Tamak adalah sikap rakus terhadap harta dunia tanpa melihat halal dan haramnya. Tamak bisa menyebabkan timbulnya sifat dengki, permusuhan, perbuatan keji, dusta, curang, dan bisa menjauhkan pelakunya dari ketaatan.

Diriwayatkan dari Jabir rodhiallohu anhu, Nabi bersabda,

(( اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ. وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإنَّ الشُّحَّ أهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أنْ سَفَكُوا دِمَاءهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ ))

“Takutlah kalian semua kepada kezhaliman karena kezhaliman adalah kegelapan di hari Kiamat. Takutlah kalian semua akan sifat tamak karena sifat tamak telah menghancurkan orang-orang sebelum kalian. Telah membawa mereka menuju penumpahan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan bagi mereka.” (HR. Muslim)

Berkah Dalam Makan Berjamaah

Di antara etika makan yang diajarkan oleh Nabi adalah anjuran makan bersama-sama pada satu piring. Sesungguhnya hal ini merupakan sebab turunnya keberkahan pada makanan tersebut. Oleh karena itu, semakin banyak jumlah orang yang makan maka keberkahan juga akan semakin bertambah.

Diriwayatkan dari Jabir rodhiallohu anhu, Nabi bersabda,

(( طَعَامُ الوَاحِدِ يَكْفِي الاثْنَيْنِ، وَطَعَامُ الاثْنَيْنِ يَكْفِي الأَرْبَعَةَ، وَطَعَامُ الأَرْبَعَة يَكْفِي الثَّمَانِية ))

“Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, makanan empat orang cukup untuk delapan orang.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Anjuran Mengingat Kematian

Orang mukmin yang pintar adalah orang yang selalu ingat kepada kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk akhirat, karena seorang Mukmin itu yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa dia pasti akan mati dan pasti akan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda,

(( كُنْ في الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ )). وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يقول: إِذَا أمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أصْبَحتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.

“Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir.” Lalu Ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Apabila engkau berada di pagi hari janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhori)

Anjuran Berziarah Kubur

Ziarah kubur adalah sebuah amalan yang disyari’atkan. Ziarah kubur dapat mengingatkan kepada kematian, melembutkan hati, membuat air mata menetes, mengambil pelajaran, dan membuat zuhud terhadap dunia. Selain itu, ziarah kubur juga bermanfaat bagi mayit yang diziarahi, karena orang yang berziarah diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada mayit, mendo’akannya, dan memohonkan ampun untuknya. Tetapi, ini khusus untuk orang yang meninggal di atas Islam.

Diriwayatkan dari Buraidah Nabi .

(( كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عن زِيَارَةِ القُبُورِ فَزُوروها ))

“Aku dahulu melarang kalian semua untuk ziarah kubur, maka sekarang ziarahilah kubur-kubur itu.” (HR. Muslim)

Tidak Boleh Mengharapkan Kematian

Seorang muslim tidaklah boleh mengharapkan kematian karena sakit berat yang ia rasakan atau ketika ia mengalami kesengsaraan. Namun pada keadaan-keadaan tertentu dimana seorang muslim menderita dengan penderitaan yang sangat, dia tidak mati tapi juga tidak hidup dengan baik, maka kalaupun dia ingin meminta kematian kepada Allah, hendaknya dia berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Diriwayatkan dari Anas Nabi bersabda,

(( لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أحَدُكُمُ المَوْتَ لِضُرٍّ أصَابَهُ، فَإنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أحْيِني مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيْراً لي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَت الوَفَاةُ خَيراً لي ))

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika ia terpaksa melakukannya maka ia harus berkata, ‘Ya Alloh, hidupkanlah aku jika kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Antara Kebaikan dan Dosa

Kebaikan adalah perbuatan yang menjadikan pelakunya menjadi baik, selalu berupaya mengikuti orang-orang yang berbuat baik, dan taat kepada Allah. Kebaikan adalah apa saja yang dapat menenangkan hati dan menentramkan jiwa, sedangkan keburukan adalah apa saja yang membuat hati menjadi ragu dan tidak tenang.

Diriwayatkan dari An-Nawas bin Sam’an Nabi bersabda,

(( البِرُّ: حُسْنُ الخُلُقِ، وَالإِثْمُ: مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ، وَكَرِهْتَ أنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ ))

“Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang membuat bimbang hatimu, dan engkau tidak suka jika hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR. Muslim)

Meraih Kecintaan Alloh

Seorang Muslim hendaknya berusaha melakukan hal-hal yang bisa membuat dia bisa meraih kecintaan Allah kepada dirinya. Diantara hal-hal yang bisa mendatangkan kecintaan Allah kepada seorang hamba, yaitu hendaklah ia berusaha menjalankan perintah Alloh, menjauhi larangan-Nya, merasa cukup dengan apa yang Alloh berikan kepadanya, dan merahasiakan ibadahnya dari pandangan manusia.

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqosh Nabi bersabda,

(( إنَّ الله يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الغَنِيّ الْخَفِيَّ ))

“Sesungguhnya Allah itu sangat mencintai hamba yang bertaqwa, kaya hati dan merahasiakan ibadahnya dari pandangan manusia.” (HR. Muslim)

%d blogger menyukai ini: