Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin menyampaikan bahwa sebagian umat Islam merasa terkena tuduhan radikalisme dan intoleransi. Tuduhan tersebut terasa menyakitkan bagi umat Islam, padahal menurutnya, kalau umat Islam tidak toleransi tentu tidak akan ada stabilitas dan kerukunan di Indonesia.

Din menegaskan bahwa umat Islam adalah kelompok yang paling toleran. Sebagai buktinya menurut Din Syamsudin adalah dengan adanya kesultanan-kesultanan yang jumlahnya sekitar 70-an. Kesultanan tersebut ikhlas bergabung untuk mendukung dan berintegrasi dengan negara baru bernama Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Hal ini sebagaimana diungkapkan Din kepada media usai Rapat Pleno Wantim MUI ke-44 di Gedung MUI Pusat, Rabu kemarin.

Ia juga mengingatkan, fungsi Kementerian Agama untuk membangun moralitas bangsa dan mengembangkan keberagamaan ke arah yang positif. Kemenag juga berfungsi untuk menjaga dan meningkatkan kerukunan serta kualitas keagamaan.

Din juga menyampaikan bahwa hendaknya Kemenag jangan belok menjadi anti radikalisme, bila Kemenag mendapatkan tugas menjadi anti radikalisme maka seolah-olah umat beragama yang radikal. Din mengingatkan, boleh saja anti radikalisme tapi jangan hanya anti radikalisme keagamaan. Tapi tidak mempedulikan radikalisme ekonomi dan radikalisme politik.

Din menegaskan, kelompok dan paham yang anti Pancasila harus ditolak tapi tidak hanya paham yang bersifat keagamaan. Sebab banyak juga kelompok yang ingin mengembangkan paham-paham lain yang anti Pancasila. Ia mengingatkan bahwa paham kapitalisme dan liberalisme itu anti Pancasila. Bahkan sistem politik di Indonesia bertentangan dengan sila keempat Pancasila. Kemudian sistem ekonomi di Indonesia bertentangan dengan sila kelima Pancasila. (khazanah.republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: