Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi membantah “niat genosida” terhadap etnis Rohingya. Ia mengatakan hal itu saat membela operasi militer Myanmar di pengadilan internasionalDenhaag, Belanda. Myanmar diseret ke pengadilan internasional oleh Gambia atas tindakan keras berdarah militer pada 2017 di mana ribuan orang terbunuh dan sekitar 740 ribu orang Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh.

Berpidato di depan para hakim di Den Haag, Suu Kyi mengakui bahwa tentara Myanmar mungkin menggunakan kekuatan yang tidak proporsional. Namun, menurutnya, itu tidak dapat membuktikan bahwa pihaknya berusaha untuk memusnahkan kelompok minoritas tersebut.

San Suu Kyi mengklaim, tentara Myanmar melakukan operasi militer sebagai tanggapan atas serangan oleh ratusan pejuang Rohingya pada 2017. Meskipun dia mengaku ada kekuatan yang tidak proporsional digunakan oleh anggota dinas dengan alasan tidak bisa membedakan antara pejuang dan warga sipil. Hal ini sebagaimana dikutip media rabu kemarin. San suu kyi juga berdalih bahwa Myanmar sedang melakukan penyelidikan sendiri.

Gambia, yang sebagian besar Muslim, menuduh Myanmar telah melanggar konvensi genosida 1948 dan telah meminta pengadilan untuk mengambil tindakan darurat untuk menghentikan kekerasan lebih lanjut.

Penyelidik PBB tahun lalu menyimpulkan bahwa perlakuan Myanmar terhadap Rohingya sama dengan genosida sementara kelompok hak asasi manusia telah merinci katalog dugaan pelanggaran.

Hakim pengadilan pidana internasional hanya pernah satu kali memutuskan bahwa genosida dilakukan, yakni dalam pembantaian Srebrenica 1995 di Bosnia.

Reputasi internasional Suu Kyi telah ternoda oleh aksi bisunya atas keadaan buruk Rohingya, dan pembelaannya terhadap para jenderal pernah membuatnya menjadi tahanan rumah. Ini membuat sejumlah pihak menuntut agar Hadiah Nobel Perdamaian yang diterimanya ditarik, sementara Kanada mencabut kewarganegaraan kehormatannya. (suaraislam.id/admin)

%d blogger menyukai ini: