Di saat dunia tengah disibukan dengan wabah virus corona yang telah menginfeksi masyarakat di 152 negara dan menewaskan lebih dari 11 ribu orang, Jalur Gaza seakan tidak terjamah virus tersebut.

Dilansir Al Jazeera pada Kamis kemarin, tidak ada infeksi yang terdeteksi di Jalur Gaza, yang dihuni sekitar dua juta orang dan terkurung dalam blokade Israel dan Mesir. Blokade, yang diberlakukan sejak tahun 2007, pada dasarnya telah memutuskan daerah itu dari seluruh dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, baik Israel atau Mesir mencabut beberapa pembatasan perjalanan, memungkinkan lebih banyak warga Palestina di Gaza untuk keluar, biasanya dengan alasan kemanusiaan dan setelah proses panjang untuk mendapatkan izin yang sulit diperoleh.

Tetapi ketika virus corona menyebar di negara tetangga, pemerintah yang dipimpin oleh Hamas menyadari bahwa mereka harus bertindak cepat, mengingat terbatasnya fasilitas kesehatan dan obat-obatan di Gaza. Siapapun yang memasuki Jalur Gaza, maka akan dikarantina di sebuah sekolah yang berada di dekat perbatasan Rafah di Gaza selatan.

Direktur WHO di Gaza, Abdel nasir Subuh mengatakan bahwa Sistem kesehatan tidak akan mampu menangani banyak. Sehingga yang terbaik adalah tidak ada kasus di gaza.  Soboh mengatakan tidak ada pakaian pelindung yang cukup untuk pekerja medis atau peralatan perawatan intensif dan ventilator, padahal semua alat tersebut sangat penting untuk memerangi wabah corona. (arrahmah.com/admin)

%d blogger menyukai ini: