Kementrian Agama akan menulis ulang buku-buku pelajaran Agama di sekolah dari Kelas 1 SD sampai kelas 12 SMA. Sebelumnya Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag mengungkapkan sedikitnya ada 155 buku agama yang akan ditulis ulang. Tujuan penulisan ini adalah untuk mencegah penyebaran radikalisme dan intoleransi ditengah masyarakat.

Menanggapi hal itu Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia atau Wasekjen MUI Muhammad Zaitun Rasmin mengatakan, pengaitan intoleransi, radikalisme, dan terorisme dengan buku pelajaran Agama di sekolah formal membutuhkan penelitian. Sementara menurut zaitun rasmin, di MUI belum menemukan hal seperti itu. Hal ini diungkapkan  Zaitun, di Jakarta, Jumat kemarin.

Zaitun menampik adanya konten radikal dalam buku pelajaran Agama di sekolah-sekolah sebagaimana diungkap Dirjen Pendis Kemenag Kamaruddin Amin.  Dia menambahkan bahwa MUI juga pernah bertanya kepada Kamaruddin, tapi Kemenag tidak menyebutkan satupun dari konten buku-buku yang dikatakan terdapat konten radikal. Ketum Wahdah Islamiyah ini memandang, mengaitkan setiap hal dengan radikalisme merupakan sesuatu yang berlebihan.

Menurut Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara ini, sampai saat yang terlibat teroris yang dipandang selama ini intoleran bukan produk-produk dari buku-buku yang ada baik dari diknas maupun kementrian agama.

Menurutnya niat baik untuk melakukan pembenahan, termasuk mengantisipasi, itu sangat baik, tapi yang paling penting jangan sampai menimbulkan kehebohan.  Apalagi ditambah dengan adanya pengadaan buku-buku juga tidak sedikit anggarannya. (suaraislam.id/admin)

%d blogger menyukai ini: