Seorang wali tidaklah maksum sebagaimana seorang nabi. Dan bukanlah syarat seorang wali dia harus ma’sum tidak pernah berbuat salah, dan tidak pula dia harus menguasai seluruh ilmu syari’at. Bahkan boleh baginya tidak mengetahui sebagian syari’at atau masih samar baginya sebagian perkara agama.

Oleh karena itu tidak wajib bagi manusia untuk mengimani seluruh apa yang dikatakan oleh seorang wali Alloh karena dia bukanlah seorang nabi, tetapi seluruh yang dikatakannya dikembalikan kepada ajaran Muhammad . Jika sesuai, maka perkataannya diterima dan jika tidak, maka ditolak. Jika tidak diketahui apakah sesuai atau tidak dengan ajaran Nabi maka tawaquf. Dan inilah sikap yang benar kepada wali Alloh.

Adapun sikap yang salah kepada wali Alloh yaitu membenarkan semua apa yang diucapkan dan yang dilakukannya, atau sebaliknya jika melihat dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyelisihi syari’at maka langsung mengeluarkan dia dari kewaliannya.

Umar bin Al-Khottob adalah contoh seorang wali Alloh, yang Rosululloh bersabda tentangnya, “Pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang muhaddatsun yakni yang mendapatkan sejenis ilham dari Alloh. Kalaupun ada di kalangan umatku satu orang, maka dia adalah Umar. [HR Bukhori dan Muslim]

Rosululloh juga bersabda, “Kalaulah ada nabi setelahku maka dia adalah Umar. [HR At-Thirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani]

Hadits ini jelas menunjukan bahwasanya Umar adalah seorang wali Alloh, bahkan beliau mendapatkan ilham dari Alloh. Selain itu beliau pernah melakukan hal-hal yang ajaib sebagaimana beliau pernah mengutus sebuah pasukan dan beliau mengangkat seorang pemuda yang bernama Sariyah untuk memimpin pasukan tersebut. Tatkala Umar sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :”Wahai Sariyah, gunung!, wahai Sariyah, gunung!”. Lalu utusan pasukan tersebut menemui Umar dan berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan : “Wahai Sariyah, gunung!”, lalu kami menyandarkan punggung-punggung kami ke gunung kemudian Alloh memenangkan kami”. [HR Bukhori dan Muslim]

Beliau juga sangat ditakuti oleh Syaitan sebagaimana sabda Nabi kepada Umar,

“Wahai Ibnul Khotthob, -demi Yang jiwaku berada di tanganNya- tidaklah syaitan bertemu dengan engkau di jalan manapun kecuali ia mencari jalan yang lain” [HR Bukhari Muslim]

Namun hal ini tidak menunjukan bahwa Umar harus ma’sum terjaga dari kesalahan. Karena ada beberapa kesalahan yang pernah beliau lakukan, diantaranya:

Pertama; Yaitu Nabi berumroh pada tahun ke enam Hijroh bersama sekitar 1400 kaum muslimin –mereka itu adalah yang berbai’at di bawah pohon- dan Nabi telah mengadakan perjanjian damai yakni perjanjian Hudaibiyah dengan kaum musyrikin setelah melalui perundingan dengan kaum musrikin. Keputusan perundingan tersebut adalah Nabi dan kaum mukminin kembali ke Madinah pada tahun ini dan akan berumroh pada tahun yang akan datang. Dan Nabi memberi beberapa syarat terhadap mereka yang dalam syarat-syarat tersebut ada tekanan kepada kaum muslimin secara dzohir, sehingga hal itu memberatkan kebanyakan kaum muslimin, sedangkan Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui dengan maslahat yang ada di balik itu.

Umar radhiyallohu ‘anhu termasuk orang yang tidak setuju dengan hal itu, lalu berkata kepada Nabi : “Wahai Rosululloh, bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan?”, maka Nabi menjawab: “Benar”, lalu Umar berkata lagi: “Bukankah orang-orang yang terbunuh diantara kita masuk ke dalam surga dan orang-orang yang terbunuh di antara mereka masuk ke dalam neraka?”, Nabi menjawab: “Benar”. Umar berkata: “Kenapa kita bersikap merendah pada agama kita?”, Nabi berkata: “Aku adalah Rosululloh dan Alloh adalah penolongku dan aku bukanlah orang yang bermaksiat kepadanya.”.

Umar berkata: “Bukankah engkau berkata kepada kami bahwa kita akan mendatangi baitulloh dan berthowaf?”, Nabi berkata: “Benar”. Nabi berkata lagi: “Apakah aku mengatakan kepadamu sesungguhnya engkau akan mendatanginya pada tahun ini?”, Umar berkata: “Tidak”, Nabi berkata: “Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan berthowaf.”

Umar pun mendatangi Abu Bakar dan berkata kepadanya sebagaimana perkataannya kepada Rosululloh. Dan Abu Bakar pun menjawab sebagaimana jawaban Rosululloh , padahal dia tidak mendengar jawaban Rosululloh kepada Umar. Dan Abu Bakar adalah orang yang lebih sering sesuai dengan Alloh dan Rosul-Nya dari pada Umar , dan Umar mengakui kesalahannya dan berkata: “Aku benar-benar akan mengamalkannya” [HR Bukhori]

Kedua; Ketika Nabi wafat, Umar mengingkari kematian Nabi . Namun tatkala Abu Bakar berkata: “Sesungguhnya dia telah wafat”, maka Umar pun menerimanya. [HR Bukhori]

Ketiga; Ketika Abu Bakar memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, maka Umar berkata kepada Abu Bakar : “Bagaimana bisa kita memerangi manusia, sedangkan Rosululloh bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan aku adalah Rosululloh. Apabila mereka mengakui hal ini maka terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka, kecuali dengan haknya””, maka Abu Bakar berkata: “Bukanlah Rosululloh bersabda “kecuali dengan haknya”?, sesungguhnya zakat termasuk haknya. Demi Alloh kalau mereka itu menolak untuk membayar zakat kepadaku yang mereka membayarnya kepada Rosululloh maka aku akan memerangi mereka karena ketidakmauan mereka”. Berkata Umar : “Demi Alloh tidaklah ada, kecuali aku melihat Alloh telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, maka aku mengetahui bahwasanya dia adalah benar” [Riwayat Bukhori]

Faidah yang bisa diambil dari pemaparan ini adalah:

Pertama; Seorang wali tidak ma’sum, bisa berbuat salah, bahkan berkali-kali sebagaimana Umar yang salah berkali-kali.

Kedua; Seorang wali bisa memiliki karomah sebagaimana Umar yang mendapat ilham dari Alloh ta’ala.

Ketiga; Tidak berarti seseorang yang mendapat karomah berarti lebih mulia daripada wali Alloh yang tidak ada karomahnya. Sebagaimana Abu Bakar jelas lebih mulia daripada Umar , namun dia tidak mendapatkan ilham dari Alloh ta’ala dan tidak memiliki karomah-karomah sebagaimana yang dimiliki oleh Umar.

Keempat; Seorang wali tetap harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Alloh ta’ala dan Rosul-Nya dan menjauhi larangan-larangan Alloh ta’ala dan Rosul-Nya. Sebagaimana Umar yang tetap melaksanakan perintah Alloh ta’ala dan RasulNya

Kelima; Walaupun seorang wali, tapi perkataan dan perbuatannya harus ditimbang dengan Al-Kitab dan Sunnah yang ma’sum. Sebagaimana ucapan Umar dikembalikan atau ditimbang oleh Abu Bakar dengan Sunnah Nabi.

Keenam; Seorang wali yang telah jelas bahwasanya perkataan atau perbuatannya menyelisihi Sunnah Nabi, maka dia harus kembali kepada kebenaran. Dan dia tidak menentangnya. Sebagaimana Umar , beliau tidak membantah Abu Bakar dengan berkata : ”Tapi saya kan wali, saya kan mendapat ilham dari Alloh, saya kan dijamin masuk surga, dan kalian harus menerima perkataan saya.”

Ketujuh; Seorang wali harus mematuhi syari’at Muhammad . Para Nabi saja kalau hidup sekarang harus mengikuti syari’at Muhammad apalagi para wali. Karena jelas para Nabi lebih bertaqwa daripada para wali dari selain Nabi. Ibnu Mas’ud berkata : “Tidaklah Alloh mengutus seorang nabipun kecuali Alloh mengambil perjanjiannya, jika Muhammad telah diutus dan nabi tersebut masih hidup maka nabi tersebut harus benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya. Dan Alloh memerintah Nabi tersebut untuk mengambil perjanjian kepada umatnya kalau Muhammad telah diutus dan mereka umat nabi tersebut masih hidup maka mereka akan benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya.”

Kedelapan; Seorang wali tidak boleh menyombongkan dirinya dengan mengaku-ngaku bahwa dia adalah wali sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul kitab yang mereka mengaku bahwa mereka adalah wali-wali Alloh. Alloh berfirman :

Dan janganlah kalian menyatakan diri-diri kalian suci. Dia Alloh yang lebih mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (QS. An-Najm : 32)

Orang yang mengaku dirinya adalah wali maka dia telah berbuat maksiat kepada Alloh ta’ala karena telah melanggar larangan Alloh ta’ala ini. Dan orang yang bermaksiat tidak pantas disebut wali Alloh.

Kesembilan; Dan juga bukan termasuk syarat sebagai wali Alloh yaitu dia harus memiliki karomah. Namun karomah merupakan tambahan kenikmatan yang Alloh berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari kalangan para wali-Nya.

Kesepuluh; Dan wali-wali Alloh tidak memiliki ciri-ciri yang khusus pada perkara-perkara mubah yang bisa membedakannya dengan manusia yang lain. Pakaiannya sama, rambutnya sama, dan yang lainnya juga sama. Ciri-ciri wali tidaklah kembali pada perkara-perkara dunia, namun ciri-ciri wali kembali pada perkara-perkara akhirat. Oleh karena itu jelas kesalahan sebagian orang menyangka bahwa ahlu suffah telah mencapai derajat kewalian karena sekedar sifat mereka yang miskin dan kumuh, demikian juga sebagian orang yang menyangka bahwa ciri-ciri wali adalah orang yang memakai sorban, atau memakai tongkat, atau membawa selendang hijau, atau ciri-ciri yang lainnya. Wallohu A’lam..

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: