Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Muhammad Zaitun Rasmin mengapresiasi masuknya Rancangan Undang Undang perlindungan tokoh agama dan simbol agama. Menurutnya, regulasi perlindungan itu sangat diperlukan.

Zaitun mengatakan, regulasi itu memang sangat diperlukan karena saat pemuka agama memberi pencerahan terhadap umat masih ada saja yang beranggapan berbeda. Menurutnya, masih ada orang yang tidak suka dan menebark kebencian disaat tokoh-tokoh agama menyampaikan kebenaran. Hal ini sebagaimana diungkapkan Zaitun melalui siaran pers yang diterima media rabu kemarin.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah ini juga menegaskan, ada atau tidaknya Rancangan undang-undang perlindungan tokoh agama, para ulama akan tetap selalu menyiarkan ajaran agama. Sebab ulama sudah siap apapun risiko dakwahnya.

Zaitun berharap DPR dan pemerintah melibatkan ormas Islam dalam membahas poin-poin atau pasal-pasal undang-undang tersebut serta melibatkan tokoh-tokoh untuk mendapatkan masukan.

Diketahui, DPR melalui Badan Legislasi pada pekan lalu telah menetapkan beberapa RUU masuk ke dalam prioritas dan akan dituntaskan pada tahun 2020. Dari lima puluh RUU salah satunya RUU tentang perlindungan tokoh agama dan simbol agama atau RUU tentang perlindungan kiai dan guru ngaji.

https://khazanah.republika.co.id/

%d blogger menyukai ini: