1. Pertanyaan dari bapak Suwardi di jakarta timur. Apakah sholat tahajud memakai witir lagi setelah witir waktu sholat tarawih? Terimakasih

 

Pembaca mengenai hal itu, maka tidak boleh kita melaksanakan shalat witir dua kali dalam satu malam.

Hukum mengerjakan shalat witir dua kali dalam satu malam adalah makruh, berdasarkan hadits Rasulullah  yang diriwayatkan oleh imam ahmad, abu dawud, an-nasa’I dan at-tirmidzi. Di situ disebutkan “tidak ada dua witir dalam satu malam.

Hal ini memberi pemahaman bahwa makruh hukumnya dua kali shalat witir atau lebih dalam semalam. Karena mengulang witir dalam satu malam merupakan ibadah yang tidak disyari’atkan. Kita tentunya tidak boleh beribadah kepada Alloh, melainkan dengan syari’at yang sudah ditetapkan oleh Alloh kepada kita semua.

Adapun hadits yang menyebutkan, ”jadikanlah shalat witir sebagai penutup shalat malam kalian” Hadits ini diriwayatkan oleh bukhori dan muslim.

Maka pembaca makna hadits ini mengarah kepada orang yang melakukan shalat malam sedangkan ia belum menjalankan shalat witir sebelumnya.

Shalat witir boleh dikerjakan sebelum tidur atau sesudah tidur. Sebagaimana shalat malam juga demikian. Nabi  bersabda:

“Barangsiapa merasa khawatir tidak bisa bangun pada akhir malam,  hendaklah dia mengerjakan shalat witir pada awal malam yakni sebelum tidur. Serta, barangsiapa mampu bangun pada akhir malam, hendaklah ia berwitir pada akhir malam”.

Hadits riwayat muslim.

  1. Pertanyaan dari nomor 08581128xxxxx. Pa ustadz di tempat saya shalat tarawih 23 roka’at. Saya ingin mengerjakannya 11 roka’at. Lalu saya tunda 8 roka’at baru kemudian mengikuti delapan rokaat berikutnya. Boleh nggak saya Cuma ikut imam 8 rokaat dan witir 3 rokaat sajah. Mana yang lebih baik pa ustadz?

 

Pendengar yang dirahmati Alloh Yang sesuai dengan sunnah adalah dengan tetap mengikuti imam meski ia shalat 23 rakaat. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam tirmidzi, Ahmad dan ibnu Majah yang berbunyi,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

 “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam atau sholat malam satu malam penuh”.

Dalam riwayat lain dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah  bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ

“Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya”.

Maka yang paling afdhal bagi seorang ma’mum adalah mengikuti imam sampai imam selesai. Baik ia shalat 11 rakaat maupun 23 rakaat, atau jumlah rakaat yang lain. Inilah yang paling baik.

Selain itu pembaca  shalat tarawih 23 rakaat pernah dilakukan oleh Umar dan sahabat yang lain, Ini bukanlah keburukan, bukan pula kebid’ahan. Bahkan shalat tarawih 23 rakaat adalah sunnah Khulafa Ar Rasyidin. Dan nabi  pun tidak membatasi jumlah shalat malam dengan batasan tertentu, Rasulullah hanya mengatakan jumlah rokaat dalam satu kali salam.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan bukhori dan muslim.

 “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat Jika engkau khawatir akan datangnya fajar maka shalatlah 1 rakaat agar jumlah rakaatnya ganjil”

 

Namun memang lebih afdhal jika imam mengerjakan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat atau 13 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat. Karena inilah yang paling sering dipraktekan Rasulullah pada shalat malamnya. Alasan lain, karena shalat tarawih 11 atau 13 rakaat lebih sesuai dengan kondisi kebanyakan orang. Yakni tidak memberatkan jamaah yang mengikutinya. Apalagi banyak diantaranya para orang tua yang tidak kuat melakukan shalat terlalu lama.

Namun bila ada yang melakukannya lebih dari itu, atau kurang dari itu, tidak masalah. Karena perkara rakaat tarawih adalah perkara yang longgar.

Dan perlu diperhatikan juga, shalat tarawih yang dibahas adalah shalat yang tidak ngebut, tidak cepat-cepat dan masih thumaninah. Oleh karena itu, carilah masjid yang melaksanakan shalat tarawih dengan tumaninah dan tenang. Karena banyak kita dapati shalat tarawih dengan terburu-buru, sehingga dikhawatirkan shalat kita tidak diterima karena tidak ada thumaninah yang termasuk rukun sholat.

%d blogger menyukai ini: