Masyarakat minoritas Uighur China mengkhawatirkan risiko penyebaran virus corona tipe baru di kamp-kamp penahanan di Xinjiang yang ditempati hingga satu juta orang. Meskipun, Xinjiang memang jauh dari pusat penyebaran virus, Provinsi Hubei. Kekhawatiran tersebut diungkap oleh sosiolog Prancis asal Uighur, Dilnur Reyhan seperti dikutip Guardian, Kamis kemarin.

Hingga kini, hanya 55 kasus terinfeksi virus corona yang telah dilaporkan di Xinjiang. Media resmi China mencatat, pasien pertama di sana sepenuhnya pulih dan telah meninggalkan rumah sakit.

Sebuah petisi yang diunggah di Change.org menampung tanda tangan lebih dari 3 ribu orang. Petisi itu menyerukan penutupan kamp untuk mengurangi ancaman yang ditimbulkan karena menahan begitu banyak orang dalam jarak dekat.

Kampanye media sosial pun telah dimulai untuk mendesak Organisasi Kesehatan Dunia mengirim delegasi ke Xinjiang. China dilaporkan telah menahan sekitar satu juta orang Uighur dan etnis minoritas Muslim lainnya di kamp-kamp pengasingan. Namun demikian, sedikit yang diketahui tentang kondisi di dalamnya.

Beijing mengklaim bahwa kamp-kamp tersebut adalah pusat pelatihan kejuruan yang diperlukan untuk memerangi terorisme. Otoritas regional di Xinjiang tidak bersedia menanggapi pertanyaan media tentang tindakan yang diambil untuk mencegah penyebaran virus di kamp.

Hingga Kamis kemarin, angka kematian akibat virus korona tipe baru di China naik tajam menjadi lebih dari 1.300 orang. (republika.co.id/admin)

%d blogger menyukai ini: