan aksi unjuk rasa yang bertujuan menentang sikap anti-rasisme dan anti-Islamofobia yang terjadi di negara itu.

Para penyelenggara demonstrasi mengatakan aksi dilakukan sebagai bentuk kepedulian atas serangan yang terjadi di sebuah masjid di bayonne, wilayah barat daya Prancis. Pada dua pekan lalu, ada seorang pria yang diduga terkait dengan gerakan sayap kanan melepaskan tembakan di area rumah ibadah itu, membuat dua pria yang sudah lanjut usia terluka.

Bahkan, demonstrasi kali ini juga dilakukan oleh anggota-anggota dari partai sayap kiri di Prancis. Meski demikian, ada beberapa yang memilih untuk menjauh dari aksi unjuk rasa tersebut karena khawatir bahwa apa yang mereka lakukan bisa mengancam tradisi sekularisme negara.

Bahkan, politisi sayap kanan Marine Le Pen menganggap demonstrasi tersebut digelar oleh kelompok-kelompok Islam. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

Sebelumnya, lebih dari 40 persen Muslim mengatakan bahwa mereka merasakan diskriminasi di Prancis. Hal itu diketahui melalui sebuah survei pada awal November ini.  Selama ini, Islam menjadi agama terbesar kedua di Prancis. Namun, masalah rasisme, hingga diskriminasi kerap berada di sekitar umat Muslim negara Eropa Barat itu. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: