Militer myanmar menggelar pengadilan militer terkait kasus dugaan kejahatan dan pembantaian terhadap etnis rohingya di Negara Bagian Rakhine, Selasa kemarin. Mereka yang disidang adalah tentara serta petugas dari resimen yang dikerahkan ke desa Gu Dar Pyin.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis di situs resminya, militer Myanmar mengatakan tentara yang disidangkan di pengadilan militer terlibat dalam ‘kesalahan di Gu Dar Pyin. Tak dipaparkan pula secara mendetail mengenai hal itu.

Media sempat melaporkan setidaknya terdapat lima kuburan massal di Gu Dar Pyin. Informasi tersebut diperoleh setelah media mewawancarai para penyintas di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh. Akan tetapi Myanmar telah membantah laporan tersebut.

Awal bulan ini Gambia telah membawa kasus dugaan genosida yang dilakukan militer Myanmar terhadap etnis Rohingya ke Pengadilan Internasional. Gambia, atas nama Organisasi Kerja Sama Islam, telah mengajukan permohonan sehubungan dengan orang-orang terlantar di Negara Bagian Rakhine.

Gambia tak merinci tentang gugatannya terhadap Myanmar. Negara ini hanya mengisyaratkan bahwa Myanmar dapat diselidiki atas dugaan genosida terhadap Rohingya.

Pemimpin de facto Myanmar aung san suu kyi siap membela negaranya di ICJ.  Dia dijadwalkan memimpin delegasi ke ICJ di Den Haag, Belanda, bulan depan. Myanmar mengaku telah menyiapkan pengacara terkemuka untuk menghadapi gugatan yang diajukan Gambia. Menurut Human Rights Watch gugatan yang diajukan Gambia di adalah pengawasan yudisial pertama atas dugaan pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran permukiman etnis Rohingya di Rakhine. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: