Artikel sebelumnya http://fajribandung.com/apakah-ber-harokah-itu-bidah-syubhat-1/

Syubhat itu juga mudah sekali ditepisnya.
Hadits yang disampaikan itu Shahih, tetapi tidak boleh salah dalam memahami hadits Shahih. Ana punya buku “kumpulan hadits shohih yang disalahfahami”. Dalam manhaj Ahlussunnah telah kita ketahui bahwa sumber agama adalah Al-Qur’an dan Hadits Berdasarkan Pemahaman Para Ulama Salaf (bukan berdasarkan pemahaman kita sendiri).. Mari kita perhatikan bunyi haditsnya..!!

Dari Ubai bin Ka’ab r.a, bahwa ia mendengar seorang pria berkata, “Hai keluarga fulan!” maka Ubay berkata kepadanya, “Gigitlah kemaluan bapakmu!” Ubay mencelanya terang-terangan tanpa memakai bahasa kiasan! Orang itu berkata kepadanya, “Wahai Abul Mundzir (Abu Ubay) engkau bukanlah orang yang suka berkata keji” Ubay berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berbangga-bangga dengan slogan-slogan jahiliyah, maka suruhlah ia menggigit kemaluan ayahnya dan tidak usah pakai bahasa kiasan terhadapnya,” (Shahih, HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [963]).

Dari hadits tersebut, maka para ulama menjelaskan bahwa:
1. Haram hukumnya berbangga dengna nenek moyang dan nasab keterunan, khususnya dengan cara Jahiliyah dan pengagungan yang berlebihan. Allah telah mengabarkan bahwa pada asalnya manusia itu sama. Hanya saja mereka dibedakan kedudukannya dengan ketakwaan
2. Hadits inilah yang dipraktekkan oleh Umar bin Khattab r.a, ia berkata, “Barangsiapa berbangga dengan kabilah maka suruhlah ia menggigit atau mengisap kemaluan nenek moyangnya!” (HR Ibnu Abi Syibah [XV/33/19031]).
3. Kemuliaan seseorang terletak pada apa yang terlahir di dirinyanya bukan pada nasabnya. Sebagaimana dikatakan oleh al-Fadhl bin Abi Thahir, “Seseorang dipandang mulia apabila ia memiliki kemuliaan pada dirinya, kemuliaan seseorang bukanlah terletak pada nasabnya. Tidaklah sama orang-orang yang membangga-banggakan nasabnya dengan orang yang benar-benar memiliki kemuliaan.

Nah , dari sini jelaslah bahwa hadits tersebut tidak melarang untk berorganisasi. Yang dilarang adalah membanggakan suku dan nenek moyangnya.. missal (bangga jika keturunan darah biru, membanggakan suku jawa dan menganggap orang diluar suku jawa adalah rendah dan hina, bangga sebagai anak presiden. dll), Jadi bukan melarang untuk berorganisasi.

Kalau da’I di radio itu menyimpulan tidak boleh berorganisasi, maka ia telah menyelisihi contoh para nabi seperti yang ana jelaskan di tulisan sebelumnya bahwa Rasulullah juga berorganisasi dengan para sahabatnya, bahkan selurun Nabi pun berorganisasi, para nabi Seperti Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Nuh tidak ada yang berdakwah sendiri, mereka juga bersama-sama berdakwah dengan para pengikutnya. Para ulama’, baik ulama salaf maupun ulama zaman sekarang juga berorganisasi. Bahkan Syaikh Al-Albani pun punya organisasi di Yordania, namanya Markaz al-Albani. Belum lagi kalau kita lihat definisi organisasi yang sudah ana jelaskan sebelumnya bahwa yang dimaksud organisasi adalah sekumpulan orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Berarti radio pun termasuk organisasi, sekolah termasuk organisasi.

Mereka melarang organisasi tapi memakai organisasi juga. Kalau orang yang berorganisasi disuruh menggigit kemaluan bapaknya, berarti mereka juga harus menggigit kemaluan bapaknya sendiri, sebab mereka pun berorganisasi dengan mendirikan radio dan yayasan.

Kesimpulannya:
Mari kita kembalikan semua perbedaan pendapat kepada Al-Qur’an dan Hadits, dan jangan sembarangan dalam memahami al-Qur’an dan Hadits. Kembalikanlah pemahaman itu kepada para Sahabat, sebab merekalah orang yang paling mengerti tentang al-Qur’an dan Hadits Nabi.
Harakah/Jama’ah/Organisasi/Yayasan adalah Sunah dan dianjurkan dalam Islam, bukan dilarang.

 

Apakah harokah itu dikategorikan bid’ah karena hizby, benarkah hizbiyah haram dalam islam

Arti dari Hizb adalah kedekatan.
Sedangkan Hizbi/Hizbiyah artinya kedekatan kepada kelompok ternetntu atau membela kelompok/golongan terntentu. (lihat kitab Al-Mu’jam al-Wasit, dan kitab fi ma kuntum Hizballah aw Hizbasy Syaiton, karya abdul Hadi Al-Mishry)

Kata-kata Hizb disebutkan dalam al-Qur’an:
“ Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. (QS. Mujadilah :22).

Hizbullah dalam tafsir Ibnu Katsir adalah Golongan Allah dari kalangan Hamba-hambaNya.
Berdasarkan Ayat tersebut dapat difahami bahwa Hizbullah adalah golongan yang beruntung. Yaitu suatu golongan yang berjuang di jalan Allah) dan Lawan dari Hizbullah adalah Hizbusyaiton (golongan yang berjuang di atas jalan setan)

Allah berfirman: “mereka Itulah Hizbusyaiton. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya Hizbusyaiton Itulah golongan yang merugi.” (QS. Al-Mujadillah(58) : 19)

Berarti hukum asal dari membela sebuah Golongan/Organisasi/Kelompok adalah dianjurkan/diperintahkan. Tergantung Golongan Mana yang kita bela? Apakah golongan yang benar atau salah?

Hizbi/Membela, mencintai dan mendukung kelompok yang benar adalah diperintahkan.. Sedangkan Hizbi/pembelaan yang dilarang oleh para Ulama Ahlussunnah adalah : Jika seseorang fanatic kepada golongannya dengan hawa nafsu, sehingga benar atau salah tetap diikuti tanpa Ilmu, atau bahkan menganggap hanya golongannya yang benar, sedangkan yang lain salah dan sesat alias masuk neraka. Maka ini adalah bentuk Hizbiyah yang haram dan sangat tercela.

Dan Hizbiyah yang tercela ini bukan hanya pada Organisasi, bahkan perorangan pun bisa terjatuh pada sikap Hizbiyah yang dilarang jika ia terlalu fanatic kepada gurunya/ustadznya, sehingga menganggap ustadznya tidak mungkin salah.

Maka jelaslah bagi kita bahwa Hizbiyah adlah suatu sikap, bahkan terkdang orang-orang yang melarang untuk Hizbiyah, ia sendiri justru terjatuh pada sikap hizbiyah yang dilarang.

Kesimpulan:
Membela Organisasi dan Kelompok Dakwah Ahlussunnah adalah termasuk kedalam Hizb yang terpuji (Hizbullah), bukan hizb yang dilarang, Selama kelompok/Organisasi tersebut Istiqomah memegang manhaj Sunah, maka selama itu pula kita harus membelanya dan mendukungnya.

Ana sarankan kepda akhi untuk jangan mudah menerima mentah-mentah perkataan seseorang, karena manusia itu tidak lepas dari kesalahan, sekalipun ia ulama besar, apalagi hanya seorang ustadz yang tidak dikenal keilmuannya di kalangan para Ulama. Adapun tentang masalah anjuran bergabung dengan Organisasi ini telah menjadi pendapat banyak Ulama diantaranya ada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa, ada Juga fatwa dari Syaikh bin Baz, syaikh Solih Fauzan, Syaikh Utsaimin.. mereka semua tanpa ragu membolehkan dan tidak ada yang melarang untuk berorganisasi.

Sebagai catatan akhir, yang masuk dalam permasalahan bid”ah secara syarii (bukan secara bahasa) adalah di masalah ritual ibadah yang diada-adakan dan pemahaman baru dalam agama islam yang menyelisihi pemahaman Rasulullah SAW dan sahabat. Sedangkan harokah bukanlah perkara yang bisa dikategorikan ranah bid’ah secara syarii. Harokah bukanlah ritual ibadah apalagi pemahaman menyimpang dalam agama. hingga hukumnya antara haram, makruh, mubah, sunnah atau wajib (bukan masalah bid’ah atau bukan bid’ah) tergantung kondisi, tujuan dan metodenya.

Klik link http://fajribandung.com/penjelasan-tentang-bidah/

Saudaraku….

Lihatlah secara seksama apa yang sedang terjadi disekitar kita.

Kedzoliman, kemaksiatan, dosa yang dianggap biasa, haram jadi halal, yang halal diharamkan.sunah dianggap bidah, bidah diangaap sunah. Yang salah jadi benar yang benar disalah-salahkan.

Inilah gelombang keterpurukan ruhani yang terus bergulir ditengah-tengah kita bak air bah yang tak bisa dibendung lagi. Oleh karena itu………

Sudah saat nya kita bergerak…..

Sudah waktunya kita bekerja…

Sudah saatnya kita berdakwah…

Mari bergabung bersama radio Fajri Bandung dalam Mega proyek dakwah melalui udara dengan cara mentransferkan sebagian harta Anda kepada kami melalui BANK MUAMALAT no rekening 146-000-1648 a / n PT RADIO SWARA CAKRAWALA SANGKURIANG

“Bersama Fajri Belajar Islam menjadi Mudah, Bersama Fajri Infak Anda Insya Alloh berkah dan terarah” ( Radio fajri 1458 am dan www.fajribandung.com )

%d blogger menyukai ini: