1. Pertanyaan dari pendengar dengan nomor 08231204…, Ustad, saya ingin bertanya,  apakah Imsak itu ada hadistnya, karena ada orang  yang sahur jam 05.30 sebelum matahari kelihatan? Terimakasih.

Biasanya dikita menetapkan berhenti untuk makan sahur atau imsak itu 10 menit sebelum adzan subuh dengan alasan sebagai kehati-hatian. Tapi sebenarnya tidak ada dalil yang secara khusus menyebutkannya. Karena yang benar adalah kita berhenti makan sahur ketika mulai terbit fajar atau masuk waktu subuh. Jadi ketika adzan mulai berkumandang dan adzan tersebut bertepatan dengan terbitnya fajar di situlah kita dituntut untuk berhenti makan sahur karena telah masuk waktu berpuasa. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Alloh di dalam quran surat al-baqoroh ayat 187 yang berbunyi:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam/ yaitu ketika terbitnya fajar”.

Juga dasarnya adalah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam baihaqi di dalam sunan al-kubro yang berbunyi:

الفَجْرُ فَجْرَانِ

“Fajar ada dua macam :

فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ

Yang Pertama, fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat.

yakni maksudnya adalah fajar shodiq, dimana kita diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk sholat adalah waktu sholat subuh tiba.

Kemudian di dalam hadits tersebut dilanjutkan,

وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ

Dan yang kedua, fajar yang diharamkan untuk shalat, maksudnya adalah dilarang sholat subuh, dan dihalalkan untuk makan. Nah, fajar yang ini disebut dengan fajar kadzib yang muncul sebelum waktu fajar shodiq atau waktu sholat subuh tiba.

Selain itu, ada juga hadits Rasulullah yang sangat jelas menyebutkan bolehnya makan dan minum sampai terdengar adzan subuh berkumandang. Adapun hadits tersebut diriwayatkan oleh imam bukhori dan muslim.

إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

: Bilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.

Disitu disebutkan “حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ  yang artinya sampai kalian mendengar adzan ibnu ummi maktum. Di dalam banyak riwayat disebutkan bilal mengumandangkan adzan di awal sepertiga malam, adapun ibnu ummi maktum mengumandangkan adzan di waktu subuh. Jadi intinya kita boleh sahur sampai adzan subuh tiba. Yakni jika adzan tersebut bertepatan dengan terbitnya fajar shodiq.

  1. Pertanyaan dari saudara Mulyana di Bogor. Pa ustadz, apakah sah sholat witir 3 roka’at langsung dengan satu kali salam? Terimakasih pa ustadz

Boleh-boleh saja kita mengerjakan shalat witir tiga raka’at sekaligus dengan sekali salam, tanpa duduk tahiyyat awal dan salamnya di raka’at terakhir, Akan tetapi yang lebih afdhal atau lebih utama adalah mengerjakan shalat witir dengan dua raka’at terlebih dahulu secara terpisah kemudian salam, lalu ditambah satu raka’at lagi sehingga berjumlah tiga raka’at. Inilah yang lebih afdhal. Akan tetapi jika seseorang mengerjakan shalat witir tiga raka’at sekaligus dengan sekali tahiyat, maka itu juga diperbolehkan.

Adapun hadits mengenai keutamaan shalat malam dengan jumlah dua roka’at sekali salam adalah Berdasarkan keterangan Ibnu Umar bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu? Maka Rasulullah  menjawab:

« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »

Dua rakaat–dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat”. Hadits riwayat bukhori.

Juga sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits dengan periwayat yang sama, di situ disebutkan bahwa.

« صَلاَةُ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ »

“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat–dua rakaat”.

Adapun mengenai shalat witir yang dilaksanakan tiga rokaat sekaligus menjadi satu kali salam juga memiliki dalil yang jelas. Hal ini Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah beliau berkata:

Rasulullah tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya. kemudian shalat 4 rakaat lagi maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat”. Hadits ini diriwayatkan oleh imam muslim. Wallohu a’lam

%d blogger menyukai ini: