Assalamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Pembaca yang budiman pada edisi kali ini kita akan mempelajari  sifat yang perlu dimiliki oleh kita sebagai pendidik sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosululloh diantaranya:

Pertama. Kasih Sayang

Sifat ini wajib dimiliki oleh setiap pendidik. Karenanya, orang yang hatinya keras, tidak layak menjadi pendidik.

Sebab, kasih sayang ini merupakan perasaan sensitif yang secara otomatis bisa mendorong pendidik untuk suka meringankan beban orang yang dididiknya.

Ketika membicarakan sifat-sifat Rasulullah kita akan menyaksikan, bagaimana Beliau memendekkan sholatnya ketika mendengar tangis anak kecil di belakang shaf, karena kasih sayang Beliau kepada ibunya yang merasakan kepedihan tangis anaknya.

Kita juga bisa menyaksikan bagaimana Beliau telah menerima penganiayaan orang-orang musyrik Makkah, dan di Thoif pun Beliau mendapatkan hal yang sama, ketika Beliau didatangi Malaikat penunggu gunung agar diperintahkan untuk menghancur leburkan suku Tsaqif, yang telah menghina dan menganiaya Beliau maka perasaan kasih sayang yang memenuhi qolbu Beliau sang pendidik agung itu pun tergerak, kemudian Beliau mengubah adzab dengan doa untuk mereka, Beliau berdo’a,  “Semoga Alloh melahirkan dari generasi mereka, orang yang menyembah-Nya”.

Anas bin Malik juga pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang begitu menyayangi keluarganya, melebihi Rosululloh

Yang kedua. Sabar

Sabar adalah bekal setiap pendidik. Setiap pendidik yang tidak berbekal kesabaran, ibarat musafir yang melakukan perjalanan tanpa bekal.  Bisa jadi dia akan celaka, atau kembali.

Jika kita menelusuri biografi sang pendidik agung, Nabi kita akan melihat bahwa Beliau merupakan lambang kesabaran yang patut dikibarkan, sabar terhadap penganiayaan kaumnya yang dilakukan terhadap tubuh Beliau juga penyiksaan mereka terhadap jiwa Beliau sampai urusan yang Beliau emban itu nampak jelas di hadapan mereka, dan kecemerlangan tujuan Beliau pun terlihat dengan jelas di depan mata mereka, Maka, kebencian mereka kepada Beliau pun berubah menjadi cinta, dan penganiayaan mereka berubah menjadi kasih saying.

Selanjutnya, yang ketiga. Cerdas

Seorang pendidik harus pandai dan cerdas, fathonah, sehingga ia bisa menganalisa masalah obyek didiknya yang sangat rumit, Jika masalah tersebut baik, ia bisa menjadikannya sebagai cara terbaik bagi obyek didik tersebut, untuk mengembangkannya.

Dan jika masalah tersebut buruk, ia bisa memilih cara terbaik untuk menyelesaikannya. Dia juga bisa menganalisis apa yang bersangkutan dan tidak dengan obyek didiknya.

Dia juga bisa memahami emosi jiwanya dengan melihat raut mukanya. Juga bisa memahami perbedaan-perbedaan pribadi di antara mereka yang begitu rumit. Sebab, tugasnya adalah menyelami relung jiwanya melalui perbedaan-perbedaan tersebut, atau memanfaatkannya dengan maksimal untuk mengarahkan tiap individu pada hal-hal yang bisa diraihnya.

Rosululloh sebagai utusan Alloh telah dihujani oleh Alloh dengan sifat kecerdasan sebagai fitrah asal Beliau Seluruh analisis yang menganalisis kepribadian Rosululloh dan para Ulama ushuluddin telah sepakat, bahwa Rosululloh secara pribadi serta Rosul-Rosul yang lain mempunyai sifat cerdas.

Dan yang keempat. Tawadhu, atau rendah hati.

Seorang pendidik harus bersikap tawadhu kepada obyek didiknya. Sebab, kesombongannya hanya akan menambah jarak antara dirinya dengan obyek didiknya. Dan, ketika jarak tersebut semakin renggang,  maka pengaruhnya akan hilang.

Rasulullah sebagai penghulu para pendidik, adalah orang yang paling tawadhu, hingga begitu tawadhunya sampai ketika Beliau bertemu anak-anak, Beliaulah yang terlebih dulu mengucapkan salam kepada mereka. Hingga ketika salah seorang budak perempuan Madinah meraih tangan Rosululloh- saws- dia pun bisa menggapainya dengan sesuka hatinya. Bahkan, ketika Beliau bertemu seorang lelaki, Beliau menyalaminya, dan tidak melepaskan tangan Beliau sampai lelaki itu melepaskan tangannya. Beliau juga tidak memalingkan mukanya sampai lelaki itu memalingkan mukanya.

Inilah suatu tauladan baik yang dipraktekkan oleh teladan kita, dan contoh yang baik bagi setiap Muslim yang menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi anak-anak kita. Kasih sayang bukan berarti menuruti setiap tuntutan hingga melampaui batas. Semoga Alloh menjadikan kita pendidik-pendidik yang baik bagi anak-anak kita. Amiin

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

 

%d blogger menyukai ini: