Klik link http://fajribandung.com/penjelasan-tentang-bidah/

Ah dikit-dikit bid’ah, Amal itu tergantung niatnya bro !!!, mungkin kata-kata ini sering muncul dari para praktisi ibadah yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah (biasa disebut bid’ah). lalu dalil andalannya adalah :

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya…….. ((HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Benarkah pendapat itu ? jelas perkataan diatas adalah perkataan Rasulullah sehingga pasti benar, namun untuk memahami Quran dan hadits, maka kita harus mengikuti Rasulullah dan para sahabat memahaminya, karena bila kita memahaminya mengikuti pemahaman kita sendiri, maka jelas kita akan tersesat.

Maka boleh dikatakan perkataan “Ah dikit-dikit bid’ah, Amal itu tergantung niatnya bro !!!” sepertiga benar. Nah lo kok bisa sepertiga ?

Sebelum penjelasannya dilanjut, pertama-tama mari kita jawab beberapa pertanyaan dibawah ini :

  1. Saya akan sholat shubuh 5 rokaat ah, yang penting niat ikhlas karena Allah.
  2. Saya ngga mau ibadah di masjid, maunya di gereja aja, yang penting niat ikhlas karena Allah.
  3. Saya mau puasa Ramadhannya sampai isya, yang penting niat ikhlas karena Allah.
  4. Saya mau bunuh orang yang lagi sedih, biar ngga sedih lagi, yang penting niatnya baik.
  5. Saya makan daging babi sama minum khamr untuk menjaga kesehatan (padahal masih banyak solusi lain). Kan menjaga kesehatan tubuh itu sebuah kebaikan.
  6. Saya mau jadi rentenir (riba) untungnya buat menolong orang lain, yang penting niatnya baik.
  7. Saya mau merampok atau menjambret hasilnya untuk menghidupi keluarga, kan termasuk sedekah juga, yang penting niatnya baik.
  8. Dll

Kira-kira benarkah sikap seperti itu ? bila kita menjawab sikap diatas itu benar, maka ada yang tidak beres di otak kita, karena jelas sikap diatas itu salah besar tanpa saya harus beritahu salahnya dimana.

Oke, mari kita lanjutkan pembahasan kenapa mengatakan “Amal itu tergantung niatnya” itu sepertiga benar. Mari kita liat haditsnya secara lengkap :

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Syarh/penjelasan:

Imam Bukhari menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya sebagai mukadimah kitabnya, di sana tersirat bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah adalah sia-sia, tidak ada hasil sama sekali baik di dunia maupun di akhirat. Al Mundzir menyebutkan dari Ar Rabi’ bin Khutsaim, ia berkata, “Segala sesuatu yang tidak diniatkan mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka akan sia-sia”.

Abu Abdillah rahimahullah berkata, “Tidak ada hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih banyak, kaya dan dalamnya faidah daripada hadits ini”.

Abdurrahman bin Mahdiy berkata, “Kalau seandainya saya menyusun kitab yang terdiri dari beberapa bab, tentu saya jadikan hadits Umar bin Al Khatthab yang menjelaskan bahwa amal tergantung niat ada dalam setiap bab”.

Mayoritas ulama salaf berpendapat bahwa hadits ini sepertiga Islam. Mengapa demikian?

Menurut Imam Baihaqi, karena tindakan seorang hamba itu terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya, dan niat yang tempatnya di hati adalah salah satu dari tiga hal tersebut dan yang paling utama. Menurut Imam Ahmad adalah, karena ilmu itu berdiri di atas tiga kaidah, di mana semua masalah kembali kepadanya, yaitu:

Pertama, hadits “Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).

Kedua, hadits “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa radd” (Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka amal itu tertolak).

Ketiga, hadits “Al Halaalu bayyin wal haraamu bayyin” (Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).”

Perlu dipahami kaidah fiqih yang disepakati ulama :

  1. bahwa ajaran islam adalah satu paket antara niat, ucapan dan perbuatan, hingga jelas klo cuma dilihat dari niatnya saja maka itu sepertiga benar, bahkan menjadi salah, karena islam tidak bisa hanya dipilih salah satunya saja, karena bila hanya niat tanpa ucapan atau perbuatan, maka itu adalah pemahaman murjiah ( iman itu adanya dihati ) dimana ulama sepakat akan kesesatannya. Sedangkan hanya ucapan dan perbuatan tanpa niat yang lurus karena Allah saja maka itu adalah kesyirikan.
  2. Semua bentuk ritual ibadah adalah haram, kecuali ada dalil yang memerintahkannya, sedangkan semua bentuk muamalah adalah halal kecuali ada dalil yang melarangnya. Jadi jelas bahwa tidak ada dalil yang melarang sholat shubuh 5 rokaat, tapi itu tetaplah haram (karena tidak ada perintahnya), kebalikannya tidak ada dalil yang memerintahkan untuk makan babi, tapi tetaplah haram (karena jelas ada dalil yang melarangnya). Sehingga kalau ada yang berkata, mana dalilnya klo tahlilan itu dilarang, maka kaedah fiqih diatas sudah bisa menjawab.

Jadi jelas, niat adalah tolok ukur suatu amalan; diterima atau tidaknya tergantung niat dan banyaknya pahala yang didapat atau sedikit pun tergantung niat. Niat adalah perkara hati yang urusannya sangat penting, seseorang bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan karena niatnya.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuatkan perumpamaan terhadap kaidah ini dengan hijrah; yaitu barang siapa yang berhijrah dari negeri syirik mengharapkan pahala Allah, ingin bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimba ilmu syari’at agar bisa mengamalkannya, maka berarti ia berada di atas jalan Allah (fa hijratuhuu ilallah wa rasuulih), dan Allah akan memberikan balasan untuknya. Sebaliknya, barang siapa yang berhijrah dengan niat untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia tidak mendapatkan pahala apa-apa, bahkan jika ke arah maksiat, ia akan mendapatkan dosa.

Niat secara istilah adalah keinginan seseorang untuk mengerjakan sesuatu, tempatnya di hati bukan di lisan. Oleh karena itu, tidak dibenarkan melafazkan niat, seperti ketika hendak shalat, hendak wudhu, hendak mandi, dsb.

Menurut para fuqaha’ (ahli fiqh), niat memiliki dua makna:

  1. Tamyiiz (pembeda), hal ini ada dua macam:
    1. Pembeda antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Misalnya antara shalat fardhu dengan shalat sunat, shalat Zhuhur dengan shalat Ashar, puasa wajib dengan puasa sunnah, dst.
    2. Pembeda antara kebiasaan dengan ibadah. Misalnya mandi karena hendak mendinginkan badan dengan mandi karena janabat, menahan diri dari makan untuk kesembuhan dengan menahan diri karena puasa.
  2. Qasd (meniatkan suatu amal “karena apa?” atau “karena siapa?”)

Jadi pemahaman yang benar untuk perkara niat adalah :

  1. Bila sholat shubuh dengan niat ikhlas karena Allah maka itu benar, tapi bila niatnya biar kelihatan sholeh maka itu salah
  2. Bila sholat shubuh 5 rakaat dengan niat ikhlas karena Allah maka itu tetap salah, bila niatnya biar kelihatan sholeh maka itu makin parah salahnya.
  3. Saya mau bekerja yang halal buat menolong orang lain maka itu benar, kalau saya bekerja halal hasilnya untuk judi itu salah.
  4. Saya mau jadi rentenir (riba) untungnya buat menolong orang lain itu tetaplah salah, Saya mau jadi rentenir (riba) untungnya buat main judi maka itu makin parah salahnya.

sebagai renungan buat kita

Seorang muslim yang cerdas seharusnya tidak perlu dipusingkan dengan fatwa mana yang paling benar. Krn bukankah perintah Allah yang PASTI wajibnya (shalat 5 waktu, puasa ramadhan, dll) dan PASTI sunnahnya sudah sangat banyak sehingga kita PASTI tak akan sanggup kerjakan semuanya) lalu buat apa mengerjakan perkara yang belum jelas hukumnya ?

Jangan sampai yang belum jelas hukumnya rajin kita perjuangkan hingga membelanya mati-matian, namun yang sudah pasti wajib dan sunnahnya justru kita tinggalkan.

Semoga rubrik ini bermanfaat buat pembaca.

Wallahu A’lam

oleh : Murawhy Madholin

 

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: