Manusia diciptakan oleh Alloh memiliki tujuan yang agung dan mulia, yaitu beribadah kepada Alloh semata. Manusia tidak diciptakan untuk hidup berhura-hura atau berpesta pora demi menikmati kesenangan dan keindahan dunia yang semu lagi menipu. Dari sini tidaklah berlaku slogan yang digembar-gemborkan oleh sebagian pemuda dan pemudi pada masa kini, “Masa muda berfoya-foya, sudah tua hidup bahagia dan mati masuk surga.” Manusia tidak pula diciptakan untuk bermain-main dan bersenda gurau tanpa diperintah atau dilarang serta dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh . Namun mereka diciptakan supaya beribadah kepada Alloh semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Alloh berfirman:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat ayat 56)

Ibnu Katsir berkata, “Ibadah kepada-Nya adalah menaatinya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat agama Islam. Karena makna Islam adalah menyerahkan diri kepada Alloh Ta’ala yang mengandung puncak ketundukan, kerendahan diri, dan kepasrahan.

Beliau juga berkata terkait dengan tafsir ayat ini, makna ayat ini, bahwa Alloh menciptakan makhluk agar mereka menyembah-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, siapa yang menaati-Nya, maka Dia membalasnya dengan balasan paling sempurna, dan sebaliknya siapa yang mendurhakai-Nya, maka Dia menyiksanya dengan siksa yang paling keras. Dia mengabarkan bahwa Dia tidak membutuhkan mereka, justru merekalah yang memerlukan-Nya dalam segala keadaan mereka, dia adalah pencipta dan pemberi rezeki mereka.

 

Realita di sebagian kaum muslimin, mereka hanya membatasi ruang lingkup ibadah terbatas pada aktivitas yang dilakukan di dalam masjid saja. Tentunya pemahaman mereka tidak tepat. Agar kita memahami ruang lingkup ibadah secara benar, seyogyanya kita mengetahui definisi ibadah yang telah dipaparkan oleh para ulama.

Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi definisi dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

  1. Ibadah adalah taat kepada Alloh dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rosul-Nya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Alloh , yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
  3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Alloh , baik berupa ucapan atau perbuatan, yang nampak maupun yang tersembunyi. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Dari keterangan definisi point yang ketiga ini maka kita bisa membagi ibadah menjadi tiga; ibadah hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan. Maka shalat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, memanjatkan do’a, berdzikir, membaca Al Qur’an dan lain sebagainya adalah termasuk bagian dari ibadah. Begitu pula rasa cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya, takut kepada Alloh, inabah (kembali taat) kepada-Nya, memurnikan agama (amal ketaatan) hanya untuk-Nya, bersabar terhadap keputusan (takdir)-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, merasa ridha terhadap qadha/takdir-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat (kasih sayang)-Nya, merasa takut dari siksa-Nya dan lain sebagainya itu semua juga termasuk bagian dari ibadah kepada Allah.

 

Kehidupan manusia di muka bumi ini begitu singkat sedangkan kehidupan akhirat membutuhkan waktu perjalanan yang sangat panjang lagi melelahkan. Dunia tempat bercocok tanam sedangkan akhirat tempat memanen. Dunia adalah ladang bagi manusia untuk beribadah sedangkan akhirat adalah ladang bagi manusia menemui balasan. Manusia yang beriman dan beramal sholih dalam kehidupan dunia, niscaya dia akan memperoleh balasan surga dari Alloh . Manusia yang durhaka akan memperoleh penderitaan dan kesengsaraan yang tiada tandingannya.

Alloh berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para Malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kalian ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. an-Nahl ayat 32)

Kenikmatan yang diperoleh orang yang beriman dan beramal sholih tidak hanya di akhirat saja, di kehidupan dunia ini mereka merasakan ketentraman, kedamaian, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Kenikmatan tersebut bukan diraih karena harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, fisik yang tampan atau cantik, namun keimanan dan amal sholih yang dilakukan.

 

Alloh berfirman:

“Barang siapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl ayat 97)

Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki kecuali ibadah kepada Alloh semata. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Alloh sebagai Robb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Alloh saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain.”

Wallahu A’lam

%d blogger menyukai ini: