Assalamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh…                                                                            

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ والسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ, أمّا بَعْدُ:

Di Jalan Menuju Masjid

Ketika kita sedang berada di jalan menuju masjid, maka ada juga adab-adab yang perlu ditunaikan, di antaranya adalah sebagai berikut:

Yang pertama Membaca Doa Pergi Ke Masjid.

Berkaitan dengan hal ini, Imam Ibnu Khuzaimah Rohimahulloh meriwayatkan sebuah hadis Nabi Sholloulohu ‘alaihi wa sallam, bahwa Ibnu ‘Abbas Rodiallohu ‘anhuma berkata:

“Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah radhiyallahu ‘anha. Terdengarlah suara mu’adzdzin mengumandangkan adzan. Nabi Sholloulohu ‘alaihi wa sallam pun keluar untuk melaksanakan sholat, dan ketika itu beliau berdo’a:

اللَّهُمَّاجْعَلْفِيقَلْبِينُورًا،وَاجْعَلْفِيلِسَانِينُورًا،وَاجْعَلْفِيسَمْعِينُورًا،وَاجْعَلْفِيبَصَرِينُورًا،وَاجْعَلْخَلْفِينُورًا،وَمِنْأَمَامِينُورًا،وَاجْعَلْمِنْفَوْقِينُورًا،وَمِنْتَحْتِينُورًا،اللَّهُمَّأَعْظِمْلِينُورًا.

“Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, jadikanlah cahaya dalam penglihatanku, jadikanlah cahaya di belakangku, jadikanlah cahaya di depanku, jadikanlah cahaya di atasku, jadikanlah cahaya di bawahku dan besarkanlah cayaha untukku, ya Allah.”

Berkaitan dengan hal ini, Imam al-Qurthubi Rohimahulloh berkata, sebagaimana yang dikutip oleh Syeikh Majdi Abdul Wahhab al-Ahmad dalam kitab Syarah Hisnul Muslim,

“Cahaya-cahaya yang diminta dalam doa Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam ini mungkin bisa diartikan secara lahiriyah. Jadi, beliau memohon kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala semoga Alloh Subhanahu Wa Ta’ala memasang cahaya pada setiap anggota tubuhnya yang kelak bisa beliau gunakan untuk menerangi dalam kegelapan, baik buat diri beliau sendiri dan buat orang-orang yang mengikuti beliau, atau siapa saja yang dikehendaki oleh Alloh dari mereka.”

Menurut Syeikh al-Ahmad, bahwa yang lebih utama makna cahaya ini adalah kiasan untuk ilmu dan hidayah ataupun petunjuk, sebagaimana firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat al-An’am ayat seratus dua pulu dua berikut, A’udzu billahi minasy syaithonir rojim:

وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ

Yang artinya, “Dan Kami berikan cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia.”

Makna yang hakiki ialah bahwa sesungguhnya cahaya itu akan meliputi apa yang dikaitkan kepadanya, dan ini relatif. Cahaya pendengaran mengungkap hal-hal yang didengar, cahay penglihatan mengungkap hal-hal yang dilihat, cahaya hati mengungkap hal-hal yang diketahui, dan cahaya-cahaya anggota tubuh akan memperlihatkan amal-mala ketaatan.”

Berkaitan dengan ini pula, Imam ath-Thoyyibi berkata sebagaimana yang dikutip oleh Syeikh Majdi Abdul Wahhab al-Ahmad dalam kitab Syarah Hisnul Muslim,

“Makna meminta cahaya pada satu persatu untuk anggota tubuh ialah supaya masing-masing memiliki cahaya ma’rifah (ilmu) dan ketaatan-ketaatan serta selain keduanya. Karena setan itu meliputi enam arah dengan membawa waswas. Maka yang dapat menyelamatkan dari kejahatan setan tersebut ialah dengan memiliki cahaya yang memantul keenam arah tersebut.”

Pada dasarnya, Semua itu kembali kepada hidayah, penerangan, dan cahaya kebenaran. Hal ini sudah dijelaskan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya surat an-Nur ayat tiga puluh lima, A’udzu billahi minasy syaithonir rojim:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (35)

Alloh adalah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Alloh, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatudan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya yaitu berlapis-lapis, Alloh membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Yang kedua adalah Berdoa Ketika Keluar Rumah.

Disunnahkan bagi kita untuk membaca doa keluar rumah baik untuk keperluan sholat maupun lainnya. Adapun doanya adalah sebagai berikut:

بِسْمِاللَّهِتَوَكَّلْتُعَلَىاللَّهِلاَحَوْلَوَلاَقُوَّةَإِلاَّبِاللَّهِ

Doa ini merupakan Hadis sohih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Rohimahulloh.

Yang Ketiga Berjalan Menuju Masjid dengan Tenang dan Penuh Wibawa.

Maksudnya berjalan dengan tenang dan tidak usah tergesa-gesa, apalagi sampai berlari-lari. Berkaitan dengan hal ini, Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim Rohimahulloh:

إِذَاأَتَيْتُمْإِلَىالصَّلاَةِفَعَلَيْكُمْبِاالسَّكِيْنَةِفَمَاأَدْرَكْتُمْفَصَلُّوْاوَمَافَاتَكُمْفَأَتِمُّوْا

“Apabila kalian mendatangi sholat maka hendaklah berjalan dengan tenang, dan rakaat yang kalian dapatkan, maka shalatlah dan rakaat yang terlewat, maka sempurnakanlah.”

Yang keempat adalah Datang ke Masjid Lebih Awal.

Pergi ke masjid merupakan kebaikan, dan secara umum kita dianjurkan untuk bersegera untuk menuju kebaikan tersebut. Termasuk dalam hal ini adalah pergi ke masjid, maka hendaknya kita bersegera untuk pergi ke masjid lebih awal, supaya mendapatkan keutamaan sof pertama. Berkaitan dengan hal ini, Rosululloh Sholloulohu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana riwayat Muslim Rohimahulloh:

لَوْيَعْلَمُونَمَافِىالتَّهْجِيرِلاَسْتَبَقُواإِلَيْهِ

“Andaikan mereka mengetahui keutamaan at-tahjir, yaitu datang ke masjid lebih awal niscaya mereka saling berlomba-lomba untuk melakukannya.”

Ust. Umar Muhsin

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: