Di sebuah lapangan berlumpur di Myanmar barat, ratusan kontainer yang dikirim dari China mangkrak. Ratusan kontainer berwarna abu-abu itu dikirim dua tahun lalu, dan rencananya digunakan untuk membangun perumahan yang cepat dan murah bagi pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh.

Deretan kontainer di dekat kota Maungdaw, Rakhine menjadi saksi bisu atas gagalnya repatriasi atau pemulangan kembali pengungsi Rohingya dari Bangladesh. China juga melakukan kunjungan ke kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Hal itu termasuk menyewa truk untuk membawa pulang pengungsi Rohingya, dan membujuk mereka dengan uang tunai. Namun, semua upaya yang dilakukan China telah sia-sia.

Seorang pengusaha setempat yang bertugas merakit kontainer-kontainer dari China mengaku bahwa tidak ada gunanya dia melanjutkan pekerjaan itu. Selama dua tahun belum ada pengungsi Rohingya yang tinggal di rumah-rumah kontainer tersebut.

Upaya besar terakhir Beijing untuk memulai repatriasi Rohingya adalah pada Agustus tahun lalu.Tepatnya setelah Myanmar menyusun daftar 3 ribu warga Rohingya yang setuju untuk kembali ke kampung halaman mereka di Rakhine. Namun, upaya tersebut gagal lagi karena pengungsi Rohingya yang terdaftar enggan pulang ke Myanmar.

https://internasional.republika.co.id

%d blogger menyukai ini: